Ramalan Piala Dunia: Cerita Hangat di Balik Angka

Di sudut warung kopi sederhana di bilangan Senen, Jakarta, seorang pria paruh baya menyalakan lilin kecil di atas meja dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar saat menuliskan angka di selembar ker...

Jul 13, 2026 - 10:58
0 0

Di sudut warung kopi sederhana di bilangan Senen, Jakarta, seorang pria paruh baya menyalakan lilin kecil di atas meja dengan hati-hati. Tangannya sedikit gemetar saat menuliskan angka di selembar kertas bekas amplop cokelat. Ini bukan ritual mistis, melainkan tradisi keluarga yang telah ia jaga selama lebih dari dua dekade. Namanya Darmanto, 54 tahun, seorang penjaga sekolah yang setiap empat tahun sekali menjelma menjadi ‘peramal’ dadakan di lingkungannya. Di sekelilingnya, warga berkumpul, menanti hasil ramalan skor pertandingan pembuka Piala Dunia. Suara gelak tawa dan canda mewarnai malam itu, seolah pertandingan sudah dimulai sebelum peluit berbunyi.

Awal Mula Sebuah Tradisi

Darmanto mengisahkan, kebiasaan meramal skor ini bermula dari sang ayah, almarhum Pak Suroto, seorang pecinta sepak bola sejati. “Setiap kali Piala Dunia tiba, Bapak selalu mengajak saya duduk bersama di depan televisi hitam-putih kami yang kecil. Sebelum pertandingan dimulai, beliau akan mengeluarkan buku tulis lusuh dan meminta saya menebak skor akhir,” kenang Darmanto dengan mata berkaca-kaca. “Bapak selalu bilang, ‘Meramal itu bukan soal benar atau salah, Nak. Ini tentang keberanian untuk percaya pada harapan.’” Kalimat sederhana itu tertanam kuat di hatinya. Momen-momen itu menjadi kenangan paling berharga, di mana jarak antara ayah dan anak mencair lewat satu pertanyaan kecil: “Menurutmu, skornya berapa?” Saat sang ayah berpulang sepuluh tahun lalu, Darmanto nyaris menghentikan tradisi itu. Namun, di Piala Dunia berikutnya, ia mendapati dirinya kembali membuka buku tulis yang sama, seolah merasakan kehadiran sang ayah di sampingnya. Bahkan, kini anak-anaknya sendiri ikut mencoretkan angka di kertas, menyambung jembatan rasa yang telah terbentang lintas generasi.

Lebih dari Sekadar Angka

Kini, tradisi ramal-meramal Darmanto telah menjadi magnet sosial di kampungnya. Setiap malam pertandingan, warung kopi sederhana itu berubah menjadi ruang penuh antusiasme. Anak-anak kecil duduk di lantai, sementara bapak-bapak membawa cemilan sendiri. Mereka bukan hanya ingin tahu angka, tetapi merindukan momen kebersamaan yang hangat. “Pak Darmanto jarang sekali benar ramalannya,” celetuk Bu Tuti, tetangganya, sambil tertawa. “Tapi kami tetap datang. Karena di sini, kami merasakan kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh gadget atau media sosial.” Ramalan Darmanto sering kali melenceng jauh, namun justru ketidakakuratan itu yang menjadi bahan candaan yang mempererat hubungan warga. Ada kalanya seorang bocah laki-laki, Rian, berhasil menebak skor tepat dan seketika menjadi bintang malam itu—ia digendong keliling sambil disoraki bangga. Mereka berbagi tawa, kecewa bersama, dan sesekali bersorak saat tebakan jitu meleset atau tepat sasaran. Bagi mereka, ramalan hanyalah alasan untuk berkumpul; alasan untuk saling menatap dan mengobrol di tengah dunia yang kian sibuk.

Ketika Ramalan Menjadi Jembatan Rasa

Fenomena meramal di ajang Piala Dunia sebenarnya bukan hal baru. Dunia pernah dihebohkan oleh Paul si gurita yang fenomenal, atau hewan-hewan ‘cenayang’ lainnya. Namun, bagi Darmanto dan warga sekitar, ramalan tidak pernah sekadar soal benar-salah. “Saya rasa, setiap manusia butuh sesuatu untuk dipegang. Butuh harapan kecil di tengah ketidakpastian,” ujarnya pelan sambil menyeka sisa kopi di bibir gelas. Malam itu, saat tim favoritnya kalah telak, Darmanto justru tersenyum. Kertas ramalannya yang berisi skor kemenangan 3-1 untuk tim tersebut diremasnya, lalu ia ambil kertas baru. “Besok kita coba lagi,” katanya, disambut anggukan semangat dari mereka yang hadir. Di situlah letak keindahannya: bukan pada tepatnya angka, melainkan pada nyala harapan yang tak pernah padam. Di sudut warung kopi yang remang, di antara deru kipas angin dan suara komentator televisi, Piala Dunia terasa begitu dekat—bukan hanya sebagai panggung para bintang lapangan, tetapi juga panggung manusia biasa yang merayakan hidup dengan cara yang paling sederhana: menebak, berharap, dan tertawa bersama. Kisah Darmanto mengingatkan kita bahwa setiap angka yang tertulis di kertas usang itu sesungguhnya adalah jejak perjuangan melawan sepi, dan ajang empat tahunan ini telah menjadi wadah keajaiban kecil yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan generasi mendatang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User