Dari Adonan Sederhana, Lahir Kenangan Abadi di Jakarta

Pukul tiga dini hari adalah saat kota Jakarta masih terlelap dalam selimut gelap. Tapi di sebuah sudut kecil di Jalan Percetakan Negara, lampu remang-remang toko roti “Sederhana” sudah menyala. Su...

Jul 12, 2026 - 14:31
0 0
Dari Adonan Sederhana, Lahir Kenangan Abadi di Jakarta

Pukul tiga dini hari adalah saat kota Jakarta masih terlelap dalam selimut gelap. Tapi di sebuah sudut kecil di Jalan Percetakan Negara, lampu remang-remang toko roti “Sederhana” sudah menyala. Suara lembut mixer tangan beradu dengan hening, sementara Ibu Sari, 72 tahun, mulai menguleni adonan dengan gerakan yang seolah abadi. Tangan keriputnya menekan, melipat, membentuk. Aroma ragi yang baru bangkit bercampur dengan harapan yang setiap hari ia uleni bersamaan.

Di atas meja kayu yang legam dimakan waktu, tepung terigu menggunung kecil, telur, gula, dan mentega putih bersahaja—bukan mentega mahal. Semua tampak begitu biasa. Namun, ketika tangan Ibu Sari menyentuhnya, sesuatu yang menyentuh hati turut hadir: kenangan.

Di Balik Meja Tepung Itu

Ibu Sari bukanlah seorang koki handal lulusan sekolah pariwisata. Ia hanya seorang istri yang dulu berjuang membantu suaminya, seorang montir, menyambung hari. Di tahun 1975, dengan bermodal resep warisan ibu mertua dan satu oven bekas, ia memberanikan diri membuat roti tawar dan roti manis sederhana. Awalnya hanya dititipkan di warung-warung kopi sekitar Senen. Tak ada kemasan mewah, hanya kertas minyak dan tali rafia. Namun, justru di situlah mimpi kecil itu menggelinding.

“Dulu saya hanya punya mixer tangan, itu pun pinjam tetangga,” ujarnya dengan senyum yang merekah di balik uap air panas di dapur. “Setiap adonan gagal, saya menangis. Tapi suami bilang, ‘Sudah, besok coba lagi.’ Dan kami terus mencoba.”

Perjalanan itu tak mulus. Krisis moneter tahun 1998 hampir meluluhlantakkan usaha kecilnya. Harga tepung melambung, pelanggan berkurang. Tapi Ibu Sari memilih tetap berjualan, meski harus menjual perhiasan satu-satunya. “Yang penting anak-anak bisa sekolah. Roti ini yang membesarkan mereka,” kenangnya, kali ini matanya berkaca-kaca. Dari situlah, toko “Sederhana” bukan hanya sebuah bakery jadul, melainkan monumen perjuangan hidup.

Resep yang Berbisik Lintas Waktu

Yang membuat roti di sini berbeda adalah prosesnya yang sederhana sekaligus lambat. Adonan roti tawar dibiarkan fermentasi selama hampir empat jam. Ibu Sari menolak menggunakan bread improver atau pengempuk buatan. “Biar alam yang bekerja,” katanya. Hasilnya, roti tawar yang mengembang lembut, berserat halus, dan ketika disobek, mengeluarkan uap hangat beraroma susu dan ragi alami.

Pelanggan setia, Pak Mulyadi, 67 tahun, setiap pagi datang sebelum subuh hanya untuk mendapatkan roti yang masih hangat. “Saya sudah makan roti ini sejak saya masih bujang, kerja jadi kernet angkot,” katanya sambil membungkus lima bungkus roti dengan hati-hati. “Rasanya tak pernah berubah. Ini bukan sekadar roti, ini rasa masa muda saya.”

