Direktur Keuangan Nitrasanata Dharma Hadir di BEI, Sinyal Ekspansi Mulai Terbaca
Langkah kaki itu terdengar mantap menyusuri lantai marmer Bursa Efek Indonesia, Selasa pagi (7/7/2026). Budi Djatmiko, Direktur Keuangan PT Nitrasanata Dha
Langkah kaki itu terdengar mantap menyusuri lantai marmer Bursa Efek Indonesia, Selasa pagi (7/7/2026). Budi Djatmiko, Direktur Keuangan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), berjalan dengan setelan jas abu-abu yang rapi, kopernya berisi setumpuk dokumen yang mungkin akan mengubah arah perjalanan perusahaan miliknya. Di ruang utama BEI, sorot lampu dan deretan monitor bursa menyambut kedatangannya. Tak banyak yang tahu persis apa yang akan diumumkan, tapi satu hal pasti: kehadiran seorang direktur keuangan di lantai bursa hampir selalu berarti kabar besar.
Sejak pagi, suasana di sudut lobby BEI memang berbeda. Beberapa karyawan Nitrasanata Dharma yang turut mendampingi terlihat sibuk mengatur perlengkapan, sementara para analis pasar yang hadir berbisik-bisik, mencoba menerka apa yang tengah disiapkan emiten berkode JECX ini. PT Nitrasanata Dharma Tbk sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan manufaktur komponen otomotif yang terus berkembang pesat dalam lima tahun terakhir.
Seorang Pemimpin di Tengah Gemerlap Pasar Modal
Bagi Budi Djatmiko, berdiri di podium BEI bukanlah sekadar seremonial. Ada kisah panjang di balik perjalanan seorang akuntan yang memulai kariernya dari meja kecil di sudut pabrik Cikarang, kini menjadi orang nomor satu di bidang keuangan perusahaan publik. Ketika ditanya tentang momen ini, Budi tersenyum kecil, menatap layar yang menampilkan kode JECX dengan angka hijau di sampingnya.
"Saya masih ingat, waktu pertama kali masuk Nitrasanata 15 tahun lalu, perusahaan ini baru punya dua mesin cetak dan satu lini produksi. Sekarang, kami berbicara tentang ekspansi, tentang mimpi yang dulu terasa terlalu besar untuk diucapkan,"
katanya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh riuh rendah aktivitas bursa.
Di sekelilingnya, para investor ritel yang tengah memantau pergerakan saham tampak mencuri pandang. Beberapa di antaranya bahkan mendekat, mencoba mendengar langsung apa yang disampaikan. Momen ini lebih dari sekadar kunjungan rutin emiten—ini tentang kepercayaan yang dipertaruhkan. Sejak pertama kali melantai di bursa, Nitrasanata Dharma memang selalu menjaga reputasi sebagai emiten yang cermat dan jarang bersuara bising, namun memiliki fundamental yang patut diperhitungkan.
Di Balik Layar: Nasib Pekerja dan Harapan Pabrik
Namun, cerita yang lebih dalam tak hanya bergulir di lantai bursa yang gemerlap. Di Cikarang, tepatnya di pabrik seluas empat hektare milik Nitrasanata Dharma, kabar kunjungan Budi ke BEI juga menjadi perbincangan hangat di antara para pekerja shift pagi. Siti, misalnya, seorang operator mesin yang sudah 10 tahun bekerja di pabrik itu, mengaku deg-degan sejak semalam.
"Setiap kali Pak Budi ke Jakarta untuk urusan bursa, biasanya ada kabar. Saya cuma berharap kabar baik. Tahun lalu kami semua dapat bonus karena produksi naik. Semoga kali ini juga,"
ujar Siti, sembari mengelap keringat di sela-sela waktu istirahatnya.
Bagi Siti dan sekitar 1.200 karyawan lainnya, apa yang terjadi di gedung BEI tidaklah abstrak. Keputusan-keputusan strategis yang diumumkan di bursa berdampak langsung pada kesejahteraan mereka—mulai dari kepastian upah lembur, tunjangan keluarga, hingga nasib kontrak kerja yang terus diperpanjang. Siti menambahkan, "Anak saya mau masuk SMA tahun ini. Jadi, saya terus berdoa, semoga perusahaan tambah maju."
PT Nitrasanata Dharma Tbk, yang awalnya hanya pemasok komponen kecil untuk pabrikan Jepang, kini telah merambah pasar ekspor ke Vietnam dan Filipina. Lonjakan permintaan pascapandemi dan tren elektrifikasi kendaraan menjadi katalis yang mempercepat transformasi perusahaan ini. Namun, ekspansi butuh modal, dan di sanalah peran BEI menjadi sangat krusial.
Investor, Mimpi, dan Masa Depan yang Tertulis di Layar
Di ruang pertemuan BEI, Budi Djatmiko akhirnya mengungkapkan sebagian kecil rencananya. Ia berbicara tentang target pendanaan untuk pembangunan pabrik baru di Brebes yang dijadwalkan mulai konstruksi tahun depan, sekaligus peningkatan kapasitas produksi komponen baterai kendaraan listrik. Total investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp450 miliar, yang sebagian akan diperoleh melalui instrumen pasar modal.
"Kami tidak ingin hanya menjadi pemain lokal. Pasar sedang bergerak ke arah teknologi hijau, dan kami harus siap. Hari ini kami di sini bukan hanya untuk melaporkan angka, tapi untuk mengundang semua pihak bermimpi bersama: investor, karyawan, dan masyarakat sekitar pabrik kami,"
kata Budi dengan suara yang mulai meninggi, penuh keyakinan.
Bagi beberapa investor ritel yang telah lama memegang saham JECX, pernyataan Budi menjadi angin segar. Pak Harun, misalnya, seorang pensiunan guru yang mulai berinvestasi sejak 2019, tersenyum lega ketika mendengar kabar itu. "Saya beli saham ini waktu masih 200-an perak. Sekarang sudah di atas 600. Tapi yang saya tunggu bukan cuma untung, tapi kepastian bahwa perusahaan ini punya masa depan yang jelas," katanya sambil memegang erat ponsel yang menampilkan portofolio sahamnya.
Perjalanan panjang PT Nitrasanata Dharma Tbk dari pabrik kecil di Cikarang menuju gemerlap lantai bursa adalah cerminan ekonomi Indonesia yang terus bergerak. Di balik setiap angka dan kode saham, ada kisah manusia—pekerja yang menaruh harapan, investor yang menaruh kepercayaan, dan pemimpin yang menanggung beban keputusan. Sore itu, ketika Budi Djatmiko meninggalkan BEI dengan langkah yang sama mantapnya seperti saat datang, ia membawa pulang lebih dari sekadar kesepakatan bisnis. Ia membawa pulang mimpi banyak orang yang tersemat dalam tiga huruf sederhana di layar bursa: JECX.
Comments (0)