Upaya Pembunuhan Soekarno Gagal, Lima Korban Terluka Saat Salat Idul Adha 1962

Jakarta – Sebuah tragedi berdarah mengubah suasana khidmat Salat Idul Adha pada tahun 1962 menjadi kepanikan massal. Presiden pertama Republik Indonesia, S

Jul 11, 2026 - 21:16
0 0
Upaya Pembunuhan Soekarno Gagal, Lima Korban Terluka Saat Salat Idul Adha 1962

Jakarta – Sebuah tragedi berdarah mengubah suasana khidmat Salat Idul Adha pada tahun 1962 menjadi kepanikan massal. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menjadi target penembakan saat tengah menjalankan ibadah salat sunah di sebuah lapangan terbuka di kawasan Jakarta Pusat. Insiden yang terjadi dalam hitungan detik itu mengejutkan seluruh umat yang hadir, melukai lima orang, dan menimbulkan pertanyaan serius tentang celah keamanan kepala negara.

Peristiwa nahas tersebut bermula ketika Bung Karno, sapaan akrab presiden, tiba bersama sejumlah menteri dan pengawal setianya. Ribuan jemaah dari berbagai penjuru Ibu Kota memadati lapangan yang disulap menjadi tempat salat darurat, menyambut gembira kehadiran sang proklamator. Tak satu pun mata mampu menangkap gerakan mencurigakan di tengah kerumunan yang begitu padat. Tepat saat takbir pertama berkumandang, situasi damai itu porak-poranda.

Kronologi Detik-Detik Penembakan

Saksi mata yang selamat mengenang bahwa insiden berlangsung tatkala Bung Karno berada di saf terdepan, khusyuk mengikuti imam melafalkan surat Al-Fatihah. Seorang pria yang menyamar sebagai jamaah biasa tiba-tiba melepaskan diri dari barisan. Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan pistol yang disembunyikan di balik jubah putihnya dan membidik langsung ke arah presiden.

Namun, takdir berkata lain. Seorang pengawal pribadi yang siaga di sisi Bung Karno reflek menghalangi laju peluru dengan tubuhnya. Sebelum pelaku sempat melepas tembakan kedua, sejumlah petugas keamanan yang tersebar di antara jemaah langsung melompat dan membekuknya. Kekacauan tak terhindarkan. Ribuan jemaah yang panik berlarian menyelamatkan diri, sementara yang lain justru berusaha mendekat untuk melindungi sang presiden.

Situasinya benar-benar mengerikan. Kami pikir hanya akan salat seperti biasa, tapi tiba-tiba ada letusan senjata dan darah berceceran di sajadah. Bung Karno terlihat sangat tenang, ia justru meminta semua orang untuk tetap di tempat,"

— ujar Haji Mulyadi, seorang pedagang Pasar Senen yang menjadi saksi langsung peristiwa itu.

Lima orang dilaporkan terluka dalam insiden tersebut. Dua pengawal pribadi presiden menderita luka tembak serius di bagian bahu dan perut, sementara tiga jemaah lainnya mengalami luka ringan akibat terkena pecahan peluru atau terinjak-injak saat massa berhamburan. Seluruh korban segera dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto untuk mendapatkan perawatan intensif.

Pelaku dan Motif di Balik Serangan

Pelaku yang berhasil diamankan di tempat kejadian langsung menjalani interogasi oleh tim intelijen militer. Identitasnya dirahasiakan selama beberapa hari pertama untuk kepentingan penyidikan, namun bocoran dari lingkungan istana menyebut bahwa ia adalah anggota dari sel gerakan separatis yang tidak puas dengan kebijakan sentralistik pemerintahan Soekarno. Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang saat itu masih aktif di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan diduga kuat menjadi dalang di balik aksi nekad ini.

Penyelidikan mendalam mengungkap bahwa pelaku telah mengintai lokasi dan jadwal kegiatan presiden selama lebih dari sebulan. Ia bergabung dengan jemaah dari sebuah masjid kecil di pinggiran Jakarta agar tidak mencurigakan. Pistol yang digunakan adalah jenis Colt M1911 kaliber .45 yang diduga kuat berasal dari senjata rampasan tentara pendudukan Jepang, yang banyak beredar di pasar gelap pasca-revolusi.

Dari pengakuan awal yang bocor ke media, pelaku mengaku bertindak atas keyakinan ideologis bahwa Soekarno telah menyimpang dari ajaran Islam dan terlalu dekat dengan blok komunis. Pernyataan ini sejalan dengan propaganda yang disebarkan oleh faksi-faksi pemberontak yang menentang konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) yang digagas sang presiden.

Dampak dan Perubahan Sistem Keamanan Presiden

Insiden penembakan saat Salat Idul Adha 1962 menjadi titik balik dalam sejarah pengamanan kepala negara Indonesia. Sebelum peristiwa itu, pendekatan keamanan terhadap Soekarno masih mengandalkan protokol ringan yang memungkinkan rakyat berinteraksi langsung tanpa sekat yang ketat—sebuah warisan dari gaya kepemimpinannya yang populis dan dekat dengan wong cilik.

