Di Balik Sisa Asap Rokan Hilir, Harapan Tak Pernah Padam

Di sudut jalan tanah yang mulai mengering, Marno (45 tahun) meneguk kopi hitam dari gelas plastik usang. Matanya masih merah, bukan karena kantuk, melainkan karena asap yang selama sepekan terakhir me...

Jul 12, 2026 - 21:01
0 0

Di sudut jalan tanah yang mulai mengering, Marno (45 tahun) meneguk kopi hitam dari gelas plastik usang. Matanya masih merah, bukan karena kantuk, melainkan karena asap yang selama sepekan terakhir menjadi sarapan, makan siang, dan makan malamnya. Lahan gambut di belakang rumahnya sudah tak lagi menjilat api, tapi kepulan putih tipis masih setia mengepul, seolah enggan benar-benar pergi dari Rokan Hilir.

Begitulah suasana pagi di salah satu titik yang baru saja “dinyatakan aman” oleh tim gabungan. Bagi warga seperti Marno, kata aman masih terasa terlalu mewah. Titik api sudah tak terpantau, namun bara di kedalaman tanah terus mengirimkan sinyal waspada. Asap yang tersisa bukan sekadar sisa kebakaran, melainkan pengingat bahwa perjuangan belum usai.

Bukan Sekadar Memadamkan Api

Marno adalah satu dari ratusan relawan yang turun langsung sejak api pertama kali melahap lahan gambut dua minggu lalu. Ia ingat betul malam itu—langit berubah jingga, bau sangit memenuhi udara, dan jeritan panik tetangga terdengar dari segala arah. “Saya langsung ambil selang seadanya. Istri saya teriak, jangan pergi. Tapi saya sudah lihat bagaimana tetangga saya menangis melihat kebunnya habis,” kenangnya, suaranya bergetar. Bukan sekadar api yang harus dilawan, tapi juga rasa takut kehilangan.

Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, dan warga setempat, telah bekerja tanpa henti. Mereka tak hanya memadamkan titik api yang terlihat, tetapi juga menginjeksi air ke dalam tanah gambut yang membara di kedalaman. Pekerjaan itu jauh lebih sulit dari sekadar menyiram permukaan. “Gambut itu seperti spons raksasa yang menyimpan api. Kalau tidak didinginkan sampai ke akar, besoknya bisa muncul lagi,” jelas Marno, masih dengan mata yang terus mengawasi lahan.

Luka di Tanah Gambut

Kepala Dusun setempat, Pak Rahmat, berdiri di atas tanah yang menghitam. Di belakangnya, batang-batang sagu berdiri dengan daun yang menghangus seperti kertas terbakar. “Ini bukan pertama kali. Tapi setiap kali terjadi, rasanya seperti ditusuk lagi,” katanya lirih. Tanah gambut ini, katanya, seperti tubuh yang memiliki memori luka. Ketika terbakar, ia bisa menyimpan bara berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, sebelum akhirnya benar-benar padam.

Itulah mengapa meski titik api sudah tak terpantau, tim masih siaga penuh. Fokus mereka bergeser pada pendinginan. Truk tangki air masih mondar-mandir, mengisi kolam-kolam seadanya yang digali warga bergotong royong. Suara pompa air menderu nyaring, menjadi latar yang jenaka sekaligus melegakan. Bagi siapa pun yang mendengarnya, itu adalah tanda bahwa harapan masih dipertahankan.

Air Mata dan Tawa di Posko Darurat

Di posko darurat beralas terpal biru, saya bertemu Lastri (38 tahun). Di tangannya, daun pisang berubah menjadi pembungkus nasi yang rapi. Nasi bungkus itu ia siapkan setiap hari untuk para pemadam, dibantu kedua anaknya yang duduk di dekat tumpukan karung. “Mereka takut kalau malam tiba. Takut asapnya balik lagi. Jadi saya ajak ke sini saja, biar lihat bapak-bapak yang sedang bekerja. Supaya mereka tahu, ada yang menjaga,” tuturnya, matanya berkaca-kaca namun bibirnya tersenyum.

Pemandangan paling mengharukan terjadi siang itu: seorang pemadam muda, Kopda Andi, tertidur pulas di atas tumpukan karung pasir. Seragamnya kotor, wajahnya lusuh, tapi tidurnya begitu lelap. Rekan-rekannya hanya meletakkan sebotol air mineral di dekat kepalanya, tanpa berniat membangunkannya. Semua paham, di medan seperti ini, tidur adalah kemewahan yang harus dihormati.

“Kami belum bisa bilang ini selesai,” ujar Komandan Tim Lapangan, Bapak Hendra, dengan suara serak yang nyaris hilang. “Tapi kami bisa bilang, kami tidak akan pergi sebelum semuanya benar-benar padam.”

Harapan yang Tak Boleh Padam

Menjelang sore, langit mendadak berbisik menurunkan rintik hujan. Hujan kecil itu langsung disambut sujud syukur oleh warga yang sejak pagi menengadah. Marno keluar dari tenda, mendongak, membiarkan air membasahi wajahnya yang legam oleh jelaga. “Ini hadiah,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. Namun matanya tetap waspada. Ia tahu, gambut belum sepenuhnya aman; hujan mungkin mendinginkan permukaan, tapi bara di bawah sana masih bisa bertahan.

Di ujung posko, Lastri memeluk anak-anaknya yang kini menggambar langit biru di atas kardus bekas. Gambar itu, meski sederhana, adalah potret dari masa depan yang mereka inginkan: bebas asap, bebas ketakutan. Bencana karhutla di Rokan Hilir mungkin belum usai. Tapi dari sini, kita belajar bahwa harapan seringkali tumbuh justru di atas tanah yang pernah terbakar. Dari para pemadam yang tak kenal lelah, dari ibu-ibu yang membungkus nasi, dari anak-anak yang menggambar langit biru—mereka adalah nyala yang lain, nyala kehidupan yang tak boleh padam.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User