Beberapa kali, anak muda mampir dengan wajah penasaran. Seperti Dinda, 19 tahun, yang diajak neneknya. Neneknya, yang kini sudah renta, dulu adalah pelanggan pertama Ibu Sari. Dengan tangan gemetar, sang nenek menyobek roti, mencelupkannya ke dalam teh hangat, dan menyuapkannya ke mulut Dinda. Mata Dinda berkaca-kaca. “Rasanya seperti pelukan,” bisiknya. Di sudut toko yang sesak oleh tumpukan loyang, ada air mata yang menetes, bukan karena sedih, melainkan karena hangatnya kenangan yang tiba-tiba hidup kembali.

Menolak Tenggelam di Arus Modern

Di luar sana, bakery-bakery modern dengan etalase kaca dan lampu neon bertebaran. Roti dengan nama Prancis, isian keju mahal, dan harga selangit menarik kaum muda. Tapi Ibu Sari tak pernah gentar. “Saya tidak bisa bersaing dengan mereka, Nak. Tapi saya punya cerita di setiap roti ini,” ujarnya lirih. Toko “Sederhana” memang tak punya pendingin ruangan, hanya kipas angin tua yang berputar pelan. Tapi justru di situ letak magisnya.

Saat pandemi dua tahun lalu, toko ini nyaris gulung tikar. Selama tiga bulan, tak ada pemasukan. Namun, para pelanggan setia—kebanyakan orang tua yang kini sudah pensiun—bergotong royong. Mereka membeli roti dalam jumlah banyak, membagikannya ke panti jompo, ke pos ronda, ke siapa pun. Gerakan kecil itu menghidupkan kembali oven yang hampir padam. “Waktu itu saya sadar, ternyata yang selama ini saya beri bukan cuma roti, tapi juga cinta. Dan cinta itu pulang kembali, persis seperti doa yang dijawab,” ucap Ibu Sari dengan suara bergetar. Di situlah kisah toko roti jadul ini menjadi cermin: bahwa kebaikan sederhana bisa bangkit dari keterpurukan.

Harum Roti dan Hangatnya Harapan

Menjelang pukul sepuluh pagi, hampir semua roti habis. Yang tersisa hanya remahan tepung di atas meja. Ibu Sari duduk di kursi reyot dekat pintu, memandang ke jalan. Seorang pemuda berhenti, membeli roti terakhir. Pemuda itu bernama Ruli, mahasiswa rantau dari Sumatera. Ia baru pertama kali mencicipi roti “Sederhana” setelah temannya merekomendasikan. Saat gigitan pertama, ia diam. Lalu, tiba-tiba ia berkata, “Ini rasanya kayak roti buatan almarhumah ibu saya di kampung. Saya kangen sekali.” Ibu Sari hanya tersenyum, mengusap punggung tangan Ruli. Tak perlu kata-kata, sebab roti telah berbicara.

Setiap sore, saat toko tutup, Ibu Sari selalu menyimpan adonan biang untuk esok hari. Itu tradisi yang ia jaga sejak 47 tahun lalu. Ia percaya, adonan biang itu adalah nyawa dari rotinya. Ketika tangannya menyimpan wadah kaca berisi adonan asam itu ke dalam lemari pendingin tua, ia seperti menitipkan harapan. Dalam dinginnya malam, adonan itu akan terus bekerja, memfermentasi waktu, menyimpan kisah-kisah yang akan diiris esok hari.

Toko roti jadul di Jakarta bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang di mana waktu berhenti sejenak, di mana setiap sudut dan setiap aroma memanggang kisah. Ibu Sari dan toko “Sederhana”-nya adalah bukti bahwa di tengah gempuran modernitas, ada satu hal yang tak akan pernah bisa dikalahkan: rasa yang lahir dari cinta dan perjuangan. Di setiap iris roti, ada sepotong Jakarta yang dulu, yang kini terus dihidupkan oleh tangan-tangan yang menolak lupa. Dan esok pagi, ketika lampu tokonya kembali menyala pukul tiga dini hari, ia akan kembali menguleni adonan, menunggu siapa pun yang ingin pulang ke masa lalu lewat sepotong roti hangat.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User