Sisi Lain Vicky Prasetyo: Bantah Isu Penelantaran Istri Sirinya
Suara azan maghrib baru saja berlalu ketika ponsel di meja rias itu kembali bergetar. Puluhan notifikasi membanjiri layar, sebagian besar berisi komentar pedas dan tuduhan yang dialamatkan kepadanya. ...
Suara azan maghrib baru saja berlalu ketika ponsel di meja rias itu kembali bergetar. Puluhan notifikasi membanjiri layar, sebagian besar berisi komentar pedas dan tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Di tengah gemerlap dunia hiburan yang tak pernah benar-benar sunyi, seorang pria harus kembali bersuara—bukan untuk membela karier, melainkan mempertahankan kehormatannya sebagai suami.
Vicky Prasetyo, nama yang selama ini lekat dengan kontroversi dan sensasi, kali ini berdiri di posisi yang berbeda. Ia bukan sedang melontarkan istilah nyeleneh atau menciptakan momen viral. Ia sedang berusaha meluruskan kabar yang menyebut dirinya telah menelantarkan istri siri yang kini tengah mengandung buah hati mereka. Tudingan itu menyebar cepat, dan di era ketika kebenaran sering kali kalah oleh kecepatan jempol, Vicky memilih untuk angkat bicara.
Di Antara Dua Dunia
Mengisahkan kehidupan pribadi seorang figur publik ibarat membaca buku dengan sampul yang sudah dicoret-coret opini orang lain. Setiap halaman yang terbuka selalu dihakimi sebelum sempat dipahami. Vicky tahu betul bagaimana rasanya berada di posisi itu. Sepanjang kariernya, ia lebih sering dilihat sebagai karakter di panggung hiburan ketimbang manusia biasa yang juga memiliki keluarga, tanggung jawab, dan perasaan.
Namun kali ini, persoalannya jauh lebih dalam. Pernikahan siri yang dijalaninya bukan sekadar status hukum yang kerap diperdebatkan, melainkan ikatan emosional yang melibatkan dua insan dan calon kehidupan baru yang akan segera hadir. Istri sirinya tengah memasuki usia kehamilan tua—masa-masa yang seharusnya dipenuhi dengan dukungan penuh dan ketenangan. Justru di saat seperti inilah kabar tak sedap itu muncul dan mengoyak suasana.
"Ini bukan tentang uang semata," ucapnya suatu sore, dengan intonasi yang terdengar lebih lelah dari biasanya. "Ini tentang harga diri sebagai laki-laki yang bertanggung jawab."
Rumah Tangga di Bawah Sorotan
Di balik layar setiap pemberitaan, selalu ada cerita yang tidak pernah tertangkap kamera. Tentang pagi-pagi yang dimulai dengan doa bersama, tentang tangan yang menggenggam erat di ruang pemeriksaan kehamilan, tentang diskusi kecil memilih nama untuk sang calon buah hati. Hal-hal sederhana yang jarang menjadi tajuk utama, tetapi justru di sanalah kehidupan sesungguhnya berdenyut.
Mereka yang dekat dengan Vicky menceritakan bagaimana ia berusaha membagi waktunya antara pekerjaan dan mendampingi istri. Dunia hiburan memang menuntut kehadiran fisik dan mental yang tidak sedikit, tetapi ada prioritas yang perlahan bergeser. Menjadi calon ayah untuk kesekian kalinya menyadarkannya bahwa tidak ada panggung yang lebih penting daripada rumah.
Tudingan penelantaran, menurut versi yang ia bantah, sama sekali tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa komunikasi dengan sang istri siri tetap berjalan baik, kebutuhan materi terpenuhi, dan yang terpenting, dukungan moril tidak pernah putus. "Orang boleh bicara apa saja, tapi saya tahu apa yang saya lakukan untuk keluarga saya," katanya dengan nada yang berusaha tetap tenang.
Perjuangan Membungkam Stigma
Masyarakat sering kali lupa bahwa figur publik juga manusia. Mereka bisa terluka oleh kata-kata, bisa lelah oleh penghakiman, dan bisa menangis di tempat yang tak terlihat. Stigma yang melekat pada diri Vicky selama bertahun-tahun membuat langkahnya selalu diiringi prasangka. Apapun yang ia lakukan, persepsi negatif selalu siap menyambut.
Dalam konteks pernikahan siri, ada kerumitan tersendiri. Status hukum yang tidak sekuat pernikahan resmi di mata negara kerap dijadikan celah untuk meragukan komitmen seseorang. Padahal, bagi sebagian orang, ikatan ini sama sakralnya, sama dalamnya, dan sama seriusnya. Vicky berusaha membuktikan bahwa ia tidak main-main dengan tanggung jawabnya meskipun struktur formalnya berbeda.
"Setiap malam saya telepon, tanya kabar, tanya kondisi kandungan. Kalau itu namanya menelantarkan, lalu apa definisi merawat?" ujarnya suatu kali, dengan sedikit getir di ujung kalimat.
Harapan di Tengah Badai
Hidup tidak pernah sepenuhnya hitam atau putih. Di tengah riuhnya pemberitaan yang saling bertabrakan, ada seorang calon ibu yang sedang berjuang menjaga kesehatannya dan calon bayinya. Ada seorang suami yang berusaha melindungi keluarganya dari gempuran berita yang melelahkan. Ada mimpi tentang kelahiran yang lancar, tangisan pertama sang buah hati, dan masa depan yang lebih tenang dari hari-hari yang penuh kegaduhan ini.
Vicky Prasetyo mungkin tidak akan pernah bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang kontroversi yang telah menjadi bagian dari narasi dirinya. Namun di balik semua itu, ia mencoba menulis bab baru—sebagai suami yang hadir, sebagai calon ayah yang bersiap menyambut, dan sebagai manusia yang berhak untuk dipercaya sebelum dihakimi.
Di sudut ruangan yang sunyi, jauh dari sorot lampu panggung, seorang pria duduk menatap layar ponselnya. Di sana, foto hasil USG terbaru tersimpan rapi—gambar samar calon manusia yang sebentar lagi akan mewarnai hidupnya. Mungkin inilah pengingat paling sederhana: bahwa di atas segala hiruk-pikuk kemasyhuran, selalu ada hati yang berdetak untuk sesuatu yang lebih kekal dari sekadar popularitas.
Baca juga:
Comments (0)