Biopori Jadi Andalan Petani Tasikmalaya di Tengah Ancaman Kemarau
Di ufuk timur Tasikmalaya, mentari pagi sudah terasa begitu menyengat. Sawah-sawah yang biasanya berwarna hijau segar mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Beberapa petak tanah retak, mengisyaratka...
Di ufuk timur Tasikmalaya, mentari pagi sudah terasa begitu menyengat. Sawah-sawah yang biasanya berwarna hijau segar mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Beberapa petak tanah retak, mengisyaratkan bahwa musim kemarau panjang akan segera tiba. Di sebuah gubuk bambu sederhana yang terletak di pinggir sawah, duduklah Pak Udin (56), seorang petani yang telah menggeluti dunia tanam-menanam selama hampir empat dekade. Wajahnya yang keriput memancarkan kegelisahan, namun sekaligus tekad untuk tidak menyerah.
Ia mengingat tahun lalu, saat ribuan hektare lahan pertanian di wilayah Tasikmalaya selatan harus menyerah pada kekeringan. Bulir-bulir padi yang hampir matang terpaksa layu sebelum sempat dipanen. Kerugian mencapai angka yang cukup signifikan dan meninggalkan luka bagi banyak keluarga petani. Kini, saat musim kemarau kembali membayangi, pihak terkait memberikan sebuah solusi yang sederhana namun berpotensi besar: membuat biopori sebagai lubang resapan air.
Mengapa Biopori Menjadi Pilihan?
Biopori adalah teknik konservasi tanah berupa lubang-lubang kecil yang digali secara vertikal. Dalam lubang tersebut, biasanya dimasukkan sampah organik yang akan mengundang aktivitas biota tanah. Organisme seperti cacing akan melakukan pelapukan dan menciptakan pori-pori alami. Hasilnya, air hujan atau sisa irigasi dapat meresap lebih cepat ke dalam tanah dan disimpan sebagai cadangan air tanah. Konsep yang awalnya diperkenalkan oleh seorang peneliti dari IPB ini kini disebarluaskan sebagai langkah mitigasi dampak el nino di berbagai daerah, termasuk Tasikmalaya.
Menurut petugas penyuluh pertanian yang turun langsung ke lapangan, biopori bukan hanya soal resapan air. Lubang-lubang ini juga meningkatkan kesuburan tanah karena material organik di dalamnya berubah menjadi kompos alami. Bagi petani seperti Pak Udin, pendekatan ini terasa masuk akal. "Kami sering merasa air langsung hilang begitu saja setelah hujan. Biopori membantu menahannya," ujarnya.
Langkah Kecil dengan Dampak Besar
Proses pembuatan biopori relatif mudah dan murah. Di salah satu percontohan yang dikunjungi, petani hanya membutuhkan bor tanah berdiameter sekitar 10 sentimeter. Lubang dibuat dengan kedalaman sekitar satu meter, diisi sampah daun atau jerami, lalu ditutup dengan jaring atau tutup sederhana agar tidak membahayakan. Satu hektare lahan direkomendasikan memiliki minimal 30 hingga 50 titik biopori, terutama di area yang sering tergenang atau di sekitar saluran air yang kini mulai mengering.
Meski terlihat sederhana, implementasi ini membutuhkan perubahan pola pikir. Selama puluhan tahun, petani terbiasa mengandalkan saluran irigasi permukaan tanpa memikirkan resapan. Kini, dengan ancaman kemarau yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim, adaptasi menjadi kunci. Penyuluh pertanian di wilayah Singaparna menjelaskan, "Jika setiap petani konsisten membuat dan merawat biopori, ketersediaan air tanah bisa bertahan lebih lama, bahkan saat kemarau mencapai puncaknya."
Dari Aksi Petani Hingga Kemandirian Pangan
Kisah petani lain, Bu Sri (43) dari Kampung Cikondang, menambah optimisme. Awalnya skeptis, ia akhirnya mencoba membuat 20 lubang biopori di lahan seluas setengah hektare miliknya. Hasilnya, meski turun hujan hanya sekali dalam dua pekan, tanaman cabai dan tomatnya tidak menunjukkan gejala kekeringan separah musim sebelumnya. "Saya lihat langsung, air dari hujan itu tidak hilang, tapi masuk ke dalam tanah. Tanaman tetap segar," tuturnya sambil tersenyum.
Kesaksian Bu Sri menjadi bukti bahwa biopori bukan sekadar teori konservasi, melainkan solusi nyata yang bisa diterapkan di skala mikro. Dengan semakin banyaknya petani yang mengadopsi teknik ini, diharapkan lahan-lahan pertanian yang sebelumnya rentan kekeringan dapat lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Hal ini tidak hanya menyelamatkan hasil panen, melainkan juga menjaga kestabilan ekonomi keluarga petani dan secara lebih luas memperkuat kemandirian pangan daerah.
Pagi itu, setelah mendengar penjelasan penyuluh dan melihat sendiri bukti di lahan percontohan, Pak Udin mulai bergerak. Dengan bor tanah pinjaman dari kelompok tani, ia menggali lubang pertama di sudut sawah yang paling cepat kering. Gerakannya pelan tapi pasti. Dalam hati ia berharap, lubang-lubang sederhana inilah yang akan menjadi benteng bagi sawahnya melawan kemarau yang sudah di depan mata. Di langit biru yang mulai pucat, semangat para petani Tasikmalaya kembali menyala—bukan dengan mesin atau teknologi canggih, melainkan dengan kesederhanaan yang menghubungkan kembali manusia dengan tanah yang ia pijak.
Baca juga:
Comments (0)