Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Dokter Jiwa Ungkap Alasan Korban Sulit Lepas dari Hubungan Toksik

Jul 06, 2026 - 03:43
0 0
Dokter Jiwa Ungkap Alasan Korban Sulit Lepas dari Hubungan Toksik

Fenomena korban hubungan toksik yang memilih bertahan meski terus mengalami perlakuan menyakitkan masih menjadi tanda tanya besar bagi banyak orang. Tidak sedikit pihak di luar lingkaran hubungan tersebut yang mempertanyakan mengapa korban tidak sekadar pergi dan meninggalkan pasangan yang merugikan secara mental maupun fisik. Namun, persoalannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada mekanisme psikologis kompleks yang membuat seseorang merasa terjebak dan sulit melepaskan diri dari jeratan hubungan yang tidak sehat.

Menurut penjelasan dari spesialis kejiwaan, kondisi ini berkaitan erat dengan fenomena yang dikenal sebagai trauma bonding. Istilah ini merujuk pada ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku kekerasan sebagai akibat dari siklus kekerasan yang berulang dan pola hubungan yang tidak stabil.

Siklus Kekerasan yang Menjebak Korban

Spesialis kejiwaan dr. Erickson Arthur S, SpKJ, mengungkapkan bahwa trauma bonding terjadi melalui serangkaian fase yang membentuk siklus. Fase pertama dalam siklus ini adalah terjadinya tindakan kekerasan, yang dapat berupa kekerasan fisik, verbal, maupun seksual. Pengalaman ini tentu menimbulkan ketidaknyamanan dan penderitaan yang signifikan bagi korban.

Namun, penderitaan tersebut bukanlah akhir dari siklus. Setelah insiden kekerasan terjadi, pelaku biasanya akan memasuki fase berikutnya yang justru semakin memperkuat ikatan traumatis antara korban dan pelaku. Pada fase ini, pelaku umumnya menunjukkan penyesalan dengan meminta maaf secara sungguh-sungguh dan membuat janji-janji untuk berubah, termasuk berkomitmen tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Pola permintaan maaf dan janji perbaikan ini menciptakan harapan palsu bagi korban. Korban yang mungkin masih memiliki perasaan sayang terhadap pasangannya akan cenderung memaafkan dan memberikan kesempatan kedua. Momen rekonsiliasi ini seringkali diikuti oleh periode "bulan madu" di mana pelaku bersikap sangat baik dan penuh perhatian, sehingga korban semakin yakin bahwa pasangannya benar-benar telah berubah.

Sayangnya, ketenangan ini biasanya hanya bersifat sementara. Siklus akan kembali berputar ke fase kekerasan ketika ketegangan kembali meningkat. Semakin sering siklus ini berulang, semakin kuat pula ikatan traumatis yang terbentuk, membuat korban semakin sulit mengidentifikasi hubungan tersebut sebagai sesuatu yang berbahaya dan harus diakhiri.

Pemahaman mengenai mekanisme trauma bonding ini menjadi penting, terutama bagi keluarga dan teman-teman korban yang seringkali merasa frustrasi melihat orang terdekatnya tidak kunjung meninggalkan hubungan yang jelas-jelas merugikan. Diperlukan pendekatan yang penuh empati dan dukungan tanpa menghakimi untuk membantu korban menyadari pola yang terjadi dan menemukan kekuatan untuk keluar dari lingkaran kekerasan tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User