Aug 26, 2026
Hukum

Ekonomi Iran Merangkak Menuju Kolaps di Bawah Tekanan Trump

Tekanan ekonomi Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Teheran terus meningkat tajam lebih dari enam bulan sejak perang Iran pecah. Washington kini

Ekonomi Iran Merangkak Menuju Kolaps di Bawah Tekanan Trump

Tekanan ekonomi Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Teheran terus meningkat tajam lebih dari enam bulan sejak perang Iran pecah. Washington kini mengerahkan hampir seluruh instrumen finansial yang dimilikinya untuk melumpuhkan perekonomian Iran dan memaksa para pemimpinnya tunduk tanpa harus melanjutkan operasi militer skala penuh.

Kampanye ini menjadi ujian besar bagi kedua belah pihak: seberapa jauh rasa sakit ekonomi yang sanggup ditanggung Iran sebelum para pemimpinnya akhirnya menyerah. Hingga saat ini, Teheran belum menunjukkan satu pun tanda kekalahan, meskipun fondasi ekonominya terus terkikis dari bulan ke bulan.

"D-Day Ekonomi" Digemakan Trump

Minggu lalu, Trump mendeklarasikan bahwa Iran akan menghadapi apa yang ia sebut sebagai "D-Day ekonomi" di tengah perang yang masih berkecamuk. Sang presiden juga menegaskan berulang kali bahwa ekonomi Iran sedang berada dalam kondisi yang menurutnya "benar-benar kolaps."

Langkah konkret menyusul pada hari Senin. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memaparkan sebuah rencana komprehensif untuk melumpuhkan ekonomi Iran—paket tekanan finansial yang ia klaim sebagai "ofensif keuangan tunggal terbesar yang pernah ada." Rencana itu antara lain menyasar penerapan sanksi sekuder bagi negara, bank, dan perusahaan yang masih berani bertransaksi dengan Teheran.

"Ini adalah ofensif keuangan tunggal terbesar yang pernah ada," klaim Scott Bessent dalam pengumumannya.

Sumber Pendapatan Iran Menyusut Drastis

Sebelum perang, Iran meraih pendapatan yang sangat signifikan dari ekspor minyak yang diangkut melintasi Selat Hormuz—jalur arteri energi dunia yang menjadi paru-paru perdagangan Teheran. Namun sumber pemasukan utama itu dilukai parah oleh blokade Amerika Serikat yang mulai berlaku sejak April lalu.

Akibatnya, Iran kini terpaksa bertumpu pada sumber-sumber alternatif untuk membiayai upaya perangnya, di antaranya:

  • Pajak domestik yang ditarik lebih agresif dari warga negara dan pelaku usaha di dalam negeri;
  • Ekspor non-minyak yang masih dapat berjalan meski nilainya jauh lebih kecil dibanding sektor migas;
  • Cadangan pendapatan minyak pra-perang yang masih tersimpan dan terus menipis seiring berjalannya waktu.

Model pembiayaan seperti ini sulit berkelanjutan. Pajak yang menekan rakyat sendiri berpotensi memicun ketidakpuasan sosial, sementara cadangan lama pasti ada batasnya jika perang berlarut-larut.

Elite Iran Terbelah: Bertahan atau Berdamai?

Meskipun rezim di Teheran belum menunjukkan gejala menyerah, sejumlah pejabat Iran telah mengusulkan agar negara mereka segera mengupayakan penghentian perang. Alasannya sederhana namun menyakitkan: alih-alih mencoba bertahan menghadapi beban ekonomi berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ke depan, lebih baik menegosiasikan jalan keluar sekarang.

Kondisi ini memperlihatkan adanya keterbelahan internal di kalangan elite Teheran. Satu kubu ingin bertahan demi harga diri nasional; kubu lainnya khawatir perekonomian hancur terlebih dahulu sebelum garis pertahanan militer runtuh.

Waspada: Iran Bisa Melampiaskan Lewat Jalur Militer

Sejumlah ahli memperkirakan Iran justru berpotensi melampiaskan kemarahannya secara militer sebelum akhirnya mengalah. Logikanya, isolasi ekonomi total kerap mendorong negara yang terdesak mengambil risiko yang jauh lebih besar.

"Hanya karena AS memutuskan menjeda operasi militernya yang skala penuh, bukan berarti Iran akan mengikuti langkah serupa," kata Chris Kennedy, pimpinan urusan statecraft ekonomi di Bloomberg Economics.

Peringatan Kennedy menyoroti risiko eskalasi baru di kawasan Teluk. Ketika ruang ekonominya semakin sempit, Iran berpotensi membalas dengan menyasar kapal dagang, instalasi energi, ataupun kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan—a skenario yang bisa menyeret dunia ke krisis energi baru.

Poin Kunci yang Perlu Dicermati

  • Efektivitas sanksi sekunder: seberapa patuh negara-negara pembeli minyak Iran menghadapi ancaman Washington;
  • Ketahanan fiskal Teheran: berapa lama pajak domestik dan cadangan pra-perang mampu membiayai perang;
  • Dinamika internal Iran: besarnya pengaruh kubu yang mendorong perdamaian dalam struktur kekuasaan;
  • Risiko eskalasi militer: kemungkinan Iran menyasar kepentingan strategis AS dan sekutunya di Teluk.

Bagi Washington, seluruh strategi ini adalah taruhan besar bahwa keputusan strategis Iran pada akhirnya ditentukan oleh dompet, bukan senjata. Bagi Teheran, yang dipertaruhkan bukan sekadar perekonomian, melainkan daya tahan negara itu sendiri di tengah perang yang belum tampak ujungnya. Dunia kini hanya bisa menunggu: siapa yang lebih dulu kehabisan napas—ekonomi Iran, atau kesabaran Gedung Putih.

[SOCIAL_TWEET]: Ekonomi Iran makin 'layu' di bawah tekanan Trump! Dari blokade Selat Hormuz sampai "ofensif keuangan terbesar" ala Bessent—berapa lama Teheran sanggup bertahan? Analisis lengkap di Beritaseputar.com #Iran #Trump #SanksiEkonomi[SOCIAL_TG]: 🔴 EKONOMI IRAN DI UJUNG TANDUK — Trump umumkan "D-Day ekonomi" di tengah perang. Paket sanksi Bessent menyasar siapa pun yang berbisnis dengan Teheran. Blokade AS sejak April melukai parah pendapatan minyak Iran. Kubu dalam pemerintahan Iran mulai desak perdamaian, namun para ahli memperingatkan: Iran bisa menyerang balik secara militer sebelum menyerah. Detail lengkap di Beritaseputar.com 👉

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User