Ratna Riantiarno Umumkan Program Seni untuk Kesehatan Mental
Jakarta – Suasana haru sekaligus penuh semangat menyelimuti ruang konferensi pers Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di bilangan Jakarta Pusat, Kamis (10/7/2026). Bukan presentasi data klinis yang menjadi pembu...
Jakarta – Suasana haru sekaligus penuh semangat menyelimuti ruang konferensi pers Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di bilangan Jakarta Pusat, Kamis (10/7/2026). Bukan presentasi data klinis yang menjadi pembuka, melainkan suara lembut Ratna Riantiarno yang membacakan puisi pendek karya salah satu pasien. Momen tersebut sontak menghentikan gemuruh percakapan dan mengalihkan seluruh perhatian pada sosok yang dikenal sebagai aktris senior dan pegiat budaya itu. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan pesan sederhana namun dalam: "Jiwa yang terluka, sama mulianya dengan jiwa yang sehat."
Kalimat itu menjadi fondasi pengumuman program kolaboratif terbaru antara Rumah Sakit Jiwa Jakarta dan Bakti Budaya Djarum Foundation: inisiatif terapi seni bagi para pengidap gangguan kejiwaan. Bertajuk "Seni Memeluk Luka" program ini dirancang untuk menghadirkan metode pemulihan non-medis yang mengandalkan kekuatan ekspresi kreatif—lukisan, teater, musik, dan sastra—sebagai jembatan menuju kesembuhan.
Bukan Sekadar Hiburan, tapi Harapan
Ratna, yang didapuk sebagai duta program, mengisahkan perjalanannya mengunjungi bangsal-bangsal sepi RSJ beberapa bulan terakhir. "Saya bertemu banyak saudara kita yang terisolasi tidak hanya oleh dinding rumah sakit, tetapi oleh stigma masyarakat. Di mata mereka, saya melihat bakat-bakat yang terpendam, suara-suara yang tak pernah didengar," tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Ia lantas mencontohkan seorang pasien perempuan paruh baya yang tak pernah bicara selama bertahun-tahun, namun tiba-tiba mulai menari saat mendengar alunan gamelan Jawa dalam sesi uji coba terapi. "Tubuhnya yang kaku berubah luwes. Itulah momen mengharukan yang meyakinkan kami bahwa seni adalah kunci yang selama ini terabaikan."
Program ini akan menyasar 300 pasien rawat inap dan rawat jalan dalam tahap awal, dengan melibatkan 20 seniman profesional sebagai fasilitator. Mereka berasal dari berbagai disiplin: pelukis, dramawan, penulis puisi, hingga pemusik tradisional. Menariknya, setengah dari jumlah fasilitator adalah mantan pengidap gangguan jiwa yang telah pulih dan kini berkarya. "Kami ingin memutus lingkaran pandangan bahwa orang dengan skizofrenia atau depresi berat tak bisa produktif. Mereka bukan hanya objek terapi, tetapi subjek yang bisa saling menguatkan," tegas Ratna.
Dari Bingkai Data Menuju Panggung Empati
Direktur Utama RSJ Jakarta, dr. Nugroho Wibisono, Sp.KJ, yang turut hadir, memaparkan bahwa merujuk pada Riset Kesehatan Jiwa Nasional 2025, sekitar 18,7 persen penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional ringan hingga berat, namun hanya sekitar 9 persen yang mendapat penanganan profesional. "Rendahnya angka pengobatan bukan semata soal akses, melainkan rasa malu yang dipupuk oleh mitos dan diskriminasi. Padahal, otak dan hati yang sakit membutuhkan dukungan, bukan pengucilan," ujarnya. Ia menyebut pendekatan terapi seni telah terbukti secara ilmiah mampu menurunkan kadar kortisol, hormon pemicu stres, dan meningkatkan produksi endorfin yang menimbulkan perasaan bahagia.
Bakti Budaya Djarum Foundation, yang selama ini identik dengan pelestarian seni tradisi, memandang kolaborasi ini sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang lebih luas. Perwakilan yayasan, Renata Kusumawati, menjelaskan bahwa pihaknya mengalokasikan dana sebesar Rp 5 miliar untuk dua tahun pertama, mencakup pelatihan fasilitator, penyediaan alat kesenian, dan pembangunan studio terapi di lingkungan RSJ. "Kami percaya, seni tidak hanya untuk estetika, tetapi juga untuk kemanusiaan. Jika wayang bisa merawat ingatan kolektif bangsa, mengapa ia tidak bisa merawat ingatan yang retak?" tanyanya retoris.
Kisah di Balik Layar dan Janji yang Menggema
Di balik layar megahnya konferensi pers, ada cerita sederhana yang justru paling menyentuh. Ratna membagikan pengalamannya saat diam-diam mengikuti sesi melukis bersama lima pasien remaja. Awalnya, keheningan begitu pekat. Namun, setelah satu jam, seorang pemuda kurus dengan mata sayu tiba-tiba berdiri dan menunjukkan lukisannya—kanvas penuh warna pelangi dengan siluet seorang ibu tengah memeluk anak kecil. "Dia berbisik pada saya, 'Ini ibu saya. Saya ingin pulang dan minta maaf.' Setelah itu dia menangis, lalu kami semua ikut menangis. Saya sadar, mereka bukan tidak mau sembuh; mereka hanya butuh cara untuk mengungkapkan rindu dan penyesalan yang membeku," kisah Ratna, suaranya hampir tenggelam oleh isak tangannya sendiri.
Konferensi pers ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama, namun yang lebih menggetarkan adalah saat lima pasien yang telah menjalani terapi percontohan naik ke panggung. Mereka menyanyikan lagu ciptaan sendiri berjudul "Cahaya di Ujung Lorong". Liriknya lugu, nadanya kadang fals, tetapi tepuk tangan yang bergemuruh membuktikan bahwa harapan menemukan jalannya sendiri—lewat kreativitas yang tak mengenal batas sehat atau sakit.
Kini, pertanyaan besarnya bukan lagi soal angka kesembuhan, melainkan: mampukah kita menyediakan panggung bagi mereka yang selama ini terpaksa berbisik di sudut-sudut sunyi rumah sakit jiwa? Ratna Riantiarno dan program "Seni Memeluk Luka" setidaknya telah memulai satu langkah kecil untuk menjawabnya.
Comments (0)