Jakarta — Jokowi Tiup Terompet Tutup Perdagangan IHSG 2018
Suara terompet yang nyaring memecah keheningan lantai bursa. Jumat siang itu, hiruk-pikuk transaksi yang biasanya mengisi ruangan mendadak terhenti. Seluru
Suara terompet yang nyaring memecah keheningan lantai bursa. Jumat siang itu, hiruk-pikuk transaksi yang biasanya mengisi ruangan mendadak terhenti. Seluruh mata tertuju ke satu sosok yang berdiri di mimbar kecil, sebuah terompet plastik merah di tangannya. Presiden Joko Widodo, dengan gerakan mantap, meniup terompet itu sebagai simbol ditutupnya perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun 2018. Tepuk tangan gemuruh langsung membahana. Bagi sebagian, ini hanya seremoni. Bagi yang lain, ini pelepasan dari tahun yang berat.
Antara Harapan dan Kecemasan di Akhir Tahun
Sejak pagi, suasana di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah berbeda. Karyawan yang biasanya sibuk memantau layar komputer, sesekali melirik ke arah panggung kecil yang mulai dihias. Bendera merah putih berderet rapi. Layar besar di lantai bursa menampilkan pergerakan IHSG yang masih sedikit menguat di jam-jam terakhir. Namun, tak semua wajah sumringah.
"Tahun ini benar-benar melelahkan," ujar Dina, seorang analis muda di salah satu sekuritas. "Fluktuasinya luar biasa. Nilai tukar rupiah sempat bikin jantung copot."
Kronologi Penutupan
- Pukul 10.00 WIB: Lantai bursa mulai dipadati tamu undangan, termasuk para petinggi BEI, OJK, dan investor ritel yang beruntung mendapat undangan khusus. Pengamanan diperketat.
- Pukul 14.30 WIB: Presiden Joko Widodo tiba di area Main Hall BEI. Mengenakan kemeja putih dan peci hitam, ia langsung disambut Direksi BEI. Senyumnya merekah, meski kerutan di dahi para pelaku pasar tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
- Pukul 15.00 WIB: Acara puncak penutupan dimulai. Presiden mendekati kotak kaca yang berisi terompet khas penutupan tahunan. IHSG menunjukkan posisi terakhir di level 6.194,498, turun 2,54% sepanjang 2018.
- Pukul 15.05 WIB: Presiden Jokowi meniup terompet panjang sebagai pertanda perdagangan resmi ditutup. Suara terompet itu disusul sorak sorai para karyawan yang sudah sejak Februari menanti titik akhir tahun yang penuh tekanan.
- Pukul 15.15 WIB: Sesi foto bersama. Banyak karyawan mengabadikan momen, sebagian berharap tahun depan membawa keberuntungan yang lebih baik.
Kisah di Balik Layar
Bagi Andri, seorang dealer fixed income yang telah 10 tahun bekerja di bursa, tiupan terompet itu seperti simbol perjuangan. "Saya ingat bulan Mei lalu, ketika IHSG anjlok tajam, kami harus lembur sampai malam. Hari ini, suara terompet itu melegakan, seperti bilang 'sudah, istirahat dulu'," tuturnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Tidak semua hadir dengan kesedihan. Di sudut lain, Maya, seorang ibu rumah tangga yang kini menjadi investor ritel, justru antusias. "Saya mulai main saham tahun ini, justru karena banyak harga murah. Saya beli saat orang takut. Sekarang portofolio saya lumayan ijo," ujarnya sambil tersenyum. "Penutupan ini bukan akhir, ini awal buat strategi tahun depan."
Direktur Utama BEI, dalam sambutannya, menyebut bahwa meski IHSG terkoreksi, jumlah investor baru melonjak hingga lebih dari 30% dibanding tahun sebelumnya. "Ini fondasi kuat. Tahun depan kami optimistis," ujarnya penuh semangat.
Bukan Sekadar Angka
Penutupan IHSG 2018 bukan sekadar seremoni akhir tahun. Ini adalah potret bagaimana pelaku pasar—dari level profesional hingga ibu rumah tangga—menyikapi gejolak ekonomi global. Perang dagang AS-China, kenaikan suku bunga The Fed, dan ketidakpastian politik menjelang pemilu membuat tahun ini seperti ujian panjang bagi bursa saham Indonesia.
"Pokoknya, tahun depan harus lebih baik. Nggak mau lagi lihat IHSG merah terus," celetuk Dina sambil membereskan tasnya.
Terompet plastik kecil itu mungkin hanya simbol. Tapi bagi mereka yang selama setahun berjibaku dengan angka, grafik, dan tekanan, tiupannya adalah suara harapan. Harapan bahwa tahun depan, layar di lantai bursa akan lebih sering dihiasi warna hijau.
Comments (0)