Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

JAKARTA — Polisi Diminta Bertindak Cepat Sebelum Pencurian Besi Tuai Korban Jiwa

Di sudut kota yang tak pernah tidur, ada kisah-kisah yang luput dari sorotan kamera—tentang besi-besi yang hilang dicuri, meninggalkan lubang menganga yang

Jul 08, 2026 - 15:03
0 0
JAKARTA — Polisi Diminta Bertindak Cepat Sebelum Pencurian Besi Tuai Korban Jiwa
Di sudut kota yang tak pernah tidur, ada kisah-kisah yang luput dari sorotan kamera—tentang besi-besi yang hilang dicuri, meninggalkan lubang menganga yang siap menelan siapa pun yang lengah. Bukan sekadar perkara kehilangan material, ini adalah bom waktu yang mengancam keselamatan warga setiap harinya.

Jerat Maut di Balik Logam yang Raib

Ketika Rina (34), seorang ibu rumah tangga di Jakarta Timur, harus memutar arah lebih jauh demi mengantar anaknya ke sekolah, ia tak pernah menyangka bahwa rute alternatif itu menyimpan bahaya. Tutup gorong-gorong di Jalan Raya Penggilingan telah lenyap semalaman.
"Saya lihat lubang gelap itu pas mau nyebrang. Tinggal selangkah lagi anak saya bisa jatuh ke dalam. Untung dia saya gandeng erat. Siapa yang mau tanggung jawab kalau sampai terjadi apa-apa?"
Cerita Rina hanyalah satu dari puluhan keluhan yang diam-diam tumbuh di masyarakat. Besi penutup saluran air, pagar jembatan penyeberangan orang (JPO), hingga pelindung waduk kini menjadi incaran para pencuri yang hanya memikirkan nilai jualnya di lapak besi tua.

Dari Luka Sosial Menuju Tuntutan Tegas

Ahmad Sahroni, anggota Komisi III DPR RI, akhirnya menyuarakan keresahan yang sudah berbulan-bulan terpendam. Dengan nada yang tak bisa lagi disembunyikan, ia mendesak Polda Metro Jaya untuk turun tangan secara serius.
"Ini bukan soal pencurian biasa. Ini menyangkut nyawa manusia. Jangan tunggu sampai ada korban berjatuhan, baru kita heboh. Polisi harus jemput bola, tangkap penadahnya, karena ini sudah darurat,"
Pernyataan Sahroni seakan menjadi pengeras suara bagi suara-suara kecil yang selama ini terabaikan. Pencurian besi fasilitas umum bukanlah aksi kriminal tanpa jejak. Ada mata rantai yang jelas: pencuri kecil, pengepul, hingga agen besar yang menampung logam-logam itu tanpa memedulikan asal-usulnya.

Lebih dari Sekadar Kehilangan Aset

Ada luka yang lebih dalam dari sekadar besi senilai ratusan ribu rupiah yang hilang. Setiap infrastruktur yang rusak adalah potret ketidakberdayaan masyarakat yang harus hidup dalam bayang-bayang ancaman.
  • Tutup gorong-gorong yang hilang — mengancam pengguna jalan, terutama di malam hari dan saat hujan deras
  • Pagar besi JPO yang terlepas — membahayakan para pejalan kaki yang melintas di ketinggian
  • Pelindung waduk yang dirusak — berisiko memperlemah fungsi vital pengendalian banjir
Pak Darto (52), seorang petugas kebersihan yang biasa bertugas di sekitar Kanal Banjir Timur, mengaku sudah kewalahan melaporkan kejadian serupa.
"Hampir setiap minggu ada saja besi yang hilang. Saya lapor, nanti ditambal. Besoknya hilang lagi. Ini sudah seperti kucing-kucingan. Tapi yang was-was itu warga sekitar. Sampai ada yang sukarela patungan beli penutup darurat dari kayu,"
Kini, bola panas berada di tangan aparat penegak hukum. Desakan Komisi III DPR bukan sekadar formalitas prosedural, melainkan cerminan dari jerit hati masyarakat yang mendamba kehadiran negara untuk melindungi, bukan setelah tragedi terjadi, melainkan jauh sebelum air mata duka pecah kembali. ---

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User