Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Washington — Trump Akhiri Gencatan Senjata, Kecam Pemimpin Iran sebagai “Sampah”

Malam di Teheran utara tak lagi sunyi. Dentuman-dentuman yang memecah langit menghidupkan kembali kenangan pahit puluhan tahun silam—ketika sirene serangan

Jul 08, 2026 - 23:28
0 0
Washington — Trump Akhiri Gencatan Senjata, Kecam Pemimpin Iran sebagai “Sampah”

Malam di Teheran utara tak lagi sunyi. Dentuman-dentuman yang memecah langit menghidupkan kembali kenangan pahit puluhan tahun silam—ketika sirene serangan udara adalah lagu pengantar tidur yang akrab bagi generasi yang kini telah beranak-pinak. Di sebuah apartemen sederhana berlantai tiga, Maryam (34) meremas tangan kedua anaknya. “Setiap kali suara itu datang, saya hanya bisa memeluk mereka dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja,” ujarnya, suaranya bergetar menahan tangis. “Tapi saya tidak tahu apakah besok kami masih bisa bangun.”

Dari seberang samudra, di ruang oval Gedung Putih yang steril, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggebrak meja dengan pernyataan yang langsung membakar harapan yang sempat menyala redup. “Perjanjian gencatan senjata dengan Iran sudah berakhir,” tegasnya di hadapan wartawan, matanya tajam. Ia lalu melontarkan kecaman pedas yang menyebut kepemimpinan Iran sebagai “sampah” dan “orang gila.” Tak ada basa-basi diplomatik. Tak ada belas kasih. Hanya kata-kata yang jatuh seperti bom bagi jutaan warga sipil yang terjebak di tengah.

Baku Tembak yang Merenggut Rasa Aman

Baku tembak baru yang terjadi di sepanjang perbatasan memicu kembali trauma kolektif warga Iran, khususnya mereka yang masih menyimpan luka dari perang Iran-Irak. Reza, seorang pemilik toko kelontong di pinggiran Teheran, hanya bisa menggeleng. “Saya sudah melewati perang, sekarang saya harus melewati ini lagi. Bedanya, dulu saya masih muda. Sekarang saya punya cucu,” katanya sambil menatap rak-rak kosong yang mulai ditinggalkan pembeli.

Di Washington, pernyataan Trump menuai reaksi beragam. Namun bagi keluarga-keluarga di Iran, komentar tersebut bukan sekadar retorika politik. “Mereka menyebut pemimpin kami sampah, tapi yang terasa sebagai sampah adalah masa depan kami,” ujar Maryam. “Rasanya seperti tidak ada yang peduli bahwa di sini ada anak-anak yang hanya ingin bersekolah dan bermain.”

Luka Psikologis yang Tak Bertepi

Dr. Amir Hosseini, seorang psikolog klinis di Isfahan, mencatat lonjakan pasien dengan gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD) dalam pekan terakhir. “Kami kembali ke masa ketika ketukan pintu bisa membuat jantung berdebar kencang. Kata-kata ‘perang’ dan ‘serangan’ bukan lagi bayangan—ia nyata, berulang, dan melelahkan jiwa,” jelasnya. Di kliniknya, anak-anak menggambar tank dan pesawat tempur alih-alih rumah dan matahari. “Mereka adalah korban yang tak pernah berperang.”

Sementara itu, di seberang lautan, para veteran Amerika juga merespons. Jack Morrison, veteran Korps Marinir yang bertugas di Timur Tengah, mengaku prihatin. “Saya sudah melihat cukup banyak kematian. Kata-kata keras hanya akan mengorbankan lebih banyak pemuda, baik dari pihak kami maupun mereka. Ini bukan soal siapa yang paling lantang, ini soal siapa yang paling menderita—dan jawabannya selalu warga biasa,” katanya kepada Beritaseputar melalui sambungan telepon dari Texas.

Antara Harapan dan Bayang-Bayang

Di Teheran, lampu-lampu masih menyala, namun hati warga telah meredup. Di balkon apartemennya, Maryam menatap langit malam yang sesekali dihiasi kilatan mencurigakan. “Saya hanya ingin anak-anak saya tahu bahwa kami pernah mencoba hidup damai. Tapi hari ini, kata ’damai’ terasa seperti lelucon.”

Baku tembak mungkin berhenti di medan perang, namun retakan yang tersisa menjalar jauh ke dalam bilik-bilik rumah. Perang kata-kata dari meja kekuasaan punya kuasa yang sama: menghancurkan jiwa yang sudah lelah berharap.

Poin-Poin Penting

  • Gencatan Senjata Berakhir: Presiden Trump secara resmi mengumumkan penghentian perjanjian gencatan senjata dengan Iran setelah baku tembak baru.
  • Kecaman Kontroversial: Trump menyebut kepemimpinan Iran sebagai “sampah” dan “orang gila,” memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
  • Trauma Warga Sipil: Warga Iran, terutama penyintas perang sebelumnya, mengalami tekanan psikologis berat akibat kekerasan yang berulang.
  • Korban Tak Langsung: Generasi muda yang tidak mengalami perang langsung tetap terdampak melalui ketakutan dan gangguan perkembangan mental.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User