Di Ruang Sidang Itu, Wardatina Mawa Melepas Insanul Fahmi
Ruangan itu hening, hanya sesekali terdengar detak jam dinding yang seolah ikut menghitung sisa-sisa pertemuan mereka. Di bangku kayu pengadilan, Wardatina Mawa menggenggam erat ujung jilbabnya, menah...
Ruangan itu hening, hanya sesekali terdengar detak jam dinding yang seolah ikut menghitung sisa-sisa pertemuan mereka. Di bangku kayu pengadilan, Wardatina Mawa menggenggam erat ujung jilbabnya, menahan sesuatu yang nyaris tumpah. Di seberangnya, Insanul Fahmi duduk dengan kepala sedikit menunduk, pandangan kosong tertuju pada meja hakim. Rabu siang itu, 8 Juli, menjadi saksi bisu berakhirnya perjalanan dua insan yang dulu pernah saling memilih.
Majelis Hakim Pengadilan Agama Lubuk Pakam mengetukkan palu tiga kali. “Gugatan cerai dari pemohon dikabulkan,” ucap ketua majelis dengan nada datar, namun kata-kata itu seperti menghantam dada setiap orang yang hadir. Wardatina menutup mata, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh tanpa suara. Insanul menggigit bibir, lalu mengangguk perlahan, seolah menerima kenyataan yang sudah lama tak terelakkan.
Perjalanan yang Berakhir di Pelaminan Hukum
Pernikahan mereka bukanlah kisah dongeng tanpa luka. Lima tahun silam, Wardatina dan Insanul menjadi sorotan publik karena pernikahan sederhana yang digelar di kampung halaman. Keduanya bukan berasal dari keluarga selebritas, tetapi cinta mereka yang bersemi sejak bangku kuliah berhasil merebut perhatian banyak orang. Di media sosial, unggahan kebersamaan mereka kerap menjadi sumber inspirasi para pengikutnya. Foto-foto penuh tawa, video pendek tentang kesibukan keluarga kecil, dan tulisan-tulisan tentang ketulusan cinta menjadi konsumsi harian ribuan pasang mata.
Namun, di balik layar, ada retakan yang tak terlihat oleh sorotan kamera. Beberapa sahabat dekat pasangan ini mengisahkan bahwa pertengkaran soal prinsip hidup dan ketidakcocokan visi masa depan semakin sering terjadi dalam dua tahun terakhir. Wardatina, yang dikenal sebagai perempuan tangguh dan mandiri, merasa perjuangannya untuk menyelaraskan peran sebagai istri dan ibu tidak mendapat ruang yang cukup. “Saya mencintai dia, tapi saya juga mencintai diri saya sendiri,” bisik Wardatina di sela-sela persidangan, suaranya nyaris tenggelam oleh isak tangis. Insanul, di sisi lain, memilih bungkam. Pria berkacamata itu hanya sesekali mengusap keningnya yang berkeringat dingin.
Di Balik Keputusan, Ada Harapan Baru
Ketika hakim membacakan putusan yang menyatakan sahnya perceraian berdasarkan hak talak yang dijatuhkan, momen mengharukan itu tidak hanya tentang perpisahan. Bagi Wardatina, ini adalah puncak dari perjuangan emosional yang melelahkan. “Saya tidak menangis karena menyesali keputusan ini. Saya menangis karena akhirnya saya bisa lega,” ujarnya lirih. Di bangku pengunjung, ibunda Wardatina menyaksikan dengan mata berkaca-kaca, sesekali menepuk bahu putrinya dengan kasih yang tak terucap.
Proses hukum yang berjalan hampir setahun itu meninggalkan jejak pelajaran berharga bagi kedua belah pihak. Wardatina mengaku, momen paling menyentuh bukanlah saat gugatan dikabulkan, melainkan ketika ia harus menjelaskan kepada putra kecil mereka tentang perubahan yang akan terjadi. “Mata anak itu yang paling sulit saya hadapi. Tapi saya percaya, ini lebih baik daripada dia melihat kedua orangtuanya terus-menerus terluka dalam diam,” katanya. Insanul pun, meski tak banyak bicara, menyampaikan bahwa ia menghargai keberanian Wardatina untuk menyudahi kebersamaan yang sudah tak lagi sehat bagi keduanya.
Masa Depan yang Menanti
Pascaputusan, Wardatina tidak ingin berlama-lama meratapi masa lalu. Ia memilih kembali ke dunia yang sempat ditinggalkannya untuk fokus pada rumah tangga: dunia menulis dan pemberdayaan perempuan. Beberapa jam setelah sidang, ia sudah menghubungi komunitasnya, merencanakan lokakarya online untuk para ibu muda yang mengalami kebingungan serupa. “Saya tidak mau kisah saya hanya menjadi gosip. Saya ingin ini menjadi inspirasi bagi perempuan lain, bahwa tidak apa-apa untuk bangkit dan memilih bahagia dengan cara yang berbeda,” tuturnya, kali ini dengan nada yang lebih mantap.
Insanul pun demikian. Ia kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak mereka, belajar menjadi ayah yang lebih hadir. Di media sosial, unggahan terbarunya memuat foto bersama si kecil di taman, dengan keterangan singkat: “Kita belum selesai. Kita hanya memulai babak baru.” Komentar dukungan dari warganet membanjiri unggahan itu, membuktikan bahwa di setiap akhir, selalu ada awal yang baru.
Perpisahan Wardatina dan Insanul bukanlah sekadar kabar perceraian selebritas yang berlalu begitu saja. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap putusan hakim, ada air mata, ada mimpi yang dirajut ulang, dan ada cinta yang berubah bentuk—bukan hilang, melainkan beringsut menuju sudut-sudut yang lebih layak untuk tumbuh.
Baca juga:
Comments (0)