Jakarta — Budi Kurniawan Pimpin Bach Multi Global dengan Hati Sosial
Sore itu, di ruang kerjanya yang lebih menyerupai galeri foto daripada kantor direktur utama, Budi Kurniawan tengah memandangi deretan gambar yang menempel
Sore itu, di ruang kerjanya yang lebih menyerupai galeri foto daripada kantor direktur utama, Budi Kurniawan tengah memandangi deretan gambar yang menempel di dinding. Bukan foto dirinya bersama pejabat tinggi, melainkan wajah-wajah para pemilik warung kecil, perajin batik, dan petani milenial yang tersenyum di depan smartphone mereka. “Inilah alasan saya setiap pagi semangat,” ujarnya lirih, sambil menunjuk salah satu foto. Di balik jabatannya sebagai Direktur Utama PT Bach Multi Global Tbk (BACH), Budi adalah seorang pemimpi yang percaya bahwa teknologi harus turun ke akar rumput.
Dari Garasi Kontrakan Menuju Bursa Efek
Tak banyak yang tahu, perjalanan Budi memimpin perusahaan teknologi yang kini melantai di bursa dimulai dari sebuah garasi rumah kontrakan di pinggiran Jakarta. Saat itu, ia bersama dua rekannya hanya berbekal laptop bekas dan modal kepercayaan dari seorang tetangga yang bersedia menjadi pelanggan pertama. “Kami bukan siapa-siapa. Saya masih ingat, untuk membeli domain saja harus patungan bertiga. Tapi saya selalu bilang ke teman-teman, bisnis ini harus punya jiwa. Kalau hanya cari untung, nanti juga habis,” kenang Budi, matanya menerawang sejenak. Kini, BACH memiliki kapitalisasi pasar ratusan miliar rupiah dan menjadi salah satu pemain utama di bidang solusi digital untuk segmen mikro dan kecil.
Teknologi sebagai Jembatan, Bukan Sekadar Produk
BACH fokus pada platform yang menghubungkan pelaku UMKM dengan ekosistem bisnis yang lebih luas: mulai dari sistem kasir digital hingga akses ke pasar daring. Namun, yang membedakan BACH dari banyak perusahaan teknologi lain adalah pendekatan pribadi yang diterapkan Budi. Setidaknya sebulan sekali, ia turun langsung ke pasar-pasar tradisional, duduk di lapak pedagang, dan mendengar keluh kesah mereka.
“Saya percaya, setiap pengusaha kecil sebenarnya punya mimpi besar. Cuma mereka sering tidak punya kaki untuk melangkah. Tugas kami adalah menjadi kaki itu,” kata Budi, nada suaranya hangat seperti seorang sahabat.
Nur, seorang penjual batik tulis di Pekalongan yang kini mampu melayani pesanan dari luar negeri, menceritakan bagaimana kehadiran Budi mengubah jalan hidupnya. “Dulu saya cuma jualan di pasar, sekarang pesanan bisa dari Eropa. Pak Budi sering datangi kios saya sendiri, tanya apa yang masih susah. Dia nggak cuma kasih aplikasi, tapi juga semangat,” ujar Nur, suaranya bergetar menahan haru.
Dampak yang Tak Selalu Terukur dalam Laporan Keuangan
Di tengah tekanan industri untuk tumbuh cepat, Budi justru memilih memperlambat ekspansi demi memastikan dampak sosial yang riil. Data internal perusahaan menunjukkan, hingga tahun ini, platform BACH telah mendampingi lebih dari 7.000 pelaku UMKM di enam provinsi, dengan rata-rata peningkatan pendapatan mitra sebesar 40% dalam setahun pertama. Sebuah angka yang bagi Budi lebih bermakna daripada sekadar EBITDA.
“Waktu saya melihat seorang ibu penjual jamu bisa kirim anaknya kuliah setelah menggunakan sistem kami, rasanya… seperti menang tender besar. Mungkin lebih,” ucapnya, kali ini dengan mata sedikit berkaca.
Karyawan BACH pun merasakan budaya kerja yang dibangun Budi. Rutin diadakan “Rapat di Warung”, di mana tim harus menghabiskan waktu di tempat usaha mitra sebelum merancang fitur baru. “Kami tidak boleh bikin produk di balik meja,” kata salah seorang manajer produk dengan tegas. Pendekatan ini membuat BACH tetap membumi di usianya yang memasuki satu dekade.
Kini, di tengah rencana ekspansi ke Indonesia Timur, Budi masih menyimpan catatan kecil dari seorang kakek penjual kopi keliling di Jawa Tengah. Catatan lusuh itu bertuliskan: “Terima kasih, Nak. Dagangan saya kini dikenal ke mana-mana.” Bagi Budi, catatan itulah yang menjadi laporan tahunan paling berharga—simbol bahwa bisnis tak hanya bicara soal saham, tetapi tentang hati yang terus menyala di ribuan mimpi kecil yang ia bantu wujudkan.
Comments (0)