Jahitan Asa Mbah Yati: Kisah Inspiratif dari Pusaran Demografi
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter yang pengap oleh aroma malam dan asap kayu bakar, Mbah Yati duduk bersila. Jemari keriputnya lincah menari di atas selembar kain mori, goresan canting berisi lilin...
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter yang pengap oleh aroma malam dan asap kayu bakar, Mbah Yati duduk bersila. Jemari keriputnya lincah menari di atas selembar kain mori, goresan canting berisi lilin panas membentuk pola parang yang rumit. Usianya sudah 72 tahun, tapi setiap pagi sejak subuh, ia sudah setia di depan kompor kecil itu. Kesederhanaan yang penuh daya hidup.
Tak ada yang menyangka, dari tangan seorang janda yang hanya tamat SD ini, terlahir batik tulis yang kini dipesan kolektor dari tiga benua. Di tengah percakapan tentang penurunan demografi, Mbah Yati menjadi potret bahwa usia bukanlah titik akhir, melainkan awal dari kekuatan baru.
Di Balik Layar Canting dan Malam
Namanya Mbah Yati, warga Sokaraja, Banyumas. Sejak suaminya meninggal 15 tahun lalu, ia menolak untuk sekadar menunggu kiriman dari anak-anaknya yang merantau. “Saya tak bisa diam, tangan ini harus terus bergerak. Kalau berhenti, badan terasa kaku, hati pun ikut mati,” kisahnya suatu siang, sembari menyeka peluh. Air muka itu tak sedih, justru bercahaya seperti malam yang mulai mencair di atas kompor.
Berawal dari iseng membatik untuk selendang sendiri, Mbah Yati mendapat pesanan dari seorang kerabat yang membuka toko suvenir. Lambat laun, kualitas batiknya yang teliti dan motif-motif lawas yang langka membuatnya dikenal. Kini, ia memiliki enam orang pekerja, semuanya ibu-ibu lanjut usia yang sebelumnya menganggur. Di ruang kecil itulah, perjuangan tak berwajah renta berlangsung setiap hari.
Perjalanan Menyentuh Hati
Momen paling mengharukan terjadi dua tahun silam, saat seorang perempuan muda dari Yogyakarta menemukannya. Perempuan itu adalah desainer yang tertarik pada motif batik klasik yang nyaris punah. Setelah melihat langsung proses Mbah Yati, ia memeluk sang nenek sambil menitikkan air mata. “Dia bilang, karyanya lebih bertenaga dari lulusan kampus seni mana pun. Kata-kata itu buat saya seperti mimpi,” ujar Mbah Yati, matanya berkaca-kaca.
Sejak saat itu, batik Mbah Yati mulai masuk ke pameran-pameran, bahkan ada yang dibawa hingga ke Eropa. Setiap lembar kain menyimpan inspirasi tentang kebangkitan di usia senja. Bukan hanya tentang uang, baginya membatik adalah jalan untuk tetap terhubung dengan kehidupan, memberi warisan makna pada cucu-cucu yang kadang mampir.
Mimpi di Tengah Penuaan Bangsa
Indonesia memang tengah berhadapan dengan gelombang penuaan penduduk. Data menunjukkan proporsi lansia terus bertambah, sementara jumlah usia produktif menyusut. Namun, perjalanan Mbah Yati mengisahkan bahwa silver economy bukan sekadar jargon. Para lansia seperti dirinya adalah aset ekonomi yang terlupakan.
“Orang tua itu bukan beban. Kami masih punya tenaga, punya ketrampilan, yang anak-anak muda sekarang banyak yang enggak bisa,” katanya tegas. Ia bermimpi memiliki sanggar kecil agar ilmunya tidak lenyap, mengajari generasi muda untuk mencintai batik tulis. Dari balik kacamatanya, ada binar optimisme yang sulit dipatahkan.
Pemerintah daerah pun mulai melirik. Meski kecil, usaha Mbah Yati menjadi contoh bagaimana kebijakan inklusif bisa mendorong partisipasi lansia. Diperlukan akses permodalan yang ramah, pelatihan digital sederhana, serta penghargaan agar mereka bangkit dan tetap berkarya.
Mbah Yati tak banyak bicara tentang angka atau tren. Setiap sore, saat lelah, ia duduk di beranda rumah, memandangi kain-kain yang terjuntai kering. Ada kisah di setiap lembar: tentang kehilangan, tentang sakit, tentang anak yang lupa, tapi juga tentang kemenangan sederhana melawan putus asa.
“Kalau nanti saya dipanggil Tuhan, saya ingin batik ini tetap hidup. Biar cucu saya bangga, neneknya bukan hanya menunggu ajal, tapi meninggalkan jejak,” ucapnya pelan, seperti berbisik pada angin senja. Momen hening itu adalah cermin bahwa di tengah penurunan demografi, kekuatan sejati justru lahir dari mereka yang tak pernah menyerah pada waktu.
Baca juga:
Comments (0)