Jakarta — Alwi Farhan Tetap Anggap Ronaldo GOAT Meski Tersingkir
Hari Rabu di Pelatnas PBSI Cipayung tak seperti biasanya. Di sela latihan intensif, raut wajah Alwi Farhan menyiratkan sesuatu yang lebih dalam dari sekada
Hari Rabu di Pelatnas PBSI Cipayung tak seperti biasanya. Di sela latihan intensif, raut wajah Alwi Farhan menyiratkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar lelah fisik. Tunggal putra andalan Indonesia itu baru saja menyaksikan idolanya, Cristiano Ronaldo, menangis di tengah lapangan setelah Portugal tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Kekalahan itu bukan sekadar akhir sebuah pertandingan—bagi Alwi, itu adalah patah hati yang ikut ia rasakan.
Di usianya yang masih sangat muda, Alwi tumbuh dengan poster Ronaldo di dinding kamarnya. Ia menghafal setiap gerakan, setiap selebrasi, setiap momen ketika pemain Portugal itu membuktikan bahwa kerja keras bisa mengalahkan bakat semata. Maka, ketika Ronaldo gagal membawa negaranya melaju lebih jauh, Alwi tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. “Sedih banget sih saya. Jujur saya sedih banget kayak kasihan lah,” ujarnya dengan suara bergetar, Rabu (8/7/2026).
Tekanan dan Air Mata di Pundak Sang Legenda
Bagi banyak orang, Cristiano Ronaldo adalah mesin gol yang tak kenal lelah. Tapi bagi Alwi, Ronaldo adalah manusia biasa yang memikul beban luar biasa. Sejak awal turnamen, sorotan tajam mengarah kepada megabintang Al-Nassr itu—apakah ia masih layak menjadi tumpuan Portugal di usia yang hampir menginjak kepala empat? Apakah trofi Piala Dunia akan selamanya menjadi lubang dalam kariernya yang nyaris sempurna? Alwi melihat tekanan itu bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai bagian dari keagungan seorang CR7.
"Dari kemarin mungkin ya banyak pressure yang especially Ronaldo hadapi. Tapi ya mungkin dia juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Dia tetap akan menjadi Cristiano yang sama sih. Mungkin dia enggak bawa Piala Dunia tapi nggak menjadikannya dia nggak hebat juga gitu," lanjut Alwi.
Kalimat itu bukan sekadar pelipur lara. Ia lahir dari keyakinan bahwa kehebatan sejati tak hanya diukur dari jumlah trofi. Ronaldo telah menginspirasi jutaan anak muda—termasuk Alwi—dengan dedikasi, disiplin, dan mentalitas pantang menyerah yang nyaris tak tertandingi. Di mata pebulutangkis yang tengah merintis kariernya di level internasional itu, Ronaldo adalah contoh nyata bahwa batas hanyalah ilusi yang bisa dihancurkan dengan kerja keras.
GOAT yang Tak Tergantikan
Ketika perdebatan tentang siapa pemain terbaik sepanjang masa terus bergulir di media sosial dan ruang komentar, Alwi sudah punya jawabannya sendiri. Ia tak peduli dengan statistik dingin atau argumen tentang trofi yang hilang. Baginya, Ronaldo tetaplah Greatest of All Time—bukan hanya karena apa yang sudah ia menangkan, melainkan juga karena bagaimana ia bangkit setiap kali jatuh.
Air mata Ronaldo di lapangan, bagi Alwi, justru menjadi bukti betapa manusiawi sang idola. “Dan Ronaldo pun menangis,” tulis sebuah tajuk berita yang menyebar viral. Tapi di mata Alwi, tangis itu adalah cermin dari hati yang mencintai permainan dan bangsanya. Ia percaya, bahkan tanpa medali emas di lehernya, Ronaldo sudah mengukir warisan abadi yang akan terus dikenang.
"Dia tetap akan menjadi Cristiano yang sama sih," kata Alwi, menegaskan bahwa rasa hormatnya tak berkurang seinci pun.
Di akhir percakapan, Alwi menyempatkan diri mengirim pesan mental kepada sang idola: bahwa di sudut kecil Pelatnas Cipayung, ada seorang atlet muda yang tetap memandangnya sebagai bintang paling terang di langit sepak bola dunia. Sebuah keyakinan yang mungkin sederhana, tapi bagi Alwi, itu sudah cukup untuk membuatnya tetap tegak di tengah gelombang keraguan—baik di lapangan bulutangkis maupun di kehidupan yang sesungguhnya.
Comments (0)