Jakarta — Prabowo Hadiahkan Angklung ke Modi, Simbol Persahabatan
Selasa siang di Istana Merdeka, 7 Juli 2026, terasa berbeda. Di tengah protokol ketat dan jadwal padat kunjungan kenegaraan, Presiden Prabowo Subianto meny
Selasa siang di Istana Merdeka, 7 Juli 2026, terasa berbeda. Di tengah protokol ketat dan jadwal padat kunjungan kenegaraan, Presiden Prabowo Subianto menyelipkan sebuah momen yang hening justru karena kejujurannya. Ia menyerahkan satu set angklung kayu hitam kepada Perdana Menteri India, Narendra Modi. Tidak ada pidato panjang. Hanya anggukan kecil Modi yang tersenyum lebar begitu menyadari bahwa alat musik itu bisa ia mainkan sendiri nanti—bersama orang-orang yang ia cintai.
“Saya lihat Bapak PM penasaran sejak awal, makanya saya siapkan oleh-oleh yang bisa dia mainkan, bukan cuma dipajang,” ujar Prabowo, suaranya renyah. Modi, yang memang dikenal menyukai instrumen tradisional dari berbagai negara, membalas dengan canda kecil, “Saya harus segera mencari guru angklung di New Delhi.” Tawa kecil merekah di ruangan itu.
Namun di balik tawa itu, ada kisah personal yang lebih dalam. Menurut Rani Kusumastuti, pengrajin angklung dari Saung Angklung Udjo yang turut membuat set itu, pemilihan bahan dan nada dilakukan dengan pesan khusus. “Kami diminta membuat angklung dengan 12 nada pentatonik Sunda asli, tetapi dengan finishing yang hangat—tidak mengilap mewah. Katanya, Bapak Presiden bilang, persahabatan itu tidak boleh silau, harus terasa di tangan,” tutur Rani, Selasa malam. Pesan itu disampaikan melalui ajudan Prabowo hanya empat hari sebelum kunjungan Modi.
Proses pembuatannya pun menjadi cerita tersendiri. Rani bekerja bersama tiga pengrajin senior lain, memilih bambu berusia lima hingga tujuh tahun yang dikeringkan alami selama musim kemarau panjang 2025. “Bambu dari kebun Ciparay ini kami pilih karena seratnya rapat, suaranya bulat. Kami sampai lembur tiga malam,” imbuhnya, mata tuanya berbinar. Setiap tabung diukir dengan motif kawung sederhana, simbol keselarasan yang juga muncul di kain tradisional India. Sebuah upaya halus untuk menyambungkan dua budaya.
Diplomasi Bisu yang Berbunyi
Diplomasi budaya kerap dianggap pelengkap. Namun di tangan pemimpin, benda sekecil angklung bisa menjadi pesan strategis. “Hadiah personal seperti ini menciptakan ingatan emosional yang jauh lebih kuat daripada nota kesepahaman setebal apa pun,” kata Dr. Andini Widyasari, pengamat hubungan internasional dari Universitas Parahyangan yang sering meneliti diplomasi Indonesia era baru. “PM Modi akan mengingat Prabowo bukan sebagai mitra dagang, tetapi sebagai sahabat yang memberinya sesuatu untuk dimainkan bersama cucunya.”
Angklung, yang pada 2010 diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, memang memiliki sifat unik: ia hanya berbunyi harmonis jika dimainkan bersama. Tidak bisa seorang diri. Dalam konteks hubungan bilateral RI-India yang sedang memasuki babak baru kerja sama digital dan energi hijau, pesan ‘kita harus berkolaborasi’ tersampaikan tanpa perlu kata.
Bukan Hadiah Biasa: Perbandingan Cendera Mata Diplomasi Indonesia
Untuk memahami bobot pemberian angklung ini, kita bisa membandingkannya dengan hadiah kenegaraan Indonesia sebelumnya kepada pemimpin dunia:
| Tahun | Penerima | Hadiah | Kesan | Makna |
|---|---|---|---|---|
| 2015 | Presiden Tiongkok Xi Jinping | Wayang kulit Arjuna | Protokoler, formal | Penghormatan budaya Jawa |
| 2017 | Raja Salman dari Arab Saudi | Keris emas ukir Madura | Mewah, eksklusif | Keberanian dan kehormatan |
| 2022 | Presiden AS Joe Biden | Kain tenun Sumba | Personal, hangat | Keberagaman dan ketekunan |
| 2026 | PM India Narendra Modi | Satu set angklung kayu hitam | Akar rumput, interaktif | Persahabatan dan kolaborasi |
Dari tabel di atas, angklung berbeda: ia mengundang penerimanya untuk melakukan sesuatu, bukan sekadar menyimpannya dalam etalase. Modi tidak hanya menerima benda; ia mendapatkan pengalaman.
Bunyi yang Akan Terus Bergema
Setelah sesi foto, Modi sempat memegang satu tabung angklung dan menggoyangkannya perlahan. Bunyi “klung” yang pendek membuatnya tertawa kecil lagi. Momen singkat itu luput dari banyak kamera, tetapi bagi para staf yang berdiri di sisi, itulah puncak diplomasi yang paling jujur.
Persahabatan, seperti angklung, tidak bisa berbunyi indah hanya dari satu sisi. Harus ada yang menggoyang, dan ada yang merespons. Senja itu, di Istana Merdeka, kedua pemimpin baru saja memulai irama itu.
Comments (0)