Insaf Putra: Dari Penjual Burger dan Ojek Online ke Serial Kontrakan Rempong
Langit sore di bilangan Tangerang Selatan masih menyisakan semburat jingga ketika Insaf Putra turun dari motornya di depan sebuah rumah sederhana. Bukan la
Langit sore di bilangan Tangerang Selatan masih menyisakan semburat jingga ketika Insaf Putra turun dari motornya di depan sebuah rumah sederhana. Bukan lagi helm ojek online yang ia lepas, melainkan senyum lelah yang sekejap berubah menjadi tawa renyah begitu rekan-rekannya di lokasi syuting menyambutnya. Di garasi sempit yang disulap menjadi set Kontrakan Rempong, ia segera berganti kostum: kaus oblong lusuh dan celana pendek selutut—seragam keseharian penghuni kontrakan yang kini dicintai jutaan pasang mata. Tak ada yang menyangka, lelaki 28 tahun ini pernah menghabiskan malam-malam panjang di balik gerobak burger butut dan melintasi aspal Jakarta sebagai pengemudi ojol.
Gerobak Burger di Sudut Pasar
Empat tahun silam, Insaf masih setia berdiri di dekat pasar tradisional Ciputat. Gerobak aluminium sederhananya hanya cukup untuk kompor kecil, beberapa stoples saus, dan tumpukan roti burger. Ia masih ingat betul bagaimana harus berebut tempat dengan pedagang lain, dan bagaimana hujan bisa menggagalkan seluruh pendapatan hariannya. “Waktu itu kalau sehari dapat untung bersih Rp50.000 saja sudah syukur banget,” kenangnya sambil mematut diri di depan cermin rias sederhana.
“Kadang, burger yang gak laku itu saya makan sendiri buat makan malam. Sambil mikir, sampai kapan begini terus?” ujarnya, suaranya pelan namun penuh getar.
Penghasilan tak menentu membuat Insaf memutuskan untuk mengambil setoran motor dan mendaftar sebagai pengemudi ojek online. Siang berjualan burger, malam ia melaju di jalanan mengejar poin. Dalam sehari, ia bisa bekerja hingga 16 jam. Toh, semua itu ia lakoni tanpa banyak mengeluh. Baginya, yang penting mimpi untuk berkarya di dunia seni peran tetap menyala, meski hanya sebatas api kecil di tengah badai.
Ngojek dan Mimpi yang Tak Pernah Mati
Di balik setang motor, Insaf justru banyak belajar tentang kehidupan. Setiap penumpang yang ia bawa adalah cerita baru. Dari situ ia belajar menangkap karakter manusia: logat, gestur, sampai cara mereka marah karena macet. “Saya itu dulu sering ngerekam suara sendiri di HP sambil nunggu orderan. Latihan akting secara gila-gilaan,” katanya setengah tertawa. Rekaman-rekaman itulah yang kelak membentuk insting komedinya.
“Penumpang yang ngamuk-ngamuk di motor itu justru jadi bahan impersonate paling lucu di Warintil. Siapa sangka, ya?” celetuk salah satu kru Warintil yang ikut mendengarkan perbincangan kami.
Masa-masa ngojek juga mengajarkannya arti kerja keras yang sesungguhnya. Ia pernah menerima orderan fajar buta di tengah hujan deras, tergelincir, dan mengalami luka di lutut. Tapi sehabis mengeringkan diri dan membalut luka, ia kembali online. Sebab, setoran harian tak bisa ditawar. “Mungkin itu yang bikin saya gak pernah jaim di depan kamera. Saya sudah terlalu sering jatuh-bangun untuk peduli rasa malu,” ujarnya.
Warintil dan Lahirnya Kontrakan Rempong
Insaf pertama kali bergabung dengan Warintil Official sebagai figuran. Kepekaannya membaca situasi dan bakat alamiahnya melontarkan dialog spontan membuat para kreator kanal itu terpukau. Tak butuh waktu lama, ia dilibatkan dalam proyek serial komedi Kontrakan Rempong, yang mengisahkan keseharian absurd para anak kontrakan di pinggiran Jakarta. Kanal YouTube Warintil Official kini memiliki lebih dari 5 juta pelanggan, dan Kontrakan Rempong menjadi salah satu serial paling dinanti. Insaf, yang dulu hanya penjual burger dan tukang ojek, kini menjadi salah satu pemain kuncinya.
Yang membuat serial ini begitu memikat adalah nuansa nyata yang dibawakan Insaf dan para pemain lain. Mereka tak perlu berakting menjadi orang susah, karena mereka benar-benar pernah hidup dalam kesusahan itu. “Naskah hanya panduan. Sisanya kami hidupkan dengan pengalaman pribadi. Jadi wajar kalau penonton merasa relate,” ujar Insaf. Dampak sosialnya pun tak terbantahkan: serial ini memberi gambaran tentang ironi hidup kaum urban, persahabatan, dan ketangguhan bertahan di kota besar.
Pesan untuk Mereka yang Masih Berjuang
Di sela-sela syuting, Insaf kerap menerima pesan dari anak-anak muda yang terinspirasi kisahnya. Ia selalu menyempatkan diri membalas, sekadar memberi semangat. “Saya paham rasanya hampir putus asa. Tapi percayalah, selama kita masih bergerak, Tuhan pasti kirim jalan,” pesannya. Kini, dengan segala pencapaian yang ia raih, Insaf justru makin membumi. Ia masih memakai jaket yang sama sejak zaman ngojek, dan sesekali masih membuat burger untuk kru Warintil, sebagai pengingat akan perjalanan panjang yang telah ia tempuh.
Kisah Insaf Putra bukan sekadar tentang kesuksesan seorang konten kreator, melainkan tentang manusia yang menolak menyerah meski digempur kenyataan pahit. Dari gerobak di sudut pasar, jok motor usang, hingga layar ponsel jutaan orang, ia membuktikan bahwa jalan pulang memang sering kali terjal. Tapi pada akhirnya, setiap langkah kecil itu akan membentuk cerita besar yang layak ditonton.
Comments (0)