Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Apriyani Rahayu Beralih ke Ganda Campuran Cari Suasana Baru

Di sebuah sudut Pelatnas PBSI Cipayung yang lengang selepas sesi latihan sore, Apriyani Rahayu duduk bersila dengan wajah penuh ketenangan. Matanya memanda

Jul 08, 2026 - 22:02
0 0
Jakarta — Apriyani Rahayu Beralih ke Ganda Campuran Cari Suasana Baru

Di sebuah sudut Pelatnas PBSI Cipayung yang lengang selepas sesi latihan sore, Apriyani Rahayu duduk bersila dengan wajah penuh ketenangan. Matanya memandang lapangan tempat selama bertahun-tahun ia berlatih bersama rekan-rekan ganda putri. Kini, semuanya akan terasa berbeda. Sang peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 itu telah memutuskan untuk memulai sebuah perjalanan baru yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya: meninggalkan nomor yang membesarkan namanya, ganda putri, demi menantang dirinya sendiri di sektor ganda campuran.

“Memang saya rasa sudah banyak adik-adik lain di ganda putri,” ujarnya lirih, Senyum kecil tersungging di bibirnya. Ada rasa berat, namun juga semangat yang terpancar jelas. “Saya mencoba untuk memilih jalan lain. Sekiranya di ganda campuran ini saya bisa kembali lagi ke top performance saya dengan Dejan.”

Dejan yang dimaksud adalah Dejan Ferdinansyah, pemain muda potensial yang akan menjadi penopang langkahnya di dunia baru. Keputusan ini bukan keputusan instan. Apriyani melalui serangkaian evaluasi panjang yang dimulai sejak usai Olimpiade Paris 2024, berlanjut ke beberapa turnamen termasuk Macau Open. Setiap laga di ganda putri ia jalani, namun perasaan itu terus menggantung: ada masa depan lain yang menunggu.

Membuka Pintu, Menutup Kenangan

Bagi penggemar bulutangkis, nama Apriyani Rahayu identik dengan Greysia Polii. Duet mereka bukan sekadar pasangan ganda putri biasa—mereka adalah peretas sejarah. Namun setelah Greysia pensiun, Apriyani mencoba melanjutkan kiprah bersama Siti Fadia Silva Ramadhanti. Meski sempat menunjukkan kilau potensi, hasil mereka belumlah sekonsisten yang diharapkan publik. Sementara itu, regenerasi di sektor ganda putri terus melaju. Pemain-pemain muda seperti Febriana Dwipuji Kusuma dan Amallia Cahaya Pratiwi mulai menunjukkan taring mereka.

“Di sinilah saya merasa ini saatnya,” jelas Apriyani. “Memberi ruang untuk adik-adik yang lebih fresh, dan saya sendiri butuh challenge baru. Ganda campuran akan menguji banyak hal: komunikasi, rotasi, dan tentu penyesuaian tempo bermain.”

"Sebagai atlet, kenyamanan bisa menjadi jebakan. Apriyani memilih keluar dari zona itu sebelum penyesalan datang. Itu mental juara sejati."
— Rekan latihan di Pelatnas (nama dirahasiakan)

Kata-kata rekan itu seolah mewakili getaran di dalam ruang ganti. Apriyani memang tidak kehilangan kemampuan, tapi ia mencari percikan baru yang bisa membawanya kembali ke podium tertinggi. Ganda campuran, dengan segala ketidakpastiannya, justru jadi panggung yang ia inginkan.

Dejan dan Harapan Baru

Dejan Ferdinansyah, 24 tahun, sebelumnya berpasangan dengan Gloria Emanuelle Widjaja dan telah menunjukkan sinyal-sinyal menjanjikan di level internasional. Dengan masuknya Apriyani, kombinasi pengalaman dan energi muda ini diharapkan bisa langsung berdampak pada peringkat BWF. Keduanya saat ini berlatih intensif untuk menyamakan visi bermain.

“Apriyani membawa kematangan, membaca permainan yang sudah level dunia, sementara Dejan punya eksplosivitas di depan net,” ujar seorang asisten pelatih. “Kami optimis mereka bisa segera menyodok ke jajaran elite campuran global. Ini bukan sekadar eksperimen, tapi langkah strategis.”

Mengejar Ranking, Merangkai Mimpi

Perjalanan praktis mereka akan dimulai dari turnamen-turnamen level International Challenge untuk mengumpulkan poin ranking. Titik nol ini justru disambut Apriyani dengan senyum yang lebih lebar. Bagi seorang atlet yang pernah berdiri di puncak tertinggi, memulai dari bawah bukanlah degradasi, melainkan tantangan yang membangkitkan adrenalin.

“Saya tidak takut mulai dari bawah lagi. Justru saya rindu proses itu: dari belum diperhitungkan, lalu naik perlahan-lahan, sampai akhirnya ditakuti lawan,” ucapnya, matanya kini berpijar.

Itulah jiwa Apriyani yang sesungguhnya. Bukan hanya soal pukulan smash tajam atau pertahanan ulet, tapi tentang keberanian untuk terus bertumbuh. Kini, di nomor ganda campuran, ia dan Dejan akan menulis cerita baru. Mungkin butuh waktu, tapi jika semangat ini terus menyala, papan peringkat dunia akan kembali mengenali sosok yang pernah membuat Indonesia bangga di Tokyo.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User