Pesenggiri Festival 2026: Panggung Jajan Pasar dan Cinta Oma Lanny
Aroma gula merah yang dipanggang perlahan berbaur dengan wangi daun pisang yang mulai layu di atas loyang-loyang kukus. Di sudut stan sederhana berlapis kain tapis Lampung, seorang perempuan berambut ...
Aroma gula merah yang dipanggang perlahan berbaur dengan wangi daun pisang yang mulai layu di atas loyang-loyang kukus. Di sudut stan sederhana berlapis kain tapis Lampung, seorang perempuan berambut perak berdiri dengan tangan penuh tepung. Ia tertawa kecil saat seorang pengunjung muda bertanya, “Oma, ini kue apa? Kok bentuknya seperti bulan sabit?” Perempuan itu—Lanny Rustan—menyeka keringat di pelipisnya, lalu menjawab dengan suara lembut yang dalam, “Ini kue tat. Dulu, ini kue syukuran. Hanya dibuat saat ada yang panen atau menikah. Hari ini, kamu boleh cicipi kapan pun.”
Momen sederhana itulah yang menjadi jantung Pesenggiri Festival 2026, sebuah perayaan yang tak hanya menampilkan aneka jajan pasar Lampung, tetapi juga menyajikan kisah dan tangan-tangan yang telah puluhan tahun menjaganya. Di antara gemerlap panggung hiburan dan bazar kuliner yang memadati lapangan utama, sosok Oma Lanny sontak menjadi pusat yang meneduhkan. Bersama PT Gunung Madu Plantations, sang maestro jajan pasar ini membawa pesan yang jauh lebih besar dari sekadar selera: ia membawa nyala terakhir dari dapur-dapur tradisional yang kian meredup.
Lapak Tepung dan Kenangan yang Mengalir
Lapak Oma Lanny bukan yang termegah di festival itu. Justru, kesederhanaannya yang menohok. Di atas meja kayu jati yang sudah mengilap termakan usia, tersaji delapan jenis jajan pasar: dari kue engkak yang tebal dan legit, kue lapis sagu yang kenyal berkilau, hingga kue koci yang terbungkus daun pandan. Setiap gigitan adalah perjalanan ke masa lalu. Setiap resep, kata Oma Lanny, ia turunkan dari ingatan ibunya yang tak pernah dituliskan di atas kertas.
“Ibu saya tidak pernah mengukur dengan sendok. Katanya, tangan kita yang harus tahu kapan adonan sudah cukup manis, cukup kalis. Saya hanya meneruskan cara itu,”
tuturnya, sambil menunjukkan telapak tangannya yang penuh garis usia—garis yang justru menjadi timbangan terakurat bagi setiap resep yang ia buat. Pengunjung yang hadir tak hanya membeli, tetapi juga duduk di bangku kayu yang disediakan, mendengarkan cerita di balik setiap kue. Sebuah terapi rasa yang menenangkan.
Kolaborasi yang Menghidupkan Akar
Di sisi lain stan, perwakilan PT Gunung Madu Plantations, perusahaan yang selama ini dikenal sebagai salah satu pilar industri gula di Lampung, sibuk menyiapkan penganan kecil berbahan gula kristal organik produksi mereka. Bukan sekadar pamer produk, kolaborasi ini justru lahir dari sebuah keresahan yang sama: bahwa generasi muda Lampung semakin asing dengan cita rasa tanahnya sendiri.
Dalam perbincangan di sela-sela acara, pihak perusahaan mengisahkan bagaimana mereka bertemu Oma Lanny enam bulan sebelumnya, di sebuah pasar tradisional di kawasan Metro. Oma Lanny saat itu sedang berjuang sendiri, menjajakan kue tat di antara deretan makanan kemasan modern. “Kami melihat ada mutiara yang harus dijaga,” ujar salah satu perwakilan. Dari pertemuan itulah, ide membawa Oma Lanny ke panggung Pesenggiri Festival tercetus: bukan sebagai pedagang, melainkan sebagai bintang utama.
PT Gunung Madu Plantations tidak hanya mendukung pendirian stan, tetapi juga membantu pengadaan bahan baku berkualitas, termasuk gula aren dan gula pasir produksi lokal, yang selama ini menjadi kendala Oma Lanny dalam mempertahankan konsistensi rasa. “Mereka datang bukan hanya bawa modal, tapi juga bawa telinga untuk mendengar,” kata Oma Lanny. “Mereka mau tahu, kenapa adonan kue lapis saya bisa pecah kalau pakai gula tertentu. Itu yang bikin saya percaya.”
Menganyam Masa Depan dari Serpihan Sejarah
Pesenggiri Festival 2026 bukan sekadar ajang nostalgia. Di tengah siang yang terik, puluhan anak sekolah dasar datang dalam kunjungan terencana. Mereka dipandu langsung oleh Oma Lanny untuk membentuk adonan kue koci. Tergelak, berantakan, namun mata mereka berbinar. Seorang anak laki-laki dengan celemek yang kekecilan berteriak, “Oma, punyaku bolong!” Oma Lanny tertawa dan membantunya menambal adonan sambil berkata, “Bolong itu artinya kamu sudah berusaha. Nanti diisi pisangnya, jadi lebih banyak, malah enak.” Jawaban yang penuh kehangatan itu sontak menularkan tawa ke seisi tenda.
Di sudut lain, para peserta dewasa mengikuti diskusi warisan kuliner, mendengarkan pemaparan tentang bagaimana jajan pasar menyimpan filosofi hidup masyarakat Lampung. Kue lapis sagu, misalnya, tujuh lapisannya melambangkan tujuh langit, sebuah doa akan keseimbangan alam. Sementara kue engkak yang padat, dimaknai sebagai harapan akan kehidupan yang penuh. Oma Lanny, yang didapuk menjadi pembicara, tak berbicara dengan istilah ilmiah. Ia hanya berkisah, dan setiap kisahnya seperti benang yang menganyam masa depan dari serpihan sejarah yang hampir hancur.
“Saya tua. Saya tidak tahu berapa tahun lagi saya bisa mengaduk adonan ini. Tapi hari ini, saya lihat anak-anak muda mau pegang tepung, mau tanya, itu sudah cukup. Itu artinya jajan pasar tidak akan mati esok hari,”
katanya dengan suara bergetar, masih dengan tangan penuh sisa gula yang belum sempat ia cuci.
Menjelang petang, saat lampu-lampu festival mulai menyala, stan Oma Lanny sudah hampir kosong. Bukan hanya kue-kuenya yang ludes terjual; kisahnya telah berpindah, hinggap di hati setiap pengunjung yang singgah. Seorang ibu paruh baya menggenggam tangan Oma Lanny erat sebelum pulang, berbisik, “Besok saya mau coba buat sendiri di rumah, Oma. Resep yang tadi. Doakan ya.” Di sinilah Pesenggiri Festival 2026 menjalankan perannya yang sesungguhnya: bukan sekadar perayaan, melainkan perawatan. Bukan hanya bagi jajan pasar, melainkan bagi jiwa-jiwa yang menghidupinya. Di bawah langit Lampung yang jingga, Oma Lanny dan ribuan pengunjung pulang dengan satu janji yang sama—bahwa tradisi adalah cinta yang harus terus diaduk, dikukus, dan dicicipi bersama.
Baca juga:
Comments (0)