Istana Masih Menunggu: Kursi Jampidsus yang Kosong dan Harapan yang Belum Tersampaikan

Di sudut gedung Kejaksaan Agung, ruang kerja berpintu kayu jati itu sepi. Tidak ada tumpukan berkas yang bertambah, tidak ada telepon yang berdering minta petunjuk. Hanya meja besar yang lengang, bebe...

Jul 13, 2026 - 16:44
0 0

Di sudut gedung Kejaksaan Agung, ruang kerja berpintu kayu jati itu sepi. Tidak ada tumpukan berkas yang bertambah, tidak ada telepon yang berdering minta petunjuk. Hanya meja besar yang lengang, beberapa pigura penghargaan masih tegak di rak—seolah ikut menahan napas. Sebuah kursi empuk berlapis kulit hitam yang biasanya menjadi tempat keputusan-keputusan besar lahir, kini kosong. Jampidsus baru belum juga tiba.

Sejak mundurnya Febrie Adriansyah dari jabatan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus, gelombang tanda tanya terus bergulir. Siapa yang akan mengisi posisi paling panas di tubuh Adhyaksa itu? Hingga kemarin, tak satu pun nama resmi mendarat di meja Istana. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dengan nada hati-hati, mengisahkan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima sepucuk surat pun dari Jaksa Agung yang mengusulkan nama pengganti. “Belum ada usulan nama,” ujarnya pendek, namun menyisakan ruang panjang untuk spekulasi.

Malam yang Panjang: Menanti Isyarat dari Istana

Kekosongan ini bukan sekadar absennya sosok di satu pos struktural. Ia adalah jeda yang dirasakan seluruh korps Adhyaksa, terutama mereka yang sehari-hari bergelut dengan perkara-perkara kelas kakap. Dalam budaya kerja Jampidsus yang menuntut kecepatan dan keberanian, ketiadaan nahkoda seringkali menimbulkan kegamangan. Seorang penyidik senior yang enggan disebut namanya melukiskan situasi itu dengan nada bergetar. “Setiap malam, kami masih lembur. Tapi kami butuh seseorang yang bisa bilang, ‘lanjutkan,’ atau ‘ini arah kita.’ Sekarang, suara itu tidak ada.”

Febrie Adriansyah pamit dengan cara yang begitu sunyi. Tak ada konferensi pers gemerlap, tak ada pidato perpisahan menggebu. Ia hanya menuntaskan tanggung jawab terakhirnya, lalu berjalan keluar meninggalkan ruang yang pernah menjadi saksi bisu puluhan perkara korupsi besar. Jejaknya tidak akan mudah terhapus. Di bawah kendalinya, beberapa kasus yang sempat mandek kembali bergulir. Namun, bagi banyak pegawai di korps Adhyaksa, yang paling mereka ingat adalah bagaimana Febrie selalu menyempatkan diri menyapa petugas kebersihan saat pulang dinas malam. Sebuah gestur sederhana yang kini terasa begitu mahal.

Kursi Panas, Harapan yang Tak Boleh Padam

Proses pengisian Jabatan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus memang bukan perkara sepele. Posisi ini berada di garis depan pertempuran melawan korupsi, kejahatan perbankan, hingga pencucian uang. Setiap nama yang diusulkan harus lolos dari sorotan publik yang semakin tajam, sekaligus mampu membawa ketenangan di lingkaran internal. Itulah mengapa, pernyataan Prasetyo Hadi yang menegaskan bahwa usulan belum juga diserahkan oleh Jaksa Agung menjadi semacam pengakuan bahwa pencarian sosok itu tengah berlangsung dengan sangat hati-hati.

Di warung kopi kecil di seberang gedung bundar Kejaksaan Agung, para jurnalis yang sudah puluhan tahun meliput korupsi bergunjing pelan. Mereka saling melempar nama-nama yang beredar di koridor. Ada yang menyebut jaksa karier murni, ada pula yang berbisik tentang figur dari luar institusi. Namun semuanya hanya teka-teki. “Yang pasti, Istana tidak mau buru-buru,” bisik salah seorang di antaranya, mengepulkan asap rokok ke langit-langit. “Mereka ingin orang yang benar-benar bisa melanjutkan pekerjaan rumah yang ditinggalkan Pak Febrie.”

Di sisi lain, kekosongan ini juga membawa harapan. Banyak kalangan berharap pengganti yang dipilih kelak bukan hanya cakap secara teknis hukum, tetapi juga memiliki nyali untuk menuntaskan perkara-perkara yang selama ini dianggap tabu. “Kami ingin Jampidsus yang baru adalah pribadi yang berani, yang tak goyah oleh tekanan apa pun,” ujar seorang aktivis antikorupsi sambil menatap lurus ke gedung Kejaksaan. Matanya memancarkan optimisme yang dipagari kecemasan.

Perjalanan Menuju Keberanian Baru

Sejarah Jampidsus menunjukkan bahwa jabatan ini kerap menjadi panggung bagi keberanian yang tak biasa. Mulai dari penanganan kasus BLBI, Bank Century, hingga deretan operasi tangkap tangan yang merontokkan kepala daerah, semua berawal dari meja itu. Kini, meja itu sedang menanti pemilik baru. Pekerjaan rumah yang menanti sudah menumpuk—berkas-berkas yang meminta perhatian, laporan masyarakat yang menggunung, dan harapan publik yang tak pernah surut.

Prasetyo Hadi menyadari betul bobot penantian ini. “Kita semua menunggu keputusan terbaik,” ucapnya dengan wajah tenang, seolah menyimpan keyakinan bahwa semua akan datang pada waktunya. Kalimat itu terdengar seperti janji bagi yang mendengarkan, bahwa proses ini bukanlah pengabaian, melainkan sebuah perjalanan mencari sosok paling tepat untuk mengemban amanah yang tidak ringan.

Di lantai enam gedung Kejaksaan Agung, lampu-lampu masih menyala terang meski malam semakin larut. Para penyidik muda masih setia di depan layar komputer, menelaah satu per satu bukti yang telah dikumpulkan. Mereka tahu, pemimpin baru akan segera datang. Hingga saat itu tiba, mereka akan tetap bekerja dalam diam, menjaga agar nyala lilin keadilan tak pernah padam—meski kursi Jampidsus masih kosong, dan surat usulan dari Jaksa Agung masih belum juga meluncur ke Istana.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User