Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Tokyo — Raymond/Joaquin Bidik Gelar Super 750 Perdana di Japan Open

Di sebuah sudut senyap pelatnas bulu tangkis di Cipayung, dua sosok muda tengah mengayun raket lebih lama dari biasanya. Bukan karena mereka kurang jam ter

Jul 09, 2026 - 21:39
0 0

Di sebuah sudut senyap pelatnas bulu tangkis di Cipayung, dua sosok muda tengah mengayun raket lebih lama dari biasanya. Bukan karena mereka kurang jam terbang, melainkan karena ada asa besar yang menggantung di depan mata: Japan Open 2026, turnamen Super 750 yang belum pernah mereka taklukkan. Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin, pasangan ganda putra Indonesia, pekan depan akan terbang ke Tokyo dengan satu misi sederhana namun penuh arti — merebut gelar Super 750 pertama mereka.

Bagi sebagian orang, Japan Open hanyalah salah satu dari banyak turnamen dalam kalender BWF. Namun bagi pasangan yang akrab disapa "RayJo" ini, turnamen itu adalah lebih dari sekadar angka poin dan hadiah uang. Ia adalah janji yang mereka buat satu sama lain di awal tahun ini, setelah tersingkir di babak perempat final Japan Open edisi sebelumnya.

Dari Ruang Ganti ke Lapangan: Sebuah Momen yang Mengubah Segalanya

Raymond masih mengingat jelas malam itu di Osaka. Setelah kekalahan menyakitkan dari pasangan unggulan Jepang, ia duduk termenung di bangku ruang ganti, menutup wajah dengan handuk. Joaquin, yang biasanya paling ceria di antara mereka, hanya diam seribu bahasa. Tak ada suara, hanya desahan panjang yang menggantung di udara. Hingga akhirnya Joaquin memecah sunyi.

"Bang, kita mainnya udah bagus. Tapi aku ngerasa ada yang kurang. Bukan teknik, tapi di sini," ujar Joaquin lirih sambil menunjuk dadanya sendiri.

Kata-kata itu sederhana, namun menghujam dalam. Raymond mengangguk pelan. Sejak malam itu, mereka berdua sepakat: turnamen berikutnya bukan hanya soal menang atau kalah. Ini tentang bagaimana mereka ingin dikenang sebagai pasangan yang tak pernah berhenti berjuang.

Jalan Terjal Menuju Super 750

Perjalanan menuju Japan Open 2026 bukan tanpa hambatan. Awal tahun ini, Raymond sempat mengalami cedera pergelangan tangan yang membuat mereka harus absen di beberapa turnamen penting. Banyak yang meragukan apakah RayJo bisa kembali ke performa terbaik. Namun pasangan peringkat 12 dunia ini memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.

Di sela-sela terapi dan latihan ringan, Raymond dan Joaquin justru semakin sering berdiskusi tentang strategi. Mereka mempelajari ulang rekaman pertandingan lawan-lawan potensial, menganalisis kelemahan sendiri, dan memperkuat komunikasi di lapangan. Pelatih ganda putra nasional, Hendra Setiawan, mengaku kagum dengan kedewasaan dua anak didiknya itu.

"Mereka berdua ini unik. Kalau pasangan lain mungkin saling menyalahkan, tapi RayJo justru jadi makin kompak. Saya lihat ada chemistry yang langka di antara mereka," ungkap Hendra saat ditemui di sela latihan pekan ini.

Dukungan dari Balik Layar

Di luar sorotan kamera, ada cerita hangat yang jarang diketahui publik. Joaquin, yang berasal dari keluarga sederhana di Salatiga, selalu menyempatkan diri menelepon ibunya sebelum setiap pertandingan besar. Sang ibu, seorang penjahit rumahan, tak pernah absen mengirimkan doa meski tak bisa hadir langsung di stadion.

Sementara itu, Raymond yang merupakan anak yatim sejak usia 12 tahun, menyimpan foto almarhum ayahnya di dalam tas raket. "Saya selalu bawa, biar papa ikut nonton," katanya suatu kali dengan mata berkaca-kaca. Kini, setiap kali mereka melangkah ke lapangan, ada lebih banyak orang yang mereka bawa di hati — keluarga, pelatih, dan seluruh masyarakat Indonesia yang merindukan kejayaan bulu tangkis ganda putra.

Japan Open 2026: Lebih dari Sekadar Gelar

Minggu ini, RayJo akan berangkat ke Tokyo. Mereka tahu, lawan-lawan berat sudah menanti: mulai dari pasangan tuan rumah yang selalu tampil garang di depan publik sendiri, hingga ganda-ganda top dunia lainnya. Namun, jika ada satu hal yang telah mereka pelajari, itu adalah bahwa kemenangan sejati tidak selalu diukur dari medali. Ia diukur dari keberanian untuk bangkit setelah jatuh, dan dari ketulusan untuk terus berjuang bersama.

"Kami gak mau bebani diri dengan target yang muluk-muluk. Tapi satu hal yang pasti: kami mau tunjukkan versi terbaik dari diri kami sendiri. Gelar Super 750 itu bonus. Yang penting, kami berani," pungkas Raymond dengan senyum tipis.

Terlepas dari hasil akhir nanti, satu hal sudah pasti: Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga — kepercayaan satu sama lain dan keberanian untuk bermimpi lebih tinggi. Japan Open 2026 mungkin hanya sebuah turnamen, tapi bagi RayJo, ini adalah panggung di mana hati mereka akan berbicara paling lantang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User