Mengapa Jumlah Penduduk Tak Jamin Negara Bisa Sukses Tembus Piala Dunia?
Kericuhan penuh sukacita meletup di tengah lautan suporter yang memadati acara nonton bareng pada 17 Juni lalu, ketika megabintang Argentina, Lionel Messi, menjebol gawang Aljazair di Piala Dunia FIFA 2026. Namun, tak satu pun dari mereka adalah warga Argentina. Para pendukung yang berjingkrakan merayakan gol itu justru mayoritas warga lokal yang hadir di area nonton bareng terbuka di Dhaka, Bangladesh. Mereka mengenakan jersey ikonik albiceleste dengan bangga. Adegan serupa juga terekam di berbagai kota di India dan Indonesia, di mana antusiasme terhadap sepak bola begitu meluap meski negara mereka sendiri absen dari panggung utama.
Fenomena ini mengungkap fakta pahit sekaligus membingungkan: di antara 10 negara dengan populasi terbesar di dunia, hanya dua yang tampil di putaran final Piala Dunia 2026—yakni Amerika Serikat dan Brasil. Dua negara lain, Rusia dan Nigeria, memang pernah menjadi langganan di edisi-edisi sebelumnya. Namun, China dan Indonesia, masing-masing dengan populasi lebih dari 1,4 miliar dan 280 juta jiwa, baru sekali seumur hidup mencicipi putaran final. Indonesia tampil pada 1938 sebagai Hindia Belanda, sementara China baru melakukannya pada 2002. Besarnya jumlah penduduk ternyata tidak otomatis melahirkan tim nasional yang kompetitif di level tertinggi.
Akar Masalah: Bukan Soal Angka
Para pengamat sepak bola menekankan bahwa jumlah penduduk hanyalah potensi mentah. Tanpa fondasi pembinaan yang kokoh, potensi itu mustahil berubah menjadi prestasi. Infrastruktur yang memadai, kompetisi liga profesional yang sehat, dan pelatihan usia dini berbasis sains adalah kunci. Brasil, misalnya, tidak hanya memiliki populasi besar, tetapi juga ekosistem sepak bola yang mengakar kuat dari level jalanan hingga akademi elite. Amerika Serikat, meski olahraga utamanya bukan sepak bola, mampu memaksimalkan populasi besar lewat investasi masif di liga profesional, fasilitas pelatihan modern, dan program identifikasi bakat sejak dini.
Sebaliknya, negara berpenduduk besar seperti Indonesia dan China tersandung masalah struktural. Minimnya lapangan berkualitas di pelosok, ketidakstabilan manajemen liga, hingga korupsi di tubuh federasi menjadi penghambat. Di banyak daerah, sepak bola masih bergantung pada bakat alamiah tanpa sentuhan kurikulum pembinaan yang terarah. Belum lagi minimnya jam terbang kompetitif di level internasional untuk pemain muda. Hasilnya, potensi ratusan juta penduduk hanya tinggal angka dan gagal melahirkan skuad tangguh.
Jalan Menuju Panggung Dunia
Merujuk pada pengalaman negara-negara yang berhasil menembus Piala Dunia meski dengan populasi lebih kecil, seperti Uruguay (sekitar 3,5 juta jiwa) atau Kroasia (sekitar 4 juta jiwa), kuncinya terletak pada strategi jangka panjang yang konsisten. Uruguay dan Kroasia menunjukkan bahwa fokus pada pembinaan usia muda, kejelasan filosofi bermain, dan pemanfaatan diaspora pemain yang merumput di liga Eropa bisa menghasilkan tim nasional yang kompetitif. Bahkan Jepang dan Korea Selatan, dengan populasi tidak sebesar Indonesia, mampu menjadi langganan Piala Dunia berkat sistem sepak bola yang profesional serta investasi berkelanjutan di bidang kepelatihan dan infrastruktur.
Untuk Indonesia, harapan untuk tampil di Piala Dunia kembali muncul seiring dengan program naturalisasi pemain keturunan dan percepatan pembinaan di bawah kepengurusan federasi yang baru. Keberhasilan tim muda seperti U-23 yang tampil di kompetisi internasional menjadi sinyal positif. Namun, agar tidak terus-menerus menjadi penonton yang mengadopsi tim negara lain sebagai milik sendiri, Indonesia harus serius menata ulang ekosistem sepak bola nasional. Dengan populasi begitu besar, mimpi tampil di Piala Dunia bukanlah ilusi—asalkan angka itu diubah menjadi bakat, kerja keras, dan sistem yang benar.
Comments (0)