Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jeffrey Hendrik Resmi Pimpin BEI, Targetkan 20 Juta Investor pada 2030

Lobi Gedung Bursa Efek Indonesia di kawasan Sudirman, Jakarta, terasa berbeda pada Senin (29/6) sore. Di ruang konferensi pers yang biasanya formal, Jeffre

Jul 09, 2026 - 07:56
0 1
Jeffrey Hendrik Resmi Pimpin BEI, Targetkan 20 Juta Investor pada 2030

Lobi Gedung Bursa Efek Indonesia di kawasan Sudirman, Jakarta, terasa berbeda pada Senin (29/6) sore. Di ruang konferensi pers yang biasanya formal, Jeffrey Hendrik—wajah baru Direktur Utama BEI periode 2026–2030—hadir dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung santai. Sambil tersenyum, ia menyampaikan salam lalu membuka pernyataannya dengan suara tenang, “Pasar modal harus menjadi milik semua orang. Bukan hanya orang Jakarta, bukan hanya pemodal besar, tapi juga keluarga di kota kecil yang ingin masa depan lebih baik.” Kalimat itu langsung disambut keheningan yang penuh perhatian.

Di balik gaya komunikasi yang hangat itu, Jeffrey membawa cerita personal yang dekat dengan banyak pekerja kelas menengah. Ia memulai karier sebagai analis junior di sebuah perusahaan sekuritas lokal pada 2009, lalu membangun platform investasi digital yang sukses menjaring lebih dari 5 juta pengguna. Pengalaman itu membentuk keyakinannya bahwa teknologi mampu meruntuhkan sekat-sekat tradisional di dunia pasar modal. “Saya ingat bagaimana dulu ibu saya sendiri bingung mau menabung dalam bentuk apa. Saat itu saya berpikir, andai ada aplikasi yang mudah dan aman untuk berinvestasi saham, mungkin beliau sudah mulai sejak lama,” kenangnya.

Transformasi Digital dan Pendalaman Pasar Modal

Jeffrey tak membuang waktu untuk menjabarkan rencana strategisnya. Salah satu fondasi utama adalah transformasi digital BEI yang menyeluruh—mulai dari penyederhanaan pembukaan rekening efek hingga integrasi dengan ekosistem fintech pembayaran dan pinjaman. “Transformasi digital bukan lagi pilihan, tapi keniscayaan. BEI harus menjadi bursa yang agile, responsif terhadap perubahan perilaku investor muda yang menginginkan kemudahan dan kecepatan,” ujarnya.

Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah investor pasar modal—tercermin dari angka single investor identification (SID)—telah mencapai 14,5 juta per Juni 2026. Pertumbuhan ini signifikan, terutama setelah pandemi, namun Jeffrey menyoroti bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat masih berada di kisaran 38% menurut Survei Nasional Literasi Keuangan OJK 2025. “Jumlah kuantitas sudah baik, tapi kualitas pemahaman investor ritel masih menjadi pekerjaan rumah besar,” tambahnya.

Target Ambisius 2030: Kapitalisasi Tembus Rp15.000 Triliun

Dalam paparannya, Jeffrey membeberkan peta jalan yang cukup ambisius hingga tahun 2030. Ia menargetkan jumlah investor pasar modal mencapai 20 juta SID, dengan rata-rata transaksi harian menembus Rp30 triliun. Kapitalisasi pasar yang pada Juni 2026 berada di kisaran Rp11.000 triliun diharapkan naik menjadi Rp15.000 triliun, didukung oleh penambahan 200 emiten baru dari berbagai sektor, termasuk perusahaan rintisan berbasis teknologi.

IndikatorJuni 2026 (Saat Ini)Target 2030
Jumlah Investor (SID)14,5 juta20 juta
Rata-rata Transaksi HarianRp18,5 triliunRp30 triliun
Kapitalisasi PasarRp11.000 triliunRp15.000 triliun
Jumlah Emiten900 perusahaan1.100 perusahaan
Porsi Investor Domestik55%70%

“Target ini ambisius tapi realistis jika didukung perbaikan ekosistem secara holistik, termasuk integrasi dengan fintech lending dan perluasan produk derivatif yang lebih sederhana,” ujar Prof. Rina Susanti, ekonom senior dari Universitas Indonesia yang hadir dalam konferensi pers tersebut. “Yang lebih penting adalah komitmen untuk menjaga stabilitas dan perlindungan investor ritel, karena itulah fondasi kepercayaan.”

Menjawab Tantangan Global dan Domestik

Tantangan yang dihadapi Jeffrey tidak ringan. Ketidakpastian suku bunga global, fluktuasi harga komoditas, serta tensi geopolitik masih membayangi laju pasar modal Indonesia. Namun Jeffrey optimistis bahwa dengan memperbesar porsi investor domestik hingga 70%, BEI akan lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Ia juga mendorong diversifikasi produk, seperti obligasi hijau untuk pembiayaan infrastruktur berkelanjutan dan reksadana indeks yang murah dan mudah diakses. Menjelang akhir konferensi pers, Jeffrey menyelipkan sebuah cerita pendek yang membuat ruangan lebih hening. “Saya membeli saham pertama dari uang hasil les privat semasa kuliah. Saya masih ingat rasanya ragu-ragu saat melihat grafik merah—tapi dari situlah saya belajar bahwa investasi bukan soal kecepatan, melainkan tentang kesabaran dan pengetahuan,” ucapnya, sambil sesekali menunduk. Kalimat itu seperti menjadi janji personalnya: BEI, di tangannya, akan menjadi teman perjalanan finansial jutaan warga, bukan sekadar layar angka yang dingin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User