Di Balik Renyah Rengginang: Kisah Manis Gurih dari Dapur Sederhana

Di sudut dapur berukuran 3x4 meter yang berpendar oleh cahaya lampu minyak, uap mengepul dari kukusan besar anyaman bambu. Aroma pandan dan kelapa parut menyeruak, bergulung bersama udara pagi yang ma...

Jul 12, 2026 - 14:42
0 0
Di Balik Renyah Rengginang: Kisah Manis Gurih dari Dapur Sederhana

Di sudut dapur berukuran 3x4 meter yang berpendar oleh cahaya lampu minyak, uap mengepul dari kukusan besar anyaman bambu. Aroma pandan dan kelapa parut menyeruak, bergulung bersama udara pagi yang masih dingin. Jemari keriput itu—penuh guratan waktu—dengan sabar menyendok adonan ketan pulen ke atas tampah, menatanya satu per satu dalam bulatan pipih yang kelak akan menjelma camilan paling dirindu: rengginang ketan manis gurih. Di sanalah kisah Mbah Siti, 72 tahun, dimulai setiap hari sejak lima dekade silam.

Bagi orang luar, rengginang mungkin sekadar kudapan tradisional yang makin langka. Namun bagi Mbah Siti, setiap butirnya adalah jejak perjalanan seorang perempuan yang menjadikan dapur sebagai medan juang, tempat ia bangkit setelah suami berpulang, tempat ia membesarkan tiga anak, dan tempat ia merawat mimpi yang tak pernah padam: agar warisan rasa dari sang ibu tetap hidup di lidah generasi kini.

Tangan yang Tak Lelah Mengayuh Hidup

Duduk di atas dingklik kayu, Mbah Siti mengisahkan bahwa resep rengginang ini bukanlah temuannya sendiri. Ia mewarisinya dari ibunda, seorang perempuan penjaja jajanan pasar di Pasar Beringharjo pada tahun 1960-an. “Waktu kecil, saya cuma bisa bantu njemur rengginang di halaman,” kenangnya, sambil terus menepuk-nepuk adonan di telapak tangannya. “Ibu ndak pernah nulis resep. Semua diajarkan lewat rasa dan rasa.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan kedalaman. Resep yang tak pernah dituliskan di atas kertas justru menjadi peta kehidupan yang membimbing Mbah Siti melewati masa-masa terberat. Ketika pada tahun 1998 sang suami terkena PHK massal, rengginang berubah dari sekadar warisan budaya menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Setiap subuh, sebelum ayam jantan berkokok, tangannya sudah mengukus ketan. Siangnya, ia menjemur bulatan-bulatan putih itu di bawah terik matahari, berharap malam nanti hasilnya bisa dititipkan ke warung-warung tetangga.

“Kadang kalau hujan tiba-tiba, saya nangis sendiri. Bukan karena capek, tapi karena rengginang yang sudah setengah kering itu jadi lembab lagi. Rasanya seperti diulur mundur,” ujarnya, suaranya sedikit bergetar. “Tapi anak-anak butuh makan. Jadi ya harus terus jalan.”

Rahasia Manis Gurih di Balik Ketan Pilihan

Bagi Mbah Siti, tak ada yang instan dalam mencipta rengginang yang sempurna. Prosesnya bertahap dan menuntut kesabaran ekstra: beras ketan putih terbaik direndam semalaman, ditiriskan, lalu dikukus hingga setengah matang. Barulah ia mencampurkan parutan kelapa muda, garam secukupnya, dan sedikit gula pasir—satu-satunya catatan yang ia ubah dari resep asli ibunya. “Ibu dulu pakai gula jawa, tapi anak-anak sekarang lebih suka yang tidak terlalu dominan rasa gula merahnya,” katanya sambil tersenyum.

Setelah dikukus kembali hingga benar-benar tanak, adonan ditumbuk ringan—bukan dilembutkan total seperti mochi. Di sini letak kuncinya: buliran ketan yang masih terasa saat digigit itulah yang akan menciptakan tekstur renyah yang khas setelah dijemur dan digoreng. Mbah Siti selalu menekankan pentingnya menjemur di atas tampah atau nampan bambu yang sudah ditaburi sedikit sagu, agar tidak lengket. Proses penjemuran itu sendiri memakan waktu seharian penuh, tergantung sinar matahari.

Namun tantangan sesungguhnya adalah ketika tiba saat menggoreng. Minyak kelapa yang melimpah dan api kecil sedang adalah syarat mutlak. “Kalau apinya terlalu besar, rengginang mekar tapi gosong di pinggir,” jelasnya. “Harus sabar nunggu dia mengembang sendiri. Seperti hidup, ndak bisa dipaksa.”

Dari Dapur Kecil ke Meja oleh-oleh

Dapur sederhana itu hari ini bukan lagi ruang sunyi. Sejak dua tahun lalu, seorang mahasiswi jurusan tata boga dari universitas negeri setempat mendatangi Mbah Siti untuk mendokumentasikan resepnya. Kolaborasi kecil itu menghasilkan kemasan anyaman bambu dan label bertuliskan “Rengginang Mbah Siti Rasa Manis Gurih Legendaris”. Pesanan pun mulai mengalir dari luar kota—dari Jakarta, Bandung, bahkan pernah satu kali dari Malaysia.

“Saya cuma nggak percaya. Yang biasanya cuma dimakan cucu sendiri, sekarang dikirim pakai ekspedisi,” tuturnya sambil mengelap keringat di dahi. Di balik rona bahagia itu, ada sesuatu yang menggetarkan: ia baru sadar bahwa apa yang ia lakukan selama puluhan tahun adalah bentuk bertahan hidup yang kini berubah menjadi inspirasi. Ketika ditanya apa yang paling berharga dari perjalanannya, Mbah Siti menunjuk sebuah foto yang ditempel di dinding dapur: potret ibunya, mengenakan kebaya sederhana sambil menata rengginang di pasar.

“Setiap gigitan rengginang ini, saya merasa ibu masih ada,” bisiknya. “Rasanya manis karena kenangan, gurih karena air mata yang sudah tumpah.”

Kisah yang Tak Hanya Renyah di Mulut

Matahari mulai meninggi ketika tiga bulatan rengginang terakhir dimasukkan ke dalam wajan. Minyak kelapa berdesis, dan dalam hitungan detik rengginang mengembang penuh, putih bersih dengan semburat kuning keemasan di pinggirnya. Aroma gurih kembali menyelimuti dapur, kali ini bercampur haru. Mbah Siti mematikan kompor, lalu meletakkan rengginang yang sudah mateng di atas kertas minyak. Cicitnya yang berusia lima tahun berlari menghampiri, meminta sepotong.

Di tangan kecil itu, sebutir rengginang menjelma lebih dari sekadar camilan. Ia adalah surat cinta dari masa lalu yang akhirnya terkirim ke masa depan. Dari dapur kecil seluas 3x4 meter, Mbah Siti mengajarkan bahwa resep terbaik bukanlah yang paling lengkap takarannya, melainkan yang paling banyak mengaduk rasa—antara manis, gurih, dan keikhlasan. Sebab hidup, seperti rengginang, kadang harus dijemur terik dulu agar bisa naik dan mengembang sempurna.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User