Jurnalis KLY Temukan Kuliner Nusantara di Tengah Piala Dunia 2026
Liputan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat membawa jurnalis KLY Sports, Hery Kurniawan, keliling sejumlah kota untuk meliput pertandingan. Na
Liputan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat membawa jurnalis KLY Sports, Hery Kurniawan, keliling sejumlah kota untuk meliput pertandingan. Namun, di tengah padatnya jadwal, ia justru menemukan obat rindu yang tak terduga: sepiring rendang dan semangkuk soto di sebuah restoran Indonesia di Boston. Perjalanan 15.000 kilometer dari Jakarta ke Negeri Paman Sam seketika terasa lebih hangat.
Kronologi Penemuan Warung Indonesia di Boston
Hery tiba di Boston pada 18 Juni 2026, sehari sebelum laga penyisihan grup yang mempertemukan Brasil dan Portugal. Ia menginap di hotel kawasan Back Bay dan awalnya hanya mengandalkan makanan cepat saji. Rindu masakan Tanah Air mulai menyerang di hari keempat. Melalui grup WhatsApp diaspora Indonesia, ia mendapat rekomendasi “Rumah Rasa Nusantara”, sebuah kedai kecil yang dikelola oleh pasangan asal Yogyakarta, Agus dan Lina, sejak 2019.
“Saya tidak percaya ada warung di ujung jalan yang menyajikan sambal bajak seenak buatan ibu di kampung. Air mata saya hampir menetes saat pertama kali mencicipi,” ungkap Hery melalui sambungan telepon, Sabtu (28/6/2026).
Pemilik restoran menyebut, omzet mereka naik 40% selama gelaran Piala Dunia karena banyak wisatawan dan jurnalis asal Indonesia yang mencari sentuhan rasa rumah. Harga seporsi rawon dibanderol US$14, sementara nasi goreng kambing dijual US$16—sekitar dua kali lipat harga di Jakarta, namun tetap diburu.
Analisis: Kuliner sebagai Diplomasi Budaya
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional diaspora terhadap masakan asal. Menurut Dr. Ratna Sari Dewi, pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia, “Makanan adalah jembatan memori. Kehadiran restoran Indonesia di kota-kota dunia bukan hanya bisnis, tapi juga soft power diplomasi yang memperkenalkan Indonesia lewat cita rasa. Ketika perantau menemukan soto atau gado-gado, mereka tidak hanya mengisi perut, tetapi juga merawat identitas.”
| Menu | Harga di Boston (US$) | Harga di Jakarta (Rp) | Ekuivalen Rupiah (Rp 16.000/US$) |
|---|---|---|---|
| Rendang | 15 | 35.000 | 240.000 |
| Soto Betawi | 13 | 28.000 | 208.000 |
| Es Cendol | 7 | 12.000 | 112.000 |
Dengan margin harga mencapai 6–9 kali lipat dalam ekuivalen rupiah, terlihat bahwa kerinduan terhadap cita rasa asli bersedia dibayar mahal oleh para perantau. Ini membuka peluang ekspansi bagi pelaku kuliner Indonesia, terutama di kota-kota tujuan imigran dan event global.
Kehadiran Warung Indonesia di Mata Tuan Rumah
Tidak hanya diaspora, warga lokal Amerika juga mulai penasaran. Di meja sudut, seorang ibu dan anak asal Boston yang sedang menikmati ayam taliwang mengaku baru pertama kali mencicipi masakan Indonesia. “It’s spicy but addictive, I love the coconut base,” katanya. Interaksi ini menunjukkan bahwa diplomasi kuliner mampu membuka dialog antarbudaya. Apalagi, Rumah Rasa Nusantara juga menyediakan kelas memasak dadakan bagi pengunjung yang ingin belajar membuat sambal matah.
Bagi Hery, pengalaman ini menjadi cerita yang akan selalu dikenang dalam setiap liputannya. “Saya jadi lebih semangat bekerja. Rasanya, setelah kenyang dengan rendang, tulisan pun mengalir lancar,” kelakarnya.
[SOCIAL_TWEET]: Jurnalis KLY temukan warung rendang di Boston selama liputan #PialaDunia2026. Begini cerita melepas rindu sambil menulis berita. 🍛⚽️ #KulinerIndonesia #WorldCup2026[SOCIAL_TG]: ✈️ Liputan Piala Dunia bikin kangen nasi Padang? Jurnalis KLY nemu warung Indonesia di Boston yang jual rendang, soto, dan es cendol. Harganya? Setara Rp240 ribuan! Tapi rindu tetap terobati. 🇮🇩🍲
Comments (0)