Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

TPA Jatiwaringin — Pemadaman Hari Kesembilan, Titik Api Tersisa 30 Persen

Aroma sangit yang bercampur asap masih menusuk hidung siapa pun yang melintas di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupa

Jul 08, 2026 - 15:52
0 0

Aroma sangit yang bercampur asap masih menusuk hidung siapa pun yang melintas di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Rabu (8/7/2026) pagi, embusan angin justru membuat pendaran api di balik tumpukan sampah tampak lebih galak sejenak, lalu kembali meredup. Ini sudah hari kesembilan para petugas berjibaku dengan si jago merah yang tak kunjung menyerah. Namun, secercah asa mulai merekah: titik api kini tersisa sekitar 30 persen dari total area yang awalnya ludes dilalap.

Di kejauhan, tampak lima unit mobil pemadam masih antre mengisi tangki air dari sumber terdekat. Para petugas bergantian menyemprotkan air ke gundukan sampah yang masih membara. Wajah mereka lelah, baju seragam belepotan jelaga, tapi langkah kaki tetap mantap. Setiap kali satu titik padam, sorakan kecil menyambut—lalu mereka segera beralih ke titik berikutnya.

Detik-Detik Genting di Tengah Kepungan Asap

Saban hari, para pemadam ini harus bertarung bukan hanya dengan api, melainkan juga asap pekat yang terus bergerak liar mengikuti arah angin. Beberapa warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan TPA mulai mengeluhkan gangguan pernapasan. Anak-anak kecil dibawa mengungsi ke rumah saudara yang lebih aman. Di posko kesehatan darurat, seorang ibu paruh baya, Sari (52), duduk dengan masker masih menempel di wajahnya.

“Malam pertama api muncul, saya pikir biasa saja. Tapi paginya, asap sudah masuk ke kamar. Cucu saya yang baru tiga tahun batuk-batuk terus. Ini sudah sembilan hari kami tidur di rumah saudara. Tapi saya lihat petugas di sana tidak pernah berhenti. Mereka itu pahlawan,”

Ucapan Bu Sari terbata-bata, matanya menerawang. Imunitas warganya mulai diuji. Puskesmas setempat mencatat peningkatan pasien dengan keluhan infeksi saluran pernapasan atas hingga 40 persen dalam sepekan terakhir. Pemerintah desa pun bergerak cepat membagikan masker N95 dan membuka tempat istirahat sementara bagi keluarga rentan.

Wajah-Wajah di Balik Selang Air

Di balik derasnya semprotan air, ada kisah-kisah kecil yang menyentuh. Ahmad (35), seorang petugas pemadam dari BPBD Kabupaten Tangerang, sudah delapan hari tidak pulang ke rumah. Istrinya mengirim foto anak bungsu mereka yang baru belajar berjalan lewat ponsel. Ahmad hanya bisa menatap layar, lalu kembali memanggul selang.

“Saya rindu, tapi di sini juga banyak keluarga yang butuh bantuan. Kalau api ini belum mati total, saya tidak tenang. Alhamdulillah, sekarang sudah tinggal 30 persen. Dulu awal-awal kami lihat api mengamuk, rasanya seperti tidak ada habisnya. Tapi sekarang titik-titik mulai padam. Itu yang bikin kami semangat,”

Rekan satu timnya, Mulyadi (29), menyambung, “Kami kerja shift, kadang istirahat cuma dua jam. Makan pun seringnya di dekat truk tangki. Tapi lihat warga yang masih menyemangati, kami lupa capek.”

Sistem pemadaman dilakukan dengan pola sektor: area kebakaran dibagi menjadi lima zona. Masing-masing zona diawasi dua regu. Ketika satu zona dinyatakan aman, sumber daya langsung digeser ke titik lain. Strategi ini, menurut Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kabupaten Tangerang, mempercepat penyisiran dan mencegah api kembali menyala dari bara tersembunyi.

Asa di Balik Sisa 30 Persen

Hujan buatan sempat diwacanakan, tetapi kendala cuaca membuat operasi itu belum bisa dilakukan. Meski begitu, optimisme mulai tumbuh. Tersisanya 30 persen titik api bukan hanya angka; ia adalah wujud dari ratusan jam kerja tanpa lelah, keringat yang menetes di balik pelindung wajah, dan doa-doa yang dipanjatkan oleh warga di pengungsian.

Perjalanan masih panjang. Meski titik api terus menyusut, ancaman baru mengintai: tumpukan sampah yang terbakar bisa memicu longsoran material. Petugas dengan hati-hati memantau struktur gundukan agar tidak runtuh. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup mulai menyusun rencana pemulihan area untuk mencegah kejadian serupa terulang—dari sistem pengelolaan gas metana hingga penataan zona pembuangan yang lebih ketat.

Bagi Ahmad dan kawan-kawannya, pekerjaan ini belum selesai sampai titik api terakhir benar-benar mati. “Kami ingin pulang dengan kepala tegak,” katanya lirih. Ribuan rumah akhirnya bisa bernapas lega, tetapi kenangan akan asap pekat yang sembilan hari menyelimuti pagi mereka akan butuh waktu lebih lama untuk hilang.

Di sisa api 30 persen itu, tertinggal sekaligus secercah harapan: bahwa luka ekologis ini, meski perlahan, sedang dalam perawatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User