Di Balik Pintu Pertemuan KAHMI: Harapan akan Penegak Hukum yang Bersatu

Ruangan itu tidak besar. Sebuah meja panjang dikelilingi wajah-wajah yang tak asing dengan dunia gerakan dan kebangsaan. Di sudut ruangan berukuran sederhana itu, tumpukan berkas dan beberapa gelas ko...

Jul 13, 2026 - 11:26
0 0

Ruangan itu tidak besar. Sebuah meja panjang dikelilingi wajah-wajah yang tak asing dengan dunia gerakan dan kebangsaan. Di sudut ruangan berukuran sederhana itu, tumpukan berkas dan beberapa gelas kopi yang mulai dingin menjadi saksi bisu sebuah diskusi yang berlangsung sejak pagi. Di antara deretan kursi, seorang peserta menunduk sejenak, merapikan catatan kecilnya, lalu mengangkat wajah dengan sorot mata yang sulit disembunyikan: keprihatinan yang dalam.

Itulah potongan suasana ketika Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam atau MN KAHMI menggelar salah satu pertemuan pentingnya baru-baru ini. Jauh dari hingar-bingar pemberitaan, organisasi yang menaungi para alumni HMI ini merumuskan satu keresahan yang mengendap: persepsi rivalitas di antara lembaga-lembaga penegak hukum yang kian mengemuka di ruang publik. Bukan perkara sepele, isu ini menyentuh sendi paling dasar dari rasa keadilan masyarakat.

Gelombang Keresahan yang Tak Lagi Bisa Dibendung

Seorang kader senior yang hadir kala itu mengisahkan bagaimana dirinya kerap mendengar perbincangan di warung kopi hingga ruang keluarga; nada-nada kebingungan warga biasa yang mempertanyakan, "Mengapa para penegak hukum seperti berjalan sendiri-sendiri?" Pertanyaan sederhana yang menyimpan kegelisahan besar. Sebab bagi masyarakat awam, keadilan bukanlah panggung unjuk kekuatan antarlembaga. Keadilan adalah kepastian. Ia tak butuh drama. Ia hanya butuh hadir dengan tenang dan tegas.

"Kami melihat ada sesuatu yang perlu diluruskan," ujar seorang perwakilan MN KAHMI, suaranya tenang namun sarat penekanan. "Bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan untuk mengingatkan bahwa di luar sana ada jutaan rakyat yang berharap para penegak hukum bersatu." Harapan yang begitu manusiawi. Karena di setiap kasus yang tertunda dan di setiap putusan yang dirasa ganjil, ada wajah-wajah mereka yang menanti—para pencari keadilan yang lelah.

Sinergi, Bukan Sekadar Kata di Atas Kertas

Pertemuan itu tidak berhenti pada keprihatinan. MN KAHMI menekankan bahwa sinergi antarlembaga penegak hukum harus diperkuat, bukan semata-mata sebagai jargon birokrasi yang tertulis rapi dalam nota kesepahaman. Sinergi yang hidup, yang berdenyut dalam koordinasi nyata di lapangan. Sebab rivalitas—atau bahkan sekadar persepsi akan adanya rivalitas—adalah luka yang diam-diam menggerogoti kewibawaan institusi penegak hukum itu sendiri.

"Kita tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Masyarakat melihat, merasakan, dan bertanya-tanya. Inilah saatnya semua pihak duduk bersama, menurunkan ego sektoral, dan membangun kembali kepercayaan publik."

Kata "ego" itu disebut berulang kali dalam forum tersebut. Para peserta menyadari, di balik persoalan struktural dan prosedural, ada dimensi manusiawi yang tak kalah pelik: godaan untuk merasa paling benar, paling berwenang, paling besar. Padahal dalam sistem peradilan yang ideal, keadilan adalah orkestra, bukan pertunjukan solo. Setiap instrumen—kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan lembaga terkait lainnya—harus memainkan perannya secara harmonis.

Suara dari Ruang Kecil yang Bisa Menggema Jauh

Di tengah diskusi yang kadang hangat, sesekali terdengar tawa kecil mencairkan ketegangan. Namun benang merahnya tetap satu: menolak rivalitas, memperkuat sinergi. MN KAHMI, sebagai wadah para alumni dengan latar belakang beragam—mulai dari birokrat, akademisi, politisi, hingga pekerja profesional di berbagai bidang—merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan ini.

Seorang peserta lain menambahkan dengan nada yang lebih personal. Ia mengenang masa mudanya di HMI, ketika ia belajar bahwa perjuangan sejati tidak pernah tentang siapa yang paling menonjol, melainkan tentang siapa yang paling ikhlas berkolaborasi. "Nilai itu tidak boleh luntur," katanya pelan, nyaris seperti berbisik pada diri sendiri. Namun bisikan itu mampu membuat ruangan hening sejenak. Seakan semua yang hadir kembali teringat pada alasan mereka dulu bergabung dengan organisasi ini: untuk memberi makna, bukan untuk mencari panggung.

Di penghujung pertemuan, tidak ada resolusi yang heroik. Hanya ada satu keyakinan yang diam-diam menguat: bahwa perubahan besar seringkali berawal dari keberanian untuk mengakui bahwa ada yang perlu diperbaiki. Dan MN KAHMI telah mengambil langkah itu—menyuarakan keprihatinan dengan bahasa yang jujur, membangun jembatan di antara tembok-tembok sektoral yang terkadang terlalu tinggi.

Kini pesan itu telah dilemparkan ke publik. Bola berada di tangan para pemangku kepentingan. Apakah seruan ini akan berubah menjadi aksi nyata, atau sekadar menggema sesaat sebelum tenggelam dalam hiruk-pikuk berita lainnya? Yang jelas, dari sebuah ruangan sederhana itu, sebuah pengingat penting telah lahir: keadilan hanya bisa ditegakkan ketika para penegaknya berjalan bersama, bukan saling berlomba menjadi yang terdepan tanpa peduli arah bersama. Dan bagi masyarakat yang menanti di luar sana, kesatuan langkah itu bukanlah kemewahan—melainkan hak paling mendasar yang harus dipenuhi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User