Coffee Talks with Book: Saat Kopi dan Buku Merangkul Generasi Muda
Di sudut lobi Hotel The Sunan yang teduh, aroma kopi robusta Tubruk berpadu dengan wangi kertas usang. Sabtu pagi, 11 Juli 2026, sebuah pemandangan tak biasa tersaji: puluhan anak muda duduk melingkar...
Di sudut lobi Hotel The Sunan yang teduh, aroma kopi robusta Tubruk berpadu dengan wangi kertas usang. Sabtu pagi, 11 Juli 2026, sebuah pemandangan tak biasa tersaji: puluhan anak muda duduk melingkar, masing-masing menggenggam buku dengan sampul yang mulai menguning. Bukan gawai yang mereka tatap, melainkan deretan aksara yang membawa mereka berkelana ke dunia lain. Di tengah tawa kecil dan seruput kopi, sebuah percakapan tentang hidup, mimpi, dan tentu saja, buku, mengalir begitu saja.
Awal Mula yang Tak Disengaja
Komunitas Solo Book Party tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan kecil mereka tiga tahun silam akan bermuara pada acara “Coffee Talks with Book” yang hari itu menghidupkan kembali lobi hotel. Berawal dari sekadar berbagi buku di taman kota, kini mereka menjadi ruang aman bagi para pembaca muda yang haus akan kehangatan diskusi. Sebut saja Dina, mahasiswi semester akhir yang hampir putus asa karena merasa sendirian dengan tumpukan novel klasik koleksinya. “Dulu, saya pikir hanya saya yang masih membaca buku fisik di antara teman-teman. Di sini, saya merasa pulang,” tuturnya dengan suara bergetar, mengenang hari pertamanya bergabung.
Melawan Gempuran Layar
Di zaman ketika gawai lebih sering menjadi perpanjangan tangan daripada buku, inisiatif seperti ini ibarat oase. Tak sedikit orang tua yang mengeluhkan anak-anak mereka lebih akrab dengan notifikasi daripada halaman. Namun di “Coffee Talks with Book”, justru yang terjadi sebaliknya. Remaja belasan tahun duduk bersila, saling bertukar pendapat tentang karakter favorit dalam novel Abdulrazak Gurnah, atau berdebat ringan tentang akhir kisah Haruki Murakami. “Di sini, kami belajar bahwa membaca bukanlah aktivitas soliter. Ada keajaiban saat kita mendiskusikan apa yang kita baca dengan orang lain,” ujar Arga, salah satu peserta yang juga seorang barista, seraya menuangkan kopi buatannya sendiri ke cangkir para tamu.
Liburan Sekolah yang Bermakna
Musim libur sekolah kerap menjadi tantangan: anak-anak kehilangan ritme belajar dan tenggelam dalam hiburan instan. Acara ini muncul sebagai jawaban yang menggoda. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan cara yang begitu alami: menciptakan ruang di mana membaca terasa seperti perayaan. Beberapa peserta membawa adik atau keponakan mereka. Tampak seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun asyik membacakan dongeng dari buku bergambar untuk boneka kelincinya. Di pojok lain, sekelompok siswa SMA menyusun daftar buku yang akan mereka baca selama liburan—sebuah pemandangan yang langka dan meneduhkan.
Lebih dari Sekadar Buku, Sebuah Jaringan Empati
Di balik setiap halaman yang dibalik, terjalin koneksi manusiawi yang kuat. Melisa, seorang ibu muda, mengaku bahwa acara ini membantunya melewati masa sulit pasca-melahirkan. “Saya sempat kehilangan diri. Tapi lewat buku dan teman-teman di sini, saya perlahan bangkit. Setiap pertemuan seperti terapi yang tak perlu resep dokter,” katanya sambil menyeka sudut mata. Momen-momen seperti ini yang membuat “Coffee Talks with Book” bukan sekadar acara literasi, melainkan simpul solidaritas. Buku menjadi katalis, kopi menjadi saksi, dan tawa menjadi perekat.
Sore mulai merayap ketika sesi terakhir—berbagi cerita inspiratif dari buku yang paling membekas—hampir usai. Sorot mata para peserta tak lagi sama seperti saat mereka datang. Ada semacam cahaya baru, seolah setiap orang membawa pulang bukan hanya buku pinjaman, melainkan juga nyawa dari setiap kata yang mereka diskusikan hari itu. Dan di sudut lobi yang mulai sepi, secangkir kopi yang telah dingin masih setia menemani tumpukan buku yang siap dijelajahi esok hari.
Baca juga:
Comments (0)