Tekad Membara Sarwendah di Balik Senyapnya Ruang Sidang
Pagi itu, langit Jakarta Selatan sedikit mendung. Namun di sudut Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sorot mata seorang ibu justru memancarkan sinar yang berbeda. Sarwendah hadir dengan pakaian serba p...
Pagi itu, langit Jakarta Selatan sedikit mendung. Namun di sudut Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sorot mata seorang ibu justru memancarkan sinar yang berbeda. Sarwendah hadir dengan pakaian serba putih, menunduk sejenak di depan pintu ruang sidang, lalu menarik napas panjang. Rabu, 15 Juli, menjadi hari pertama ia menapaki lorong hukum yang mungkin akan menjadi salah satu momen paling emosional dalam hidupnya.
Bukan perkara biasa yang membawanya ke sini. Gugatan hak asuh anak yang diajukan oleh Ruben Onsu, mantan suaminya, memaksanya untuk berdiri di hadapan majelis hakim, berjuang demi buah hati yang selama ini menjadi alasan ia bertahan. Tak ada raut gentar di wajahnya, hanya keteguhan yang samar-samar terbaca dari tatapannya yang sesekali menerawang ke arah ruang tunggu.
Kehadiran yang Menyita Perhatian
Kehadiran Sarwendah tak hanya menarik perhatian awak media, tetapi juga para pengunjung sidang lainnya. Ia datang bukan sebagai pesohor, melainkan sebagai seorang ibu yang tengah berjuang. Saat dimintai keterangan sebelum sidang dimulai, ia hanya melempar senyum tipis. Matanya sempat berkaca-kaca, namun dengan cepat ia mengusap sudut matanya sendiri. “Ini bukan tentang siapa yang menang atau kalah,” bisiknya lirih kepada salah satu kerabat yang mendampingi. “Ini tentang yang terbaik untuk anak-anakku.”
Di dalam ruang sidang yang tak terlalu besar itu, Sarwendah duduk di barisan depan, tepat di belakang kuasa hukumnya. Ia sesekali menunduk membaca catatan kecil yang dibawanya, namun lebih sering menatap lurus ke depan—ke arah hakim yang memimpin jalannya persidangan. Suasana hening, hanya ada suara palu kecil dan gesekan kertas yang terdengar. Namun di dalam diam itu, ada badai perasaan yang tak mampu disembunyikan.
Perjuangan di Balik Layar
Bagi publik, mungkin kisah rumah tangga Sarwendah dan Ruben Onsu adalah cerita lama. Tapi di balik gemerlap dunia hiburan, ada perjalanan panjang yang tak pernah terekspos. Sarwendah menghabiskan malam-malamnya dengan doa dan perenungan. Beberapa kali ia terlihat hadir di konseling keluarga, berusaha mencari jalan terbaik untuk anak-anaknya tanpa harus mengorbankan salah satu pihak.
“Setiap malam sebelum tidur, saya selalu bicara dengan anak-anak, meski mereka belum paham situasi ini,” tuturnya suatu kali dalam percakapan dengan sahabat dekatnya. “Saya bilang, Bunda akan selalu ada, apa pun yang terjadi.” Kata-kata itu menjadi pegangannya. Ia tak ingin anak-anak merasa kehilangan, apalagi terbelah di antara dua orang yang mereka cintai.
Tim kuasa hukum Sarwendah menyatakan bahwa klien mereka sudah siap menghadapi setiap tahapan. “Beliau ini bermental baja, tapi hatinya sangat lembut. Kami lihat sendiri bagaimana beliau setiap kali pulang sidang langsung memeluk anak-anak dengan erat. Itulah sumber kekuatannya,” ujar salah satu pengacara di sela-sela jeda persidangan.
Antara Kekuatan dan Air Mata
Sidang perdana itu sejatinya hanyalah awal dari rangkaian proses yang panjang. Mediasi mungkin akan menjadi langkah pertama, dan Sarwendah berharap bisa menemukan titik temu tanpa harus mengorbankan ikatan batin dengan anak-anaknya. Namun jika harus berhadapan di meja hijau, ia sudah menyiapkan diri sepenuhnya. “All out,” begitu istilah yang ia ucapkan dengan suara bergetar, namun penuh keyakinan.
Di balik citranya yang anggun dan tersenyum di layar kaca, Sarwendah menyimpan air mata yang mungkin tak akan pernah ia tunjukkan ke publik. Sahabat-sahabatnya bercerita, ia lebih sering menangis dalam diam setelah anak-anaknya terlelap. Lalu keesokan harinya, ia kembali berdiri tegar, mengantar sekolah, menyiapkan bekal, seolah dunia baik-baik saja. “Dia perempuan yang luar biasa. Kekuatannya bukan karena ia tak sakit, tapi karena ia memilih bertahan untuk anak-anaknya,” kata seorang rekan yang enggan disebut namanya.
Proses hukum ini, kata Sarwendah dalam sebuah unggahan singkatnya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dihadapi. “Saya hanya bisa berikhtiar dan berdoa. Allah yang akan menentukan jalan terbaik,” tulisnya, disertai foto tiga malaikat kecilnya yang sedang tertidur lelap.
Di tengah riuhnya pemberitaan dan spekulasi yang beredar, Sarwendah memilih tetap teguh. Ia tak banyak bicara, ia lebih banyak bertindak. Setiap langkahnya di pengadilan adalah bukti cinta yang tak lekang oleh waktu. Bukan untuk balas dendam, bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih baik, melainkan untuk memastikan bahwa anak-anaknya tetap merasakan hangatnya pelukan seorang ibu—tanpa syarat, tanpa batas.
Dan ketika sidang usai hari itu, Sarwendah keluar dengan langkah perlahan. Wartawan mencoba menghampiri, namun ia hanya meletakkan tangan di dada dan membungkuk hormat. Di matanya, ada setitik harapan yang masih membara. Perjalanan ini belum selesai. Sepertinya, baru saja dimulai.
Baca juga:
Comments (0)