Mobil Putih Itu Terus Berkeliling, Menjemput Mereka yang Takut untuk Tahu

Senja mulai merayap di langit Batam ketika sebuah minibus putih berhenti di sudut lapangan kumuh dekat pelabuhan. Jendelanya berembun, tapi lampu neon kecil di dalam memancarkan cahaya yang entah meng...

Jul 13, 2026 - 16:43
0 0

Senja mulai merayap di langit Batam ketika sebuah minibus putih berhenti di sudut lapangan kumuh dekat pelabuhan. Jendelanya berembun, tapi lampu neon kecil di dalam memancarkan cahaya yang entah mengapa terasa aman. Seorang perempuan muda—sebut saja Dina—berdiri beberapa meter dari kendaraan itu. Jarinya dingin. Ia sudah bolak-balik melewati minibus itu sejak sore, berpura-pura menunggu angkutan. Hingga akhirnya, dengan napas tertahan, ia naik. Di dalam, seorang petugas kesehatan menyambutnya tanpa penghakiman. Senyumnya tulus. "Silakan duduk, Mbak. Ini cuma tusukan kecil. Hasilnya rahasia. Cuma Mbak yang tahu." Dina mengangguk, dan satu tetes darahnya menetes ke strip uji. Lima belas menit kemudian, ia keluar dari bilik mungil itu dengan sesuatu yang lebih berharga daripada kepastian medis: ia keluar dengan keberanian untuk tahu.

Bilik Sederhana yang Bergerak Menjemput

Di Batam, bilik-bilik seperti ini tak lagi menunggu orang datang. Mereka bergerak. Dinas Kesehatan Kota Batam, menyadari bahwa stigma masih menjadi tembok paling tebal dalam penanganan HIV, memilih strategi yang berbeda: mobile screening. Minibus-minibus itu berkeliling ke tempat-tempat yang selama ini luput—pelabuhan, pasar, kawasan padat penduduk, sudut-sudut kota tempat pekerja informal beraktivitas. Di sinilah kisah-kisah paling sunyi bermula.

Sepanjang 2024, tercatat 15.060 orang akhirnya memberanikan diri menjalani skrining HIV. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah 15.060 momen ketika seseorang memutuskan untuk berhenti bersembunyi dari ketakutan terbesarnya. Dari jumlah itu, 822 orang menerima hasil positif. Namun di balik angka yang mungkin terdengar memprihatinkan itu, ada narasi yang jauh lebih dalam: 822 orang itu kini tahu. Dan karena mereka tahu, mereka bisa segera memulai pengobatan, menjaga kesehatan, melindungi orang-orang yang mereka cintai.

"Dulu orang takut tes karena takut tahu. Sekarang kita balik logikanya: justru dengan tahu, kamu bisa melawan," ujar seorang petugas lapangan yang sudah dua tahun mendampingi program ini.

Di Balik 822 Hasil Positif, Ada 822 Kehidupan yang Berubah

Setiap hasil positif yang muncul di bilik kecil itu membawa gelombang emosi yang sulit dijelaskan. Petugas kesehatan bercerita, ada yang menangis, ada yang terdiam membisu, ada pula yang justru menghela napas lega—seolah beban bertahun-tahun akhirnya menemukan bentuknya. "Ada seorang bapak, mungkin umur 40-an, hasilnya positif. Dia cuma bilang, 'Saya sudah curiga sejak lama, tapi takut periksa.' Sekarang dia rutin minum obat. Dia bilang, hidupnya justru lebih sehat sekarang karena dia peduli," kisah seorang konselor yang enggan disebut namanya.

Program mobile screening ini juga menjadi pintu masuk bagi mereka yang sebelumnya tak tersentuh layanan kesehatan formal. Banyak dari 15.060 orang yang diperiksa berasal dari komunitas dengan akses terbatas: pekerja pelabuhan, buruh bangunan, ibu rumah tangga yang tak pernah membayangkan dirinya berisiko, hingga anak-anak muda yang penasaran namun takut mendatangi puskesmas. Mobil putih itu seolah berbisik kepada mereka: "Kami datang. Kamu tidak perlu pergi jauh-jauh. Kamu tidak sendiri."

Menjemput Sebelum Terlambat

Di sebuah warung kopi sederhana, seorang pemuda berusia 24 tahun bercerita tentang pengalamannya. Ia mengetahui dirinya positif HIV dari layanan keliling yang parkir di dekat tempat kerjanya. "Aku kaget. Tapi aku bersyukur tahu lebih awal. Kalau nunggu sakit dulu, mungkin sudah terlambat," katanya, suaranya bergetar pelan. Kini ia rutin mengonsumsi antiretroviral (ARV) dan viral load-nya sudah tidak terdeteksi. Ia bekerja, ia tertawa, ia punya rencana masa depan. Virus itu tidak lagi menentukan siapa dirinya.

Layanan mobile screening di Batam tak sekadar mengejar target deteksi dini. Ia menjangkau lebih dalam: ke rasa malu, ke ketakutan, ke kesendirian. Setiap minibus yang berangkat pagi-pagi membawa misi yang sunyi tapi masif—memastikan bahwa di setiap sudut kota, ada harapan yang bisa diakses. Ada petugas yang tersenyum tanpa menggurui. Ada bilik sempit yang menyimpan rahasia dengan aman. Dan ada jawaban yang, meski pahit sekalipun, selalu lebih baik daripada ketidaktahuan.

"Kami tidak bisa menghilangkan stigma dalam semalam. Tapi kami bisa terus menghampiri mereka, satu per satu. Dan itu sudah cukup untuk menyelamatkan nyawa," kata seorang koordinator lapangan.

Senja berikutnya, minibus putih itu kembali berkeliling. Kali ini parkir di depan sebuah pasar tradisional yang ramai. Lampu neon kecil di dalamnya kembali menyala. Dan satu per satu, orang naik—dengan langkah ragu, dengan hati berdebar, dengan keberanian yang baru saja mereka temukan. Di bilik sederhana itu, mereka tidak mencari vonis. Mereka mencari kepastian. Dan di sanalah, di atas roda yang terus berputar, masa depan mereka kembali ditulis.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User