Prabowo Sebut Kekayaan RI Dicuri, Merasa Dihantam di Ulu Hati

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rasa sakit mendalam saat menyaksikan kekayaan alam Indonesia yang terus terkuras oleh pihak asing. Dalam

Jul 12, 2026 - 17:58
0 0

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rasa sakit mendalam saat menyaksikan kekayaan alam Indonesia yang terus terkuras oleh pihak asing. Dalam sebuah pidato yang sarat emosi, ia menyamakan perasaannya seperti dihantam tepat di ulu hati, sebuah metafora yang menggambarkan luka kolektif bangsa atas eksploitasi sumber daya alam selama puluhan tahun.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Jakarta, Minggu (12/7/2026). Dengan ekspresi wajah yang serius dan nada suara yang bergetar, Prabowo menyoroti ironi negara sebesar dan sekaya Indonesia yang masih belum sepenuhnya menikmati hasil buminya sendiri. Kekayaan yang seharusnya menjadi tulang punggung kemakmuran rakyat, justru dinikmati oleh negara-negara lain.

Metafora Ulu Hati: Luka Bangsa yang Tak Kunjung Sembuh

Ungkapan "dihantam di ulu hati" bukanlah sekadar retorika politik. Dalam anatomi tubuh manusia, ulu hati atau solar plexus adalah pusat saraf vital yang jika terpukul dapat menyebabkan sesak napas, kelumpuhan sementara, bahkan rasa sakit yang tak tertahankan. Dengan memilih ungkapan ini, Presiden ingin menekankan bahwa pencurian kekayaan alam bukan hanya masalah angka dan data statistik, melainkan luka fundamental yang melumpuhkan kemampuan bangsa untuk bernapas lega dan bergerak maju.

Luka ini terasa semakin perih mengingat Indonesia adalah negara dengan cadangan sumber daya alam (SDA) luar biasa. Mulai dari nikel, bauksit, timah, emas, hingga gas alam dan batu bara. Namun, realitasnya, sejak era kolonial hingga masa kemerdekaan, pola eksploitasi yang tidak adil terus berulang. Bahan mentah dikirim keluar negeri, diolah di sana, lalu dijual kembali ke Indonesia dengan harga berlipat ganda. Pola inilah yang dikecam keras oleh Prabowo sebagai bentuk pencurian legal yang merugikan generasi penerus bangsa.

"Saya merasakan betul, kekayaan kita dicuri. Saya merasa dihantam di ulu hati melihat kenyataan ini. Puluhan tahun kita merdeka, tapi sumber daya kita terus mengalir ke luar tanpa memberikan kesejahteraan maksimal bagi rakyat kita sendiri," tegas Prabowo di hadapan peserta Koperasi.

Ironi Negeri Kaya: Data di Balik Pencurian Sumber Daya

Untuk memahami konteks kemarahan Presiden, kita perlu melihat data sekilas. Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia. Berdasarkan data Kementerian ESDM, cadangan nikel RI mencapai 72 juta ton atau sekitar 52% dari total cadangan dunia. Begitu pula dengan komoditas timah dan bauksit, posisi Indonesia sangat dominan. Namun, nilai tambah dari komoditas ini justru lebih banyak dinikmati oleh industri baterai dan manufaktur di luar negeri.

Kebijakan larangan ekspor mineral mentah (hilirisasi) yang digalakkan sebelumnya memang mulai menunjukkan hasil, seperti peningkatan investasi smelter. Namun, Prabowo mengisyaratkan bahwa praktik lama masih terjadi di berbagai sektor, termasuk di sektor pangan, kelautan, dan energi. Di sinilah letak urgensi pembenahan tata kelola dan penegakan hukum. Presiden tidak ingin Indonesia hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

Koperasi sebagai Garda Terdepan Kedaulatan Ekonomi

Menariknya, pidato emosional ini disampaikan tepat di momentum Hari Koperasi. Ini bukan kebetulan. Prabowo ingin menempatkan koperasi sebagai instrumen pertahanan dan perlawanan terhadap pencurian kekayaan tersebut. Di tengah dominasi korporasi global dan asing, koperasi adalah representasi dari ekonomi kerakyatan yang kolektif dan berdaulat. Dengan memperkuat koperasi, Presiden berharap rakyat bisa menjadi tuan di tanahnya sendiri, memiliki pabriknya sendiri, dan menikmati rantai pasok dari hulu ke hilir.

Menurutnya, koperasi harus bertransformasi menjadi entitas bisnis modern yang mampu bersaing. Tidak hanya di sektor simpan pinjam, tetapi merambah ke pertambangan rakyat, perikanan, pertanian, dan digital. Dengan begitu, hasil SDA bisa langsung dikelola oleh rakyat tanpa harus jatuh ke tangan asing.

Dari Rasa Sakit Menjadi Kekuatan: Seruan untuk Bangkit

Di akhir pidatonya, Presiden Prabowo menyerukan agar rasa sakit yang ia gambarkan sebagai pukulan di ulu hati itu diubah menjadi energi kolektif. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak lagi lengah. "Kita tidak boleh terus-terusan menjadi bangsa yang lemah," serunya. Pernyataan ini merupakan sinyal kuat bahwa pemerintah akan mengambil langkah lebih tegas dalam mengamankan aset negara dan menindak oknum-oknum yang bermain di belakang layar.

Reaksi publik terhadap pernyataan ini pun beragam. Banyak yang mengapresiasi ketegasan dan empati seorang pemimpin yang tidak hanya berpikir soal angka, tetapi juga merasakan luka bangsanya. Namun, tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan rasa sakit itu ke dalam kebijakan konkret yang bisa dirasakan oleh rakyat kecil. Apakah rasa sakit di ulu hati ini akan sembuh dengan regulasi yang lebih keras, atau hanya akan menjadi kenangan pahit dalam sejarah pidato kenegaraan? Jawabannya ada pada eksekusi di lapangan.

[SOCIAL_TWEET]: "Saya merasa dihantam di ulu hati," ungkap Presiden Prabowo soal kekayaan RI yang dikuras asing. Di Hari Koperasi, ia serukan perlawanan ekonomi! Akankah luka puluhan tahun ini berakhir? #Prabowo #KekayaanRI #KedaulatanEkonomi[SOCIAL_TG]: 💔 Presiden Prabowo: "Saya Merasa Dihantam di Ulu Hati" Prabowo geram melihat kekayaan RI mengalir ke luar. Koperasi disebut sebagai senjata perlawanan. Apakah ini awal kebangkitan ekonomi nasional? Simak detailnya!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User