Bertambah, Peserta SPPI Meninggal Saat Latihan Militer Jadi 4 Orang
Jakarta – Jumlah peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) kembali bertambah. Kementerian Pertahanan (Kemhan)
Jakarta – Jumlah peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) kembali bertambah. Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI mengonfirmasi bahwa Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, peserta program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) tahun 2026, wafat saat menjalani pendidikan di Satuan Pendidikan Yon Parako 465. Dengan insiden ini, total peserta SPPI yang tewas selama latihan militer menjadi empat orang.
Karo Infohan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Rico Sirait, dalam keterangan resminya pada Jumat (26/6/2026), menyampaikan duka cita mendalam atas nama Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). “Kemhan RI, yang merupakan bagian dari Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), menyampaikan belasungkawa dan dukacita yang mendalam atas wafatnya Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, salah satu peserta program SPPI KDKMP tahun 2026, yang sedang mengikuti pendidikan di Satdik Yon Parako 465,” ujar Rico.
Kematian Rifki menambah daftar tragis korban dalam program pelatihan militer bagi sarjana penggerak koperasi desa tersebut. Sebelumnya, tiga peserta SPPI lainnya telah lebih dahulu meninggal saat mengikuti latihan serupa, yang memicu respons cepat dari Kantor Staf Presiden (KSP). Peristiwa beruntun ini mengundang keprihatinan publik serta dorongan agar evaluasi menyeluruh segera dilakukan terhadap metode dan pengawasan latsarmil.
Program SPPI yang digagas pemerintah bertujuan membekali para sarjana sebagai penggerak pembangunan desa melalui pengelolaan koperasi. Namun, pelaksanaan latihan dasar kemiliteran yang menjadi bagian dari pembekalan peserta justru menuai sorotan tajam setelah rentetan korban jiwa. Hingga kini, Kemhan belum memberikan penjelasan terperinci mengenai penyebab spesifik kematian Muhammad Rifki Renaldi Gunawan maupun langkah konkret perbaikan yang akan diambil untuk mencegah jatuhnya korban selanjutnya.
Pihak keluarga almarhum telah dihubungi oleh otoritas terkait, dan Kemhan berjanji akan memberikan pendampingan serta santunan. Masyarakat luas, khususnya keluarga peserta SPPI yang masih menjalani latihan, berharap ada transparansi investigasi dan pengetatan protokol keselamatan agar tragedi serupa tidak terulang. Kekhawatiran ini semakin beralasan mengingat program ini melibatkan ribuan peserta di berbagai lokasi pendidikan militer.
Beritaseputar.com masih mencari konfirmasi lebih lanjut mengenai kronologi kejadian serta hasil sementara investigasi internal TNI maupun Kemhan. Sementara itu, Kemhan mengimbau seluruh peserta latsarmil untuk menjaga kesehatan, mencukupi istirahat, dan segera melaporkan keluhan fisik kepada pelatih agar dapat ditangani secara dini.
“Kami semua berduka. Ini menjadi evaluasi bersama agar program baik ini tidak ternoda oleh tragedi yang semestinya bisa dicegah,” ujar seorang pejabat Kemhan yang tidak bersedia disebutkan namanya.
Dengan total empat korban jiwa dalam satu gelombang latihan, tekanan publik kian besar agar pemerintah setidaknya menghentikan sementara aktivitas fisik berat atau merombak total mekanisme pelatihan dalam program SPPI. Anggota Komisi I DPR pun dikabarkan berencana memanggil pihak Kemhan dan TNI untuk memberikan klarifikasi pada pekan depan, menurut sumber di parlemen yang dihubungi oleh media kami. Peristiwa ini sekaligus menguji sejauh mana komitmen pemerintah dalam menjamin keselamatan peserta program strategis nasional tersebut.
Comments (0)