TABANAN, BALI — Gubernur Koster Dengar Denyut Sains Lokal Bersama Peneliti BRIN

Langit Tabanan masih menyisakan jejak gerimis ketika I Wayan Koster, Gubernur Bali, melangkah masuk ke ruang pertemuan sederhana di pinggiran kota, Senin (

Jul 10, 2026 - 21:27
0 0
TABANAN, BALI — Gubernur Koster Dengar Denyut Sains Lokal Bersama Peneliti BRIN

Langit Tabanan masih menyisakan jejak gerimis ketika I Wayan Koster, Gubernur Bali, melangkah masuk ke ruang pertemuan sederhana di pinggiran kota, Senin (7/8/2023). Bukan untuk seremoni penuh protokol, melainkan untuk duduk melingkar bersama puluhan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Di sana, dalam dialog yang cair, Koster seolah melepaskan jubah kebesarannya—ia mendengarkan, sesekali mencatat, lalu menyelipkan cerita masa kecilnya tentang subak dan tanah yang semakin sempit digerus vila.

Pertemuan itu bukan sekadar agenda birokrasi. Ia menjadi titik perjumpaan dua arus: sains modern yang berlabuh di lembaga riset, dan kearifan lokal Bali yang mengalir dalam darah pemimpinnya. Bagi Koster, mendengar langsung peneliti BRIN sama artinya dengan membuka jendela baru untuk menjawab persoalan-persoalan akut: alih fungsi lahan, krisis air, hingga regenerasi petani muda.

Antara Data dan Tembang Padi

Ni Luh Gede Sumartini, seorang peneliti ekologi pangan BRIN, membuka sesi dengan presentasi singkat. Data satelit menunjukkan, dalam 10 tahun terakhir, Bali kehilangan hampir 6.000 hektare sawah produktif. Namun ia tak cuma bicara angka. Perempuan 42 tahun itu tiba-tiba menyanyikan sepenggal geguritan Bali tentang Dewi Sri, dewi padi, yang membuat ruangan berhenti sejenak.

“Sains bisa menghitung seberapa cepat kita kehilangan sawah, tapi hanya rasa yang bisa menjelaskan mengapa kehilangan itu menyakitkan. Saya sengaja melantunkan tembang tadi, Pak Gubernur, karena di balik data ada petani, ada ritual, ada leluhur yang menangis,” ucap Sumartini, suaranya bergetar.

Koster mengangguk pelan. Ia lalu bercerita tentang masa kecilnya di Buleleng, bagaimana ia biasa berlari di pematang sawah, menangkap capung, dan mendengar suara lesung di sore hari. Kenangan yang kini, katanya, nyaris tak bisa diwariskan ke anak-anak Bali.

“Setiap kali saya menandatangani izin pembangunan hotel baru, ada bagian hati yang teriris. Tapi saya juga gubernur, saya harus menyeimbangkan—antara pembangunan ekonomi dan menjaga nafas Bali. Dialog seperti ini memberi saya amunisi bahwa pariwisata tidak boleh membunuh akar kita sendiri,” kata Koster, matanya menyapu seluruh ruang.

Solusi dari Lumbung Riset

Dialog yang awalnya dijadwalkan dua jam itu molor hingga tiga jam. Para peneliti BRIN bergantian menawarkan solusi berbasis riset. I Ketut Budiartha, peneliti sumber daya air, memaparkan teknologi sumur imbuhan untuk mengatasi krisis air di kawasan pariwisata selatan. Sementara itu, Putu Eka Widyastuti membeberkan hasil risetnya tentang varietas padi lokal Bali yang tahan salinitas—cocok ditanam di lahan sawah yang mulai terintrusi air laut.

  • Kehilangan sawah: 6.000 hektare dalam 10 tahun terakhir
  • Solusi yang diusulkan: sumur imbuhan, padi varietas lokal tahan salinitas, agrowisata edukasi
  • Fokus dialog: menyelaraskan sains, kearifan lokal, dan kebijakan pembangunan

Namun, yang paling menohok adalah usulan sederhana dari Wayan Sutama, peneliti sosial-budaya BRIN. Ia mengusulkan agar setiap proyek infrastruktur di Bali wajib menyertakan analisis dampak budaya, tidak sekadar AMDAL lingkungan. “Limbah bisa diolah, tapi luka batin masyarakat adat tidak bisa dikalkulasi dengan persentase,” katanya.

“Saya ingin BRIN dan Pemprov Bali membuat semacam laboratorium hidup. Di sana sains, ritual, dan kebijakan bertemu di hamparan sawah nyata. Bukan sekadar proyek percontohan, tapi napas baru bagi subak yang mulai limbung,” ujar Koster, disambut tepuk tangan.

Harapan yang Tak Boleh Berhenti di Meja

Menjelang senja, dialog itu ditutup dengan janji konkret. Koster berkomitmen akan mengintegrasikan hasil riset BRIN ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, khususnya terkait perlindungan lahan pangan berkelanjutan. Ia juga akan menerbitkan Peraturan Gubernur yang mewajibkan setiap investor menyisihkan dana untuk konservasi subak.

Namun, di luar itu semua, yang paling membekas adalah percakapan kecil seusai acara. Seorang peneliti muda, I Made Arya, memberanikan diri menyodorkan catatan tangan. Di dalamnya, ia menggambar desa masa depan: kombinasi antara wantilan (balai adat) dan laboratorium mini. Koster membaca, lalu menyelipkan kertas itu ke sakunya.

“Saya akan simpan ini. Bukan sebagai oleh-oleh, tapi sebagai PR yang harus saya jawab sebelum masa jabatan saya habis,” bisik Koster. Arya hanya bisa tersenyum, matanya berkaca-kaca.

Pertemuan Tabanan itu hanyalah satu dari sekian banyak janji temu pejabat dengan peneliti. Namun, bagi mereka yang hadir, ada yang berbeda. Ada rasa bahwa sains dan tradisi bisa berjalan seiring, bahwa angka dan air mata bisa duduk semeja. Dan—yang lebih penting—ada seorang Gubernur yang masih sudi mencatat perbincangan dengan kertas bekas, seperti mahasiswa tua yang takut kehilangan pelajaran penting.

Rekap Cepat: Apa yang Dibahas?

 

[SOCIAL_TWEET]: “Sains bisa menghitung seberapa cepat kita kehilangan sawah, tapi hanya rasa yang bisa menjelaskan mengapa kehilangan itu menyakitkan.” Gubernur Bali I Wayan Koster dan peneliti BRIN duduk semeja, mencari jalan tengah antara data, ritual, dan air mata petani. #BaliLestari #RisetUntukRakyat #Subak [SOCIAL_FB]: Sawah-sawah Bali menangis dalam diam, Gubernur Koster memilih mendengar langsung. Di Tabanan, dialog peneliti BRIN jadi ruang jujur tentang sains, tradisi, dan masa depan subak yang limbung. Baca cerita selengkapnya. [SOCIAL_TG]: 🌾 Gubernur Bali dengar nyanyi Dewi Sri dari peneliti BRIN, bahas sawah hilang 6.000 ha. Sains dan air mata petani duduk semeja. Selengkapnya di sini. [SOCIAL_THREADS]: Gubernur Koster tiba-tiba jadi mahasiswa tua di kelas penuh peneliti. Bawa pulang catatan tangan, titip janji soal subak yang mulai limbung. Baca vibes-nya di sini. [TAGS]: I Wayan Koster, BRIN, subak, Bali, pelestarian sawah

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User