JAKARTA — Hari yang dijuluki Presiden AS Donald Trump sebagai "D-Day ekonomi" bagi Iran berlalu Senin (24/8) tanpa ledakan kejutan sebagaimana dijanjikan. Sebaliknya, Washington memilih membuka kampanye sanksi bertahap yang diperkirakan akan berlangsung panjang dan menggerus ekonomi Teheran secara perlahan.
Mengapa ini penting: Operasi yang dinamai Economic Outcast itu tidak akan berjalan seperti invasi Sekutu di Normandia, melainkan sebagai kampanye sanksi sekunder yang menyapu luas namun perlahan. Pada akhirnya, kampanye ini berpotensi mengunci para pendukung asing Iran dari sistem keuangan Amerika Serikat.
Bessent Buka Operasi dengan Daftar Hitam 60 Target
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjadi pembuka operasi tersebut dengan memasukkan lebih dari 60 target terkait Iran ke daftar hitan Treasury. Ia juga memperluas jangkauan sanksi sekunder terhadap pihak ketiga yang bertransaksi dengan entitas Iran.
"Setiap negara memiliki garis waktu yang jelas untuk menutup aktivitas yang telah kami identifikasi," ujar Bessent dalam keterangan resmi.
Namun Bessent enggan menyebut nama negara atau tenggat spesifik apa pun. Menurutnya, pemerintahan Trump lebih memilih "diplomasi senyap" sebelum menggunakan "palu tindakan Treasury AS".
"Mengapa saya harus menghancurkan sistem keuangan global?" kata Bessent kepada wartawan ketika digencar soal peluncuran bertahap tersebut.
Ia menegaskan setiap negara masih diberikan kesempatan untuk mengubah perilakunya sebelum hukuman finansial dijatuhkan sepenuhnya.
Kronologi Peluncuran Operasi Economic Outcast
- Pengumuman D-Day: Trump menetapkan Senin sebagai hari-H ekonomi bagi Iran, menjanjikan tekanan maksimal terhadap rezim Teheran.
- Daftar hitam pertama: Treasury mem-blacklist lebih dari 60 entitas dan individu terkait jaringan Iran pada hari yang sama.
- Perluasan sanksi sekunder: Jangkauan sanksi sekunder diperlebar, menjangkau bank, refiner, dan pelayar pihak ketiga yang berbisnis dengan Iran.
- Fase ultimatum: Negara-negara mitra dagang Iran diberi garis waktu untuk menghentikan aktivitas teridentifikasi sebelum hukuman penuh diberlakukan.
- Tahap palu: Jika diplomasi gagal, pelaku usaha asing pendukung Iran dapat diputus akses ke dolar AS, bank Amerika, dan pasar modal AS.
Tiongkok Menjadi Ujian Sesungguhnya
Titik kritis operasi ini ada di Tiongkok. Data Komisi Peninjau Ekonomi dan Keamanan AS-USCC mencatat Beijing menyumbang sekitar 90 persen ekspor minyak Iran, menjadikannya salah satu urat nadi ekonomi terpenting rezim Teheran.
Jika Trump menindaklanjuti ancamannya, sanksi sekunder akan memaksa bank, kilang, dan perusahaan pelayaran Tiongkok memilih antara melanjutkan kerja sama dengan Iran atau tetap memiliki akses ke dolar AS serta pasar keuangan Amerika.
Ketika ditanya secara spesifik apakah Tiongkok akan menjadi target, Bessent hanya menegaskan bahwa "tidak ada yang berada di atas" aturan Treasury. Pernyataan itu diserap publik sebagai sinyal bahwa Beijing tidak dikecualikan dari potensi hukuman.
Strategi Tekanan Bertahap, Bukan Serangan Kilat
Analis menilai pendekatan ini menunjukkan Washington sadar bahwa sanksi serentak ala invasi militer berisiko mengguncang stabilitas sistem keuangan global. Karena itu, tekanan dibangun bertahap agar negara-negara pembeli minyak dan komoditas Iran punya ruang mundur tanpa kehilangan muka.
- Lebih dari 60 target masuk daftar hitam pada fase awal operasi.
- 90 persen minyak ekspor Iran diserap Tiongkok, menjadikan Beijing penentu keberhasilan operasi.
- Sanksi sekunder mengancam pemutusan akses ke dolar AS, bank Amerika, dan pasar modal AS.
- Bessent menekankan "diplomasi senyap" sebagai langkah pertama sebelum "palu" dijatuhkan.
Ke depan, sorotan dunia akan tertuju pada respons Teheran dan Beijing. Jika aliran minyak Iran ke Tiongkok terganggu oleh tekanan sanksi sekunder, sumber devisa utama rezim Ayatollah dapat menyempit drastis. Namun jika Tiongkok bertahan, operasi Economic Outcast berisiko berubah menjadi ultimatum panjang lain yang berlarut-larut, seperti catatan sejumlah pengamat kebijakan luar negeri.
[SOCIAL_TWEET]: Trump luncurkan "D-Day ekonomi" untuk Iran! 60+ target masuk daftar hitam Treasury, tapi tanpa guncangan instan. Kini semua mata tertuju ke Tiongkok penyuplai 90% minyak Iran. Apakah Beijing akan tunduk? #Iran #Trump #SanksiEkonomi[SOCIAL_TG]: 🔴 Trump Luncurkan Operasi Economic Outcast ke Iran\n\n➡️ 60+ target masuk daftar hitam Treasury AS\n➡️ Sanksi sekunder diperluas ke mitra dagang Iran\n➡️ Tiongkok (90% pembeli minyak Iran) jadi ujian utama\n➡️ Bessent: "Tidak ada yang di atas aturan"\n\nDetail lengkap di Beritaseputar.com 📰
Comments (0)