Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Doha — Spanyol Bersiap Keras Hadapi Kejutan Maroko di Piala Dunia 2022

Angin sore di Universitas Qatar, Doha, berembus pelan membelai rerumputan sintetis yang menjadi saksi bisu kesungguhan La Furia Roja. Rodri, gelandang bert

Jul 09, 2026 - 19:55
0 0
Doha — Spanyol Bersiap Keras Hadapi Kejutan Maroko di Piala Dunia 2022

Angin sore di Universitas Qatar, Doha, berembus pelan membelai rerumputan sintetis yang menjadi saksi bisu kesungguhan La Furia Roja. Rodri, gelandang bertahan yang biasanya tenang, terlihat beberapa kali menghentikan bola dengan ekspresi penuh konsentrasi. Ada sesuatu yang berbeda di sesi latihan Senin (5/12/2022) itu. Spanyol tahu, babak 16 besar bukan lagi panggung untuk bereksperimen. "Setiap sentuhan terasa seperti detak jam yang menghitung mundur," gumam seorang asisten pelatih yang berdiri di tepi lapangan, matanya tak lepas dari para pemain. "Kami menghadapi tim yang punya cerita—dan cerita itu belum selesai." Ia merujuk pada Maroko, wakil Afrika yang baru saja mengguncang Piala Dunia 2022 dengan menjadi juara Grup F.

Bagi banyak orang, Maroko adalah kejutan. Namun bagi para pemain Spanyol yang telah menonton rekaman pertandingan mereka, kejutan itu berubah menjadi kewaspadaan. "Mereka bukan tim yang hanya mengandalkan keberuntungan," kata Pedro, seorang analis taktik tim yang sudah 15 tahun bekerja untuk federasi. "Mereka adalah tim dengan struktur pertahanan terorganisir dan serangan balik mematikan. Kroasia dan Belgia merasakannya—kami tidak boleh lengah." Di sisi lain lapangan, para pemain muda Spanyol seperti Pedri dan Gavi sesekali melempar tawa, tapi sorot mata mereka mengatakan hal lain: ada beban dan kebanggaan yang harus dipikul.

Maroko dan Seni Membangun Kisah Mustahil

Maroko datang ke Qatar tanpa banyak sorotan, tapi mereka pulang dari fase grup sebagai juara—mengalahkan Belgia, menahan Kroasia, dan menyingkirkan Kanada. Prestasi itu bukan sekadar statistik; ia adalah manifestasi dari kerja keras yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Di bawah asuhan Walid Regragui, Maroko menjelma menjadi tembok kokoh yang hanya kebobolan satu gol sepanjang fase grup. Angka itu bukan kebetulan. "Pelatih Regragui menghidupkan semangat kolektif," ujar Rachid Benali, pengamat sepak bola Afrika dari media Maroc Football Inside. "Ia menyatukan diaspora pemain dari lima negara Eropa dan membuat mereka bertarung seperti keluarga."

Di kampung halaman para pemain Maroko, dari Casablanca hingga Tangier, layar-layar besar disiapkan. Anak-anak berlarian dengan kaos tim nasional, para ibu menyiapkan teh mint, dan para ayah menceritakan kisah kegemilangan Piala Dunia 1986—ketika Maroko lolos ke 16 besar untuk pertama kalinya. Kini, 36 tahun berselang, generasi baru berusaha menulis ulang sejarah.

Perbandingan Dua Gaya: Spanyol vs Maroko

AspekSpanyolMaroko
Penguasaan Bola77% (rata-rata fase grup)35% (rata-rata fase grup)
Gol Dicetak9 gol4 gol
Kebobolan3 gol1 gol
Pelanggaran per Laga1114
Kartu Kuning36

Data memperlihatkan kontras yang tajam. Spanyol, dengan penguasaan bola dominan, bermain seperti seniman yang melukis di atas kanvas. Maroko adalah prajurit yang bersembunyi di balik perisai, menunggu celah untuk menikam. Namun, dominasi Spanyol di fase grup tidak selalu berbuah kemenangan mudah—kekalahan mengejutkan dari Jepang membuktikan bahwa tim dengan penguasaan bola rendah sekalipun bisa menghukum La Roja. "Maroko adalah tim yang sabar, dan itulah yang berbahaya," kata Pedro. "Mereka seperti kobra yang menunggu momen tepat."

Di tengah sesi latihan, Rodri berhenti sejenak dan meneguk air. Ia tahu, ada lebih dari sekadar pertandingan yang dipertaruhkan. Ada mimpi 47 juta warga Spanyol yang ingin mengulang kejayaan 2010. Dan di seberang sana, ada mimpi lebih besar: benua Afrika yang haus akan wakil di perempat final. "Kami tidak bermain hanya untuk diri sendiri," ujar seorang pemain yang tak mau disebut namanya. "Tapi Maroko juga tidak. Dan mungkin, itu yang membuat laga nanti terasa istimewa."

Semua mata kini tertuju pada Education City Stadium, tempat dua mimpi akan bertabrakan. Spanyol dengan segala tradisi dan reputasi, Maroko dengan semangat dan kejutan yang telah mereka bangun. "Siapa yang akan menang?" tanya seorang jurnalis lokal kepada Luis Enrique seusai latihan. Sang pelatih tersenyum tipis. "Sepak bola adalah puisi yang ditulis oleh kaki para pemain," katanya. "Dan besok, kita akan membaca bait berikutnya."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User