Cipayung — Alwi Farhan Siapkan Strategi Baru Demi Gelar Perdana di Japan Open
Peluh masih membasahi pelipisnya, tapi sorot mata Alwi Farhan pagi itu memancarkan sesuatu yang berbeda: ketenangan yang lahir dari perjuangan. Rabu (8/7/2
Peluh masih membasahi pelipisnya, tapi sorot mata Alwi Farhan pagi itu memancarkan sesuatu yang berbeda: ketenangan yang lahir dari perjuangan. Rabu (8/7/2026) di Pelatnas PBSI Cipayung, tunggal putra andalan Indonesia ini baru saja merampungkan sesi latihan intensif. Ada jeda sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan pertama—menarik napas panjang, seolah mengumpulkan seluruh energi yang sempat terkuras habis.
Dua pekan sebelumnya, Alwi pulang dari Australia Open bukan dengan trofi, melainkan dengan tubuh yang ambruk. Kelelahan akut dan demam memaksanya beristirahat total. Bagi atlet berusia 21 tahun yang tengah menanjak kariernya, momen itu adalah ujian mental sekaligus fisik.
"Alhamdulillah, persiapannya cukup baik. Memang ada beberapa kondisi yang dari kemarin habis dari Australia juga sempat sakit, mungkin karena kecapekan juga," kenangnya. Tapi kemudian, senyum tipis merekah. "Progresnya cukup baik dan saya rasa saya siap menghadapi Japan Open dan China Open."
Kini, Alwi menatap Japan Open 2026—turnamen level Super 750 pertamanya—dengan optimisme yang tak lagi semata-mata soal kemenangan di lapangan. Ini tentang membuktikan bahwa ia telah bertransformasi, melewati garis batas kerapuhan yang pernah menghantuinya.
Hantu Nishimoto dan Momentum Pembuktian
Di babak pertama Japan Open, takdir mempertemukannya kembali dengan Kenta Nishimoto, wakil tuan rumah yang menyimpan dua kenangan pahit bagi Alwi. Thailand Open dan Kejuaraan Asia 2025 jadi saksi bisu bagaimana Nishimoto—pemain senior yang matang dan sabar membangun serangan—menundukkan pebulutangkis muda Indonesia itu. Dua kekalahan tanpa balas. Tapi waktu memiliki caranya sendiri untuk mendewasakan seseorang. "Saya rasa Alwi sekarang yang berbeda daripada tahun lalu," ucapnya, kali ini dengan intonasi yang lebih kokoh, seperti mengikrarkan sesuatu kepada dirinya sendiri. "Jadi ya, saya akan mempersiapkan diri saya dan saya akan kasih performa terbaik saya." Ini bukan jawaban diplomatis seorang atlet. Ini adalah deklarasi dari anak muda yang sadar bahwa panggung Super 750 menuntut lebih dari sekadar kecepatan dan power. Panggung ini menuntut kedewasaan membaca permainan, sesuatu yang Alwi yakini kini telah ia miliki.Dari Lelah Menjadi Baja
Jadwal padat BWF World Tour Juli 2026 menempatkan Japan Open sebagai tantangan krusial menjelang China Open—turnamen berlevel Super 1000 yang akan digelar tak lama berselang. Para pelatih di Pelatnas memilih pendekatan hati-hati, memantau beban latihan Alwi dengan teliti pasca-sakitnya."Alwi punya kemampuan recovery yang bagus untuk usianya," ujar salah satu staf pelatih yang enggan disebutkan namanya. "Tapi yang lebih penting, dia sekarang paham kapan harus ngerem dan kapan harus gas."Kesadaran itu terpancar dari gestur Alwi. Tak lagi tergesa-gesa membuktikan diri, ia berbicara dengan ritme yang lebih lambat, lebih terukur. Pukulan-pukulannya di lapangan latihan pagi itu pun menunjukkan pola serupa: tak lagi sekadar menyerang membabi-buta, tapi penuh kalkulasi. Nishimoto mungkin menyambutnya sebagai lawan yang pernah dikenalnya. Tapi ia mungkin akan terkejut menemukan pemuda yang berbeda—yang telah mengubah kelelahan menjadi baja mental. Japan Open bukan sekadar turnamen ke-16 bagi Alwi Farhan tahun ini. Ini adalah babak di mana ia ingin menulis cerita baru: gelar Super 750 pertama dalam kariernya. Dan dengan semua yang telah ia lewati—sakit, kekalahan, keraguan—panggung di Tokyo nanti terasa seperti panggung yang tepat untuk sebuah kelahiran kembali.
Comments (0)