Jakarta — Ma'ruf Amin Ajak Rakyat Bersepeda di Tengah Kenaikan BBM
Hari masih gelap ketika Suharno, 47 tahun, mengeluarkan sepeda tua dari garasi kontrakannya di pinggiran Jakarta. Ban belakangnya sedikit kempis, tapi ia
Hari masih gelap ketika Suharno, 47 tahun, mengeluarkan sepeda tua dari garasi kontrakannya di pinggiran Jakarta. Ban belakangnya sedikit kempis, tapi ia tak mau menyalakan sepeda motor yang biasanya menderu setiap pukul enam pagi. “Sejak harga pertalite naik, saya hitung-hitung lagi,” katanya sambil memompa ban. Suharno hanyalah satu dari banyak warga yang tiba-tiba teringat pada sepeda, setelah potongan video Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang mengajak rakyat bersepeda kembali viral.
Dalam rekaman yang beredar, Ma’ruf Amin menyebut bersepeda sebagai alternatif di tengah beban kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Pernyataan itu sontak menjadi perbincangan, bukan hanya di ruang tamu, tapi juga di bengkel-bengkel kecil seperti milik Pak Amat di kawasan Ciputat. “Banyak yang datang tanya harga sepeda bekas. Ada yang mau servis sepeda lamanya yang sudah karatan,” ujar Amat, yang biasanya lebih banyak memperbaiki motor. “Saya sampai kewalahan.” Bagi sebagian orang, ajakan itu adalah ajakan ideologis. Tapi bagi Suharno, itu adalah hitungan dapur. Dengan gaji sebagai satpam yang tak sampai Rp4 juta, selisih harga BBM terbaru menggerogoti pengeluarannya hingga Rp300 ribu sebulan. “Uang itu bisa buat bayar les anak,” katanya lirih.
Cerita serupa datang dari Nurhayati, guru honorer di Depok yang mulai mengayuh sepeda lipatnya ke sekolah. Awalnya ia khawatir dianggap tidak profesional. Tapi setelah teman-teman guru lain justru tertarik, kini ada rombongan kecil berangkat bersama. “Rasanya nostalgia, seperti zaman kuliah. Tapi ya capek juga, apalagi kalau bawa tas berat,” katanya sambil tertawa kecil. Di balik senyum itu, ia mengaku lega bisa menghemat biaya transportasi hingga separuhnya.
Bersepeda: Antara Harapan dan Realitas Infrastruktur
Ajakan bersepeda bukan isu baru. Namun, kenaikan BBM kali ini – yang disebut-sebut sebagai penyesuaian subsidi – membuat wacana itu kembali mencuat dengan warna yang berbeda: lebih personal, lebih mendesak. “Ini adalah momen yang tepat untuk mendorong perubahan kebiasaan, tapi jangan sampai hanya menjadi slogan,” ujar Dr. Andini Putri, pengamat transportasi dari Universitas Indonesia. “Pemerintah harus memastikan bahwa jalan aman untuk pesepeda, bukan sekadar menyuruh rakyat gowes.”
Data menunjukkan bahwa dari total panjang jalan nasional di perkotaan, jalur sepeda yang layak baru mencapai 12 persen. Kecelakaan yang melibatkan pesepeda pun meningkat 23 persen dalam tiga tahun terakhir, menurut simulasi data keselamatan jalan. Artinya, di tengah semangat berhemat, ada risiko yang harus ditanggung oleh warga seperti Suharno dan Nurhayati setiap hari.
Perbandingan Biaya: Motor vs Sepeda
Berikut perbandingan simulasi biaya bulanan untuk perjalanan 20 km pulang-pergi di wilayah Jabodetabek:
| Komponen Biaya | Motor (Rp) | Sepeda (Rp) |
|---|---|---|
| Bahan Bakar | 450.000 | 0 |
| Servis & Suku Cadang | 150.000 | 50.000 |
| Parkir | 200.000 | 0 |
| Total Bulanan | 800.000 | 50.000 |
Angka-angka itu adalah penghematan yang sangat berarti bagi pekerja informal. Namun, tabel itu tidak menghitung biaya waktu, keringat, dan keamanan yang belum tentu terjamin. Itulah mengapa Suharno masih sesekali menyalakan motornya ketika hujan deras atau saat harus membawa barang banyak. “Sepeda itu solusi, tapi bukan satu-satunya,” ujarnya.
Satu hal yang pasti: ajakan bersepeda telah membuka obrolan baru di rumah-rumah. Anak Suharno yang berusia 10 tahun, misalnya, mulai rajin membersihkan sepeda sang ayah setiap sore. “Katanya biar tetap kinclong, supaya ayah semangat,” Suharno tersenyum. Dari obrolan BBM, sebuah keluarga kecil menemukan rutinitas baru yang lebih hangat.
Comments (0)