Jakarta — KPK Ungkap Istilah ‘Uang Assalamualaikum’ di Kasus Gratifikasi Ma’ruf Cahyono
Pagi itu, Ruang Konferensi Gedung Merah Putih KPK dipenuhi oleh gemerisik kamera dan bisik-bisik wartawan. Juru Bicara KPK, dengan nada retoris bercampur m
Pagi itu, Ruang Konferensi Gedung Merah Putih KPK dipenuhi oleh gemerisik kamera dan bisik-bisik wartawan. Juru Bicara KPK, dengan nada retoris bercampur muak, merobek bungkus sopan dari sebuah istilah yang belakangan populer di ruang-ruang rapat elite politik: "Uang Assalamualaikum." Ucapan salam yang seharusnya menjadi doa perdamaian, ironisnya dipakai untuk membungkus pundi-pundi gratifikasi mantan Sekretaris Jenderal MPR RI, Ma'ruf Cahyono, yang nilainya mencapai sekitar Rp37,8 miliar.
Saya mendatangi rumah seorang mantan penyidik senior, Harun, di sebuah gang sempit di kawasan Depok. Ia sudah pensiun, tetapi ingatannya soal istilah aneh itu masih pedas. "Jadi begitu, Buffy," katanya sambil menyesap kopi tubruk, "para penerima uang haram itu bukan cerdas memilih kata. Mereka culas. Kalau uang diterima tangan kanan lalu tangan kiri menjawab salam, mereka pikir malaikat jadi buta."
Laporan awal KPK menyebutkan, uang itu mengalir deras selama Ma'ruf menjabat posisi strategis. Bukan sekadar amplop lebaran atau THR, melainkan setoran rutin yang disamarkan sebagai "tanda silaturahmi".
Salam yang Ternodai: Dari Doa Jadi Kode Bisnis
Dalam tradisi Timur Tengah dan Nusantara, "Assalamualaikum" adalah doa yang menebar keselamatan. Tetapi di sini, ia bertransformasi menjadi kode bisnis yang buram: salam diucapkan, amplop diselipkan, komitmen proyek dikunci. "Narasumber saya mengaku, di beberapa momen, Ma'ruf bahkan tidak perlu menyebut nominal. Cukup kirim pesan singkat berisi salam, lalu ajudan yang menyodorkan tas. Sungguh, itu sangat sinis," ujar Harun dengan tatapan lelah.
"Saya ingat salah satu transkrip yang pernah saya baca. Seorang pengusaha bilang, 'Pak, ini salam dari kami, semoga lancar.' Itu bukan amplop coklat berisi uang, itu sudah seperti ritual wajib penuh ta'dhim." — Harun, mantan penyidik KPK (nama rekaan)
Pundi-pundi di Balik Ucapan Doa
Penyelidikan menunjukkan bahwa modusnya rapi. Ada transfer tunai, ada pembelian aset mengatasnamakan keluarga, hingga pembiayaan perjalanan wisata yang disamarkan sebagai “studi banding”. Total yang kini menjadi sorotan KPK: sekitar Rp37,8 miliar. Angka itu bukan isapan jempol. Penyidik telah menelisik jejak digital dan keterangan saksi yang mulai buka suara.
Bayangkan, sebutir ucapan salam yang biasanya dijawab "Waalaikumsalam" dengan tulus oleh tetangga atau rekan, justru terasa getir ketika di baliknya ada setoran seharga satu unit rumah mewah. "Kalau dipikir, rakyat kecil saling berbagi ketupat dan mengucap Assalamualaikum tanpa beban. Sedang di Istana MPR, salam itu dibanderol," ujar seorang aktivis antikorupsi, Sinta, saat ditemui di tepi Monas.
Jejak Senyap Sang Mantan Sekjen
Ma'ruf Cahyono bukan nama baru. Ia dikenal sebagai birokrat tenang dan jarang tampil toko di media. Namun di balik ketenangannya, ada jejak senyap yang kini dicoba diurai penyidik. Tidak hanya istilah "Uang Assalamualaikum" yang membuat berang, tetapi juga praktik pembawaan uang tunai dalam jumlah besar di jam-jam raya keagamaan, memanfaatkan suasana religius untuk meninabobokan kecurigaan.
Ketua KPK sementara, dalam rilis singkatnya, menegaskan bahwa lembaganya tidak akan diam. "Kami akan menjerat siapapun yang memanfaatkan simbol agama untuk mengorupsi hati nurani bangsa." Kalimat itu disambut tepuk tangan riuh, tetapi beberapa orang di Jogja yang saya tanya hanya tersenyum getir. "Uang Assalamualaikum?" kata Mas Budi, pemilik warung soto, "Lebih baik saya tidak pernah dengar salam bikinan penguasa lagi. Biarlah salam tetap suci."
Kini, berkas penyelidikan terus bergulir. Istilah "Uang Assalamualaikum" bukan hanya kosakata baru dalam kamus korupsi Indonesia, tetapi juga cermin betapa banalnya penyamaran dosa oleh orang-orang yang dulu diserahi menjaga konstitusi.
Comments (0)