Ruben Onsu Bantah Tudingan Gunung Kawi, Hanya Berjuang Demi Keluarga
Di tengah riuhnya pemberitaan yang mengarah pada hal-hal berbau mistis, ada satu sudut yang jarang disorot: perasaan seorang ayah yang harus tetap tersenyum di depan ketiga anaknya, sementara namanya ...
Di tengah riuhnya pemberitaan yang mengarah pada hal-hal berbau mistis, ada satu sudut yang jarang disorot: perasaan seorang ayah yang harus tetap tersenyum di depan ketiga anaknya, sementara namanya diseret ke dalam pusaran rumor yang tak pernah ia bayangkan. Itulah potret yang mengisahkan bagaimana Ruben Onsu menjalani hari-harinya belakangan ini, saat sebuah isu artis yang diduga melakukan pesugihan ke Gunung Kawi tiba-tiba mengaitkan dirinya dan sang istri, Sarwendah.
Di balik layar kehidupan publik yang gemerlap, Ruben hanyalah seorang kepala keluarga yang setiap pagi menyiapkan susu untuk anak-anaknya. Namun, tuduhan itu datang begitu saja, menusuk dari arah yang sama sekali tidak ia sangka. "Saya ini kerja dari pagi sampai malam, urus anak tiga saja sudah capek luar biasa," ujarnya dengan nada yang terdengar lelah, namun tetap terjaga. Ada getir yang terselip di setiap katanya, bukan karena marah, melainkan karena *lelah* harus terus-menerus menjelaskan bahwa jalan hidupnya tidak pernah menyentuh yang bukan-bukan.
Klarifikasi dari Sebuah Ruang Sederhana
Di sudut ruangan yang biasa ia gunakan untuk menerima tamu, Ruben duduk dengan tenang. Tidak ada kemewahan yang mencolok di momen itu, hanya ada seorang pria yang mencoba meluruskan sesuatu yang sejak awal memang tidak bengkok. Ia mengisahkan bagaimana berita itu bermula dari sebuah konten di media sosial yang menyebutkan nama Gunung Kawi sebagai tujuan sejumlah artis mencari kekayaan instan. Tanpa konfirmasi, tanpa bukti, namanya dan nama Sarwendah langsung disebut-sebut. "Saya bahkan nggak tahu Gunung Kawi itu di mana persisnya," katanya sambil tersenyum tipis, senyum yang justru menunjukkan betapa ironisnya situasi ini.
Ruben tidak memilih untuk meledak. Ia memilih untuk duduk, berbicara, dan mengajak publik berpikir jernih. Baginya, perjuangan membangun karier dari nol hingga bisa menghidupi keluarga adalah kenyataan yang jauh lebih nyata daripada cerita mistis yang ditiupkan angin malam. "Kalau ada yang bilang saya pesugihan, terus buktinya apa? Saya kerja dari jam segini sampai jam segini, itu yang orang bisa lihat setiap hari," tegasnya. Di titik ini, Ruben bukan sekadar membantah, ia sedang membela haknya untuk dihormati sebagai manusia biasa yang bekerja keras.
"Saya ini kerja dari pagi sampai malam, urus anak tiga saja sudah capek luar biasa."
Air Mata yang Tak Terlihat di Balik Kamera
Momen yang paling mengharukan justru tidak terjadi di depan publik. Dalam beberapa kesempatan, Ruben menceritakan bagaimana isu ini sampai ke telinga anak-anaknya. Sebagai orang tua, perjalanan menjelaskan hal-hal yang bahkan orang dewasa pun sulit memahaminya adalah ujian tersendiri. Ia tidak ingin anak-anaknya tumbuh dengan beban prasangka yang tidak berdasar. "Mereka tanya, 'Papi kenapa dibilangin begitu?' Saya cuma bisa bilang, 'Nggak apa-apa, Papi baik-baik aja'," kenangnya dengan suara yang sedikit bergetar. Di sinilah letak luka yang sebenarnya: bukan pada nama besar yang ternoda, melainkan pada hati kecil yang harus belajar memahami bahwa dunia kadang tidak selalu adil pada orang yang mereka cintai.
Sarwendah, yang juga terseret dalam rumor ini, memilih untuk tetap tegar. Ruben mengisahkan bahwa istrinya adalah sosok yang paling sabar menghadapi semuanya. Mereka berdua, dengan tiga anak yang masih kecil-kecil, memilih untuk saling menguatkan. "Wenda bilang, 'Udah, nggak usah dipikirin. Kita tahu kita siapa'," ucap Ruben, mengulangi kalimat sederhana yang justru memberikan kekuatan luar biasa. Kalimat itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain, tetapi bagi mereka, itulah fondasi yang membuat rumah tangga mereka tetap berdiri tegak di tengah badai gosip.
Bangkit dari Tudingan Tanpa Dasar
Ruben memahami bahwa sebagai figur publik, rumor adalah bagian dari risiko pekerjaannya. Namun, ia berharap ada batasan yang jelas antara hiburan dan pencemaran nama baik. Inspirasi yang ia coba sampaikan sederhana: bahwa tidak semua kesuksesan berasal dari jalan pintas. Ia bangkit dari keterpurukan ekonomi di masa lalu dengan kerja keras yang bisa diceritakan secara gamblang, bukan dengan ritual di tempat yang bahkan tak pernah ia datangi. "Saya dari kecil sudah jualan, kerja serabutan. Kalau mau cerita soal perjuangan, saya bisa tunjukin semuanya," katanya mantap.
Peristiwa ini juga menjadi cermin bagi industri hiburan yang seringkali lebih tertarik pada sensasi daripada realitas. Ruben tidak marah, ia hanya ingin ceritanya ditulis dengan benar. Bahwa ada seorang ayah tiga anak yang setiap hari menghabiskan waktunya untuk keluarga dan pekerjaan, bukan untuk hal-hal gaib yang tidak masuk akal. Kisahnya menyentuh justru karena begitu sederhana: seorang pria yang mencintai keluarganya, bekerja tanpa kenal lelah, dan harus menghadapi tuduhan yang sama sekali tidak berdasar. Pada akhirnya, mungkin ini bukan soal membuktikan diri pada orang lain, melainkan soal tetap berdiri tegak ketika dunia mencoba menjatuhkan. Dan itulah yang sedang dilakukan Ruben Onsu saat ini: berdiri, dengan senyum yang mungkin sedikit lebih lelah, tapi tetap penuh keyakinan bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Comments (0)