Bagi sebagian orang, gelar doktor adalah puncak pencapaian akademik yang dikejar dengan segenap tenaga. Namun bagi Sabrina Chairunnisa, melepaskan jalan itu justru menjadi langkah paling berani yang pernah ia ambil. Di tengah gemerlap New York yang tak pernah tidur, istri presenter Deddy Corbuzier ini memilih menulis ulang definisi suksesnya sendiri.
Bukan Mundur, Tapi Belok Tajam Keputusan Sabrina mengundurkan diri dari program Doktoral (S3) di Universitas Indonesia sontak mengejutkan banyak pihak. Bag
Bukan Mundur, Tapi Belok Tajam
Keputusan Sabrina mengundurkan diri dari program Doktoral (S3) di Universitas Indonesia sontak mengejutkan banyak pihak. Bagaimana tidak, ia dikenal sebagai pribadi yang ambisius secara intelektual. Tapi siapa sangka, justru di titik inilah ia menemukan kejelasan yang selama ini dicarinya.
"Saya tidak sedang menyerah. Saya sedang memilih. Memilih untuk mendengarkan suara hati yang selama ini saya abaikan demi ekspektasi orang lain. New York mengajari saya bahwa belajar tidak melulu soal bangku kuliah dan gelar di belakang nama."
Kalimat itu ia ucapkan lirih dalam sebuah percakapan santai di sudut kafe Brooklyn, ditemani secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis. Di kota yang menjadi rumah barunya ini, Sabrina menemukan ritme yang berbeda. Bukan lagi tentang mengejar tenggat disertasi, melainkan tentang meresapi setiap proses tanpa terbebani titel.
Kepindahannya ke New York bukan semata agenda mendampingi suami. Ada semacam panggilan personal yang mendorongnya mengeksplorasi bidang baru yang sebelumnya tak pernah ia beri ruang: industri kreatif dan pemberdayaan perempuan melalui media digital.
Tekanan Sosial dan Keberanian Memilih Diri Sendiri
Menjadi figur publik sekaligus perempuan dengan latar akademik cemerlang membuat Sabrina kerap ditempatkan di kotak ekspektasi yang sempit. Publik selalu menunggu ia melangkah sesuai jalur yang dianggap "pantas": lulus S3, menjadi doktor, mungkin kemudian terjun ke dunia politik atau birokrasi. Tapi Sabrina memilih jalur sunyi yang lebih jujur: mengakui bahwa rencana boleh berubah ketika hati sudah tidak lagi seirama.
Mereka yang dekat dengannya bercerita, proses pengambilan keputusan ini bukan hal instan. Ada malam-malam panjang penuh pergulatan, air mata, dan pertanyaan berulang: "Apa aku akan mengecewakan semua orang?"
"Ibuku hanya diam waktu aku cerita. Lalu beliau bilang, 'Hidupmu bukan untuk memenuhi nilai rapor orang lain.' Saat itu aku menangis, karena di situ aku sadar bahwa restu paling besar datang dari orang yang paling tidak mau aku kecewakan," kenang Sabrina dengan mata berkaca-kaca.
Pengakuan ini menggambarkan betapa besarnya bobot emosional di balik satu keputusan yang tampak sederhana di linimasa media sosial: berhenti kuliah S3. Bagi Sabrina, ini bukan soal menyerah pada kesulitan akademik—ia membuktikan dirinya mampu bertahan di jenjang pendidikan tinggi—melainkan soal menyelaraskan tujuan hidup yang terus berevolusi.
Kisah Sabrina menyentuh realitas yang diam-diam dihadapi banyak orang, terutama perempuan: tekanan untuk selalu tampil sempurna, untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai meski hati sudah tidak di sana, untuk takut dihakimi hanya karena mengubah rencana. Ia mendobraknya dengan cara paling elegan: hidup sesuai versinya sendiri.
Kini, di kota yang tidak pernah meminta izin untuk terus bergerak itu, Sabrina membuka lembaran baru. Bukan lagi sebagai mahasiswa doktoral yang dikejar deadline, melainkan sebagai perempuan yang berani mendefinisikan ulang apa artinya melangkah maju. Kadang, langkah maju itu justru dimulai dengan melepaskan.
Comments (0)