Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

DTKJ Usul Tarif Langganan TJ Rp 200 Ribu/Bulan, Klaim Lebih Hemat bagi Pekerja

Jakarta – Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) secara resmi mengusulkan skema tarif berlangganan bulanan untuk layanan TransJakarta sebesar Rp200.000. Usulan ini digadang-gadang bisa meringankan

Jul 08, 2026 - 04:24
0 0
DTKJ Usul Tarif Langganan TJ Rp 200 Ribu/Bulan, Klaim Lebih Hemat bagi Pekerja

Jakarta – Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) secara resmi mengusulkan skema tarif berlangganan bulanan untuk layanan TransJakarta sebesar Rp200.000. Usulan ini digadang-gadang bisa meringankan beban biaya perjalanan bagi warga, khususnya para pekerja yang setiap hari mengandalkan moda transportasi umum andalan Ibu Kota tersebut. Dalam kajian terbarunya, DTKJ menilai sistem langganan sudah menjadi praktik umum di berbagai kota besar dunia dan terbukti mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal.

Ketua DTKJ Sugihardjo mengungkapkan, usulan tarif berlangganan ini merupakan bagian dari penyesuaian tarif transportasi publik terintegrasi di Jakarta. Ia menegaskan, skema ini dirancang agar pengguna setia TransJakarta mendapatkan nilai lebih dibanding membayar tarif per perjalanan.

“Kita mendorong tarif langganan. Di luar negeri banyak yang menggunakan sistem langganan. Dengan berlangganan, pengguna tidak perlu repot mengisi ulang saldo setiap saat dan bisa lebih sering memanfaatkan layanan tanpa khawatir biaya membengkak,” kata Sugihardjo di Balai Kota Jakarta, sebagaimana dikutip Beritaseputar.com, Selasa (7/7/2026).

Ia menambahkan, konsep berlangganan dapat menumbuhkan loyalitas pengguna sekaligus meningkatkan volume penumpang harian. Semakin banyak warga yang beralih ke transportasi publik, semakin signifikan pula dampaknya terhadap pengurangan kemacetan dan emisi karbon di Jakarta.

Potensi Penghematan bagi Pekerja

Jika dirinci, tarif reguler TransJakarta saat ini masih berada di angka Rp3.500 per sekali jalan. Bagi pekerja yang hanya melakukan perjalanan pulang-pergi (dua kali sehari) selama 20 hari kerja, biaya sebulan hanya mencapai sekitar Rp140.000. Namun, DTKJ berargumen bahwa mobilitas pekerja tidak terbatas pada rute rumah–kantor. Banyak pekerja yang juga menggunakan TransJakarta untuk keperluan makan siang, menghadiri pertemuan di luar kantor, atau melakukan perjalanan tambahan di akhir pekan. Dalam skenario penggunaan tiga hingga empat kali perjalanan per hari, biaya bulanan bisa menembus Rp210.000–Rp280.000. Dengan tarif langganan Rp200.000, pengguna justru menikmati penghematan signifikan.

“Skema ini akan sangat terasa manfaatnya bagi pekerja yang mobilitasnya tinggi. Mereka bisa mengakses seluruh koridor tanpa batas dengan biaya tetap per bulan. Ini jauh lebih hemat dan praktis,” terang Sugihardjo.

Mencontoh Sukses Kota Global

DTKJ merujuk pada keberhasilan sistem berlangganan di sejumlah kota besar dunia. Di London, sistem Oyster memungkinkan pelanggan membayar paket bulanan untuk akses tak terbatas ke jaringan Tube dan bus dalam zona tertentu. Singapura juga menerapkan skema serupa melalui Travel Card yang memberikan potongan harga progresif bagi pengguna setia angkutan massal. Kota-kota tersebut, kata Sugihardjo, melaporkan kenaikan jumlah penumpang reguler dan penurunan penggunaan kendaraan pribadi setelah memberlakukan tarif langganan. Hasil kajian DTKJ akan diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk dipertimbangkan dalam kebijakan tarif transportasi publik mendatang. Jika disetujui, skema ini akan menjadi lompatan besar dalam upaya meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan transportasi massal di Ibu Kota.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
salsa-bintari

Reporter Komunitas. Reporter cerita komunitas dan tren lokal.

Comments (0)

User