Namun, setelah peluru nyaris merenggut nyawanya di tengah jemaah salat, Istana Negara memerintahkan evaluasi total terhadap Pasukan Pengawal Presiden (yang saat itu masih bernama Resimen Cakrabirawa). Beberapa poin kritis segera diterapkan:

  • Penyisiran lebih ketat terhadap lokasi ibadah yang akan dihadiri presiden, termasuk pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap jemaah yang masuk menggunakan detektor logam manual.
  • Pembentukan tim intelijen khusus yang bertugas menyusup ke berbagai elemen masyarakat untuk mendeteksi potensi ancaman sejak dini.
  • Perluasan radius pengamanan di sekitar presiden menjadi tiga lapis: pengawalan pribadi, pengamanan gedung/lapangan, dan penjagaan perbatasan area.
  • Pelarangan jemaah membawa benda mencurigakan seperti tas besar, kotak, atau pakaian dengan saku tersembunyi yang dapat menyembunyikan senjata.
  • Koordinasi erat antara Resimen Cakrabirawa, TNI, dan Polri dalam setiap acara kenegaraan berskala besar.

Di sisi politik, Bung Karno memanfaatkan insiden ini untuk mengonsolidasi kekuasaannya. Dalam pidato kenegaraan seminggu setelah penembakan, ia menyerukan persatuan bangsa dan mengecam keras tindakan separatis yang "berani mengotori hari suci dengan darah". Retorika patriotiknya justru meningkatkan pamor sang presiden di mata rakyat jelata, sekaligus menjadi dalih untuk memperketat kontrol terhadap aktivitas kelompok oposisi bersenjata.

Peristiwa ini juga memicu perdebatan di kalangan ulama. Beberapa tokoh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah mengeluarkan kecaman bersama terhadap aksi penyerangan di tempat ibadah, menyebutnya sebagai "tindakan biadab yang menodai kesucian agama". Sementara itu, kalangan tentara menggunakan momentum ini untuk menambah anggaran pertahanan dan mempercepat operasi penumpasan pemberontakan DI/TII di berbagai daerah.

Hingga puluhan tahun kemudian, tanggal kelam itu tetap dikenang oleh para veteran pengawal presiden sebagai pelajaran berharga tentang pentingnya kewaspadaan tanpa kehilangan kemanusiaan. Lima orang yang terluka dalam insiden itu semuanya pulih dan menerima penghargaan negara, meski dua pengawal pribadi harus hidup dengan cacat permanen sebagai bukti pengorbanan mereka membela sang proklamator.

Pertanyaan Umum (FAQ) tentang Penembakan Bung Karno Saat Salat Idul Adha 1962

1. Kapan tepatnya peristiwa penembakan terhadap Soekarno ini terjadi?
Peristiwa terjadi pada saat pelaksanaan Salat Idul Adha tahun 1962, sekitar bulan Mei atau Juni dalam penanggalan Masehi. Tanggal pastinya masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan karena minimnya dokumen resmi yang terbuka untuk publik.

2. Siapa pelaku dan apa motifnya menyerang presiden saat ibadah?
Pelaku adalah anggota sel gerakan separatis yang diduga kuat terkait dengan DI/TII. Motif utamanya bersifat ideologis: ketidakpuasan terhadap kebijakan Soekarno yang dianggap terlalu dekat dengan komunis dan menyimpang dari ajaran Islam, sebagaimana yang diyakini oleh kelompok pemberontak.

3. Bagaimana nasib korban yang terluka dan apakah Soekarno mengalami cedera?
Soekarno selamat tanpa cedera fisik. Lima orang terluka: dua pengawal pribadi menderita luka tembak serius dan harus menjalani operasi berkali-kali, sementara tiga jemaah menderita luka ringan. Seluruh korban menerima perawatan di RSPAD dan kemudian dianugerahi penghargaan negara.

[SOCIAL_TWEET]: “Pada Idul Adha 1962, Bung Karno nyaris tewas ditembak saat salat di lapangan Jakarta. Lima pengawal dan jemaah jadi korban. Pelaku diduga dari gerakan separatis yang menentang Nasakom. Sejak itu, sistem keamanan presiden berubah total. #SejarahHariIni #BungKarno #IdulAdha”

[SOCIAL_FB]: “TAHUKAH KAMU? Di balik khidmatnya Salat Idul Adha 1962, Indonesia nyaris kehilangan Bung Karno oleh peluru seorang penyerang yang menyamar sebagai jemaah. Insiden ini terjadi di lapangan Jakarta Pusat dan melukai lima orang. Kronologi, motif pelaku, dan dampak revolusioner terhadap sistem keamanan presiden kita bahas tuntas dalam artikel ini. Yuk, selami cerita sejarah yang penuh ketegangan ini dan ambil pelajaran berharga tentang pengorbanan para pengawal setia.”

[SOCIAL_TG]: “Momen menegangkan Idul Adha 1962: Bung Karno ditembak saat salat, apakah Anda tahu cerita lengkapnya? Lima korban berdarah, seorang pengawal balik serang, dan pelaku diamankan di tempat. Bagaimana insiden ini mengubah total cara presiden dijaga hingga sekarang? Baca selengkapnya.”

[SOCIAL_THREADS]: “Pernah dengar soal upaya pembunuhan Soekarno yang hampir berhasil saat Salat Idul Adha? Pada 1962, seorang pria bersenjata nyaris menembak Bung Karno dari jarak dekat di tengah ribuan jemaah. Insiden ini membuka mata semua pihak tentang rapuhnya pengamanan kepala negara dan memicu pembaharuan total protokol keamanan. Kisah lengkapnya sungguh tidak terduga!”

[TAGS]: Soekarno, penembakan presiden, Idul Adha 1962, sejarah Indonesia, pasukan pengawal presiden

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User