Wajib Pelacakan 100 Persen Kontak Erat TB, Langkah Tepat Demi Indonesia Bebas

Di balik pintu ruang praktik yang tenang di sebuah rumah sakit di Jakarta, Dr. Erlina Burhan, Sp.P, menyambut setiap pasien dengan senyum yang teduh. Pagi itu, seperti biasa, ia mendengarkan keluhan s...

Jul 12, 2026 - 15:54
0 0

Di balik pintu ruang praktik yang tenang di sebuah rumah sakit di Jakarta, Dr. Erlina Burhan, Sp.P, menyambut setiap pasien dengan senyum yang teduh. Pagi itu, seperti biasa, ia mendengarkan keluhan seorang ibu muda yang baru saja didiagnosis tuberkulosis. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan kegelisahan yang telah lama ia rasakan: betapa banyak nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan jika saja rantai penularan TB dapat segera diputus. Dalam pandangannya, kunci dari semua itu terletak pada satu tindakan yang tampak sederhana namun sering diabaikan—pelacakan kontak erat yang menyeluruh.

Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan beban tuberkulosis tertinggi di dunia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 1.060.000 kasus baru setiap tahun, namun yang terdeteksi dan dilaporkan masih jauh dari angka sebenarnya. Di tengah situasi inilah, kebijakan pemerintah untuk mewajibkan pelacakan 100 persen pada setiap kontak erat pasien TB menjadi sorotan. Erlina, yang telah lebih dari dua dekade berkecimpung dalam penanganan penyakit paru, menilai langkah ini sebagai sebuah keniscayaan, bukan sekadar opsi.

Jejak di Ruang Sunyi

Setiap hari, Erlina menyaksikan kisah-kisah yang membuatnya semakin yakin bahwa pelacakan kontak erat adalah benteng pertahanan paling depan. Ia teringat pada seorang pasien laki-laki paruh baya yang datang dengan batuk berdarah. Setelah serangkaian pemeriksaan, diagnosis TB paru ditegakkan. Namun, saat ditanya siapa saja yang tinggal serumah, pria itu menyebut istri dan dua anaknya yang masih kecil. "Saat saya sarankan agar seluruh anggota keluarganya diperiksa, ia sempat ragu karena merasa mereka tidak bergejala," kenang Erlina. Padahal, infeksi laten bisa bersembunyi tanpa batuk atau demam, dan hanya pemeriksaanlah yang bisa mengungkapnya. Setelah melalui pendekatan yang sabar, akhirnya sang istri dan anak-anaknya pun menjalani tes. Hasilnya mengejutkan: si bungsu yang baru berusia enam tahun ternyata sudah positif TB laten, dan segera mendapat terapi pencegahan. Bagi Erlina, momen seperti ini selalu mengharukan sekaligus meneguhkan misinya.

Mengapa Seratus Persen Bukan Angka Mati

Konsep pelacakan 100 persen kontak erat yang kini digulirkan pemerintah bukan sekadar target administratif. Dalam perspektif Erlina, ini adalah upaya memutus mata rantai penularan yang kerap luput dari perhatian. Selama ini, banyak program penanggulangan TB hanya berfokus pada pengobatan pasien yang sudah menunjukkan gejala, sementara kontak-kontak serumah yang mungkin telah tertular tanpa disadari dibiarkan begitu saja. "Satu pasien TB yang batuk saja bisa menulari sepuluh hingga lima belas orang di sekitarnya dalam setahun. Kalau kita hanya mengobati yang sakit, tapi tidak melacak dan memeriksa orang-orang terdekatnya, seperti menyiram api di satu titik sementara bara di titik lain terus menyala," ujarnya, dengan nada yang penuh penekanan.

Erlina menjelaskan bahwa pelacakan kontak erat 100 persen berarti tidak boleh ada satu pun orang yang tinggal serumah, bekerja dalam ruang yang sama, atau memiliki kontak intens dengan pasien yang terlewatkan. Setiap individu yang teridentifikasi harus menjalani pemeriksaan dahak, tes tuberkulin, atau rontgen dada. Bagi yang positif TB laten, terapi pencegahan dengan isoniazid selama enam bulan dapat diberikan untuk mencegah berkembangnya penyakit di kemudian hari. "Ini investasi jangka panjang. Dengan mencegah satu orang sakit TB aktif, kita menyelamatkan biaya pengobatan yang jauh lebih besar, serta penderitaan yang tak ternilai," tambahnya.

Menyentuh Hati, Membangun Kesadaran

Di lapangan, tantangan terbesar bukanlah teknis medis, melainkan penerimaan masyarakat. Stigma terhadap tuberkulosis masih kuat, membuat banyak keluarga enggan membuka diri untuk diperiksa. Erlina kerap harus menjadi pendengar yang sabar, meredakan ketakutan, dan memberikan pemahaman bahwa TB bukanlah aib, melainkan penyakit yang bisa disembuhkan. "Saya selalu bilang kepada mereka, 'Kita ini sedang berjuang bersama. Bapak, Ibu, dan anak-anak bukan objek yang dicurigai, melainkan bagian dari solusi.'" Pendekatan yang sarat empati inilah yang menurutnya harus diperkuat dalam setiap pelaksanaan pelacakan.

Untuk itu, Erlina mendorong agar kader-kader kesehatan di tingkat komunitas dibekali kemampuan komunikasi yang humanis. Mereka perlu dilatih tidak hanya soal cara mengambil spesimen dahak, tetapi juga cara menyentuh hati warga agar bersedia membawa seluruh anggota keluarganya ke puskesmas. "Tanpa kepercayaan, pelacakan 100 persen hanya akan menjadi daftar nama di atas kertas. Kita butuh pendekatan yang membuat orang merasa dihargai, bukan dihakimi," tegasnya. Di sinilah letak perbedaan antara sekadar mencapai angka dan sungguh-sungguh memutus penularan.

Harapan di Langit Senja

Menjelang sore, saat matahari mulai meredup di balik jendela ruang praktiknya, Erlina menyempatkan diri menulis catatan kecil untuk rencana penyuluhan pekan depan. Di benaknya, terbayang wajah anak-anak yang berhasil diselamatkan dari ancaman TB berkat pelacakan dini. Ia percaya, dengan komitmen penuh dari pemerintah, tenaga kesehatan, dan partisipasi aktif masyarakat, target eliminasi tuberkulosis pada 2030 bukanlah isapan jempol. "Kita punya senjata: obat yang efektif, alat diagnosis yang makin canggih, dan sekarang komitmen pelacakan penuh. Tinggal bagaimana kita menghidupkan semangat itu di setiap puskesmas, di setiap desa," gumamnya.

Kisah Erlina dan perjuangannya hanyalah satu dari ribuan cerita tenaga kesehatan yang berjibaku di garda depan. Namun, dari ruang kecilnya, ia telah menyuarakan satu hal yang mendasar: bahwa memutus rantai penularan TB bukanlah mimpi kosong, selama kita berani melihat ke sekitar—ke orang-orang yang kita cintai, yang serumah, yang berbagi udara—dan memastikan mereka semua terlindungi. Kini, dengan kebijakan pelacakan kontak erat 100 persen, harapan itu tak lagi berada di kejauhan. Ia ada di depan mata, menanti tangan-tangan yang mau bekerja dengan hati, tanpa lelah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User