Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

SUZHOU — Pemasok Baterai Litium Tiongkok Umumkan Kenaikan Harga Signifikan

Suara gemerisik kertas nota di atas meja kerja Bambang, pemilik bengkel konversi motor listrik “E-Moto” di Bandung, pagi itu terdengar lebih berat dari bia

Jul 09, 2026 - 00:52
0 0
SUZHOU — Pemasok Baterai Litium Tiongkok Umumkan Kenaikan Harga Signifikan

Suara gemerisik kertas nota di atas meja kerja Bambang, pemilik bengkel konversi motor listrik “E-Moto” di Bandung, pagi itu terdengar lebih berat dari biasanya. Selembar surel dari pemasok sel baterai litium di Tiongkok telah tiba—mengabarkan bahwa harga bahan baku akan naik hingga 22% mulai kuartal depan. Pria 43 tahun itu menatap layar komputernya, lalu menatap tiga unit motor listrik yang sedang dalam proses konversi di sudut bengkel. “Saya seperti terjepit di antara dua batu besar,” keluhnya, sembari menyeka keringat. “Kalau saya naikkan harga jual, pelanggan pasti lari ke bengkel lain yang masih punya stok lama. Tapi kalau saya tanggung kenaikannya sendiri, modal bisa habis dalam dua bulan.”

Bambang bukan sendirian. Selama tiga tahun terakhir, ia telah mengonversi lebih dari 150 sepeda motor konvensional menjadi listrik, sebagian besar untuk usaha ojek daring dan kurir. Harga satu paket baterai litium yang ia pesan rutin adalah sekitar Rp5,2 juta. Dengan lonjakan itu, biaya per unit bisa melonjak menjadi Rp6,3 juta. “Padahal pelanggan saya kebanyakan ojol, Pak. Mereka menabung berbulan-bulan hanya untuk ganti baterai. Kalau harganya naik lagi, bisa-bisa mereka balik lagi ke bensin.” Suaranya lirih, menyiratkan kegalauan sosial yang lebih dalam—bahwa lonjakan harga material baterai kini bukan hanya soal angka, melainkan soal napas ribuan pekerja informal di sektor transportasi bersih.

Kenaikan harga yang diumumkan oleh sejumlah pemasok bahan baku litium di Tiongkok ini terjadi di tengah permintaan global yang terus membara. Data dari asosiasi industri menunjukkan, dalam dua bulan pertama tahun 2025 saja, harga litium karbonat di pasar spot sudah melonjak lebih dari 18%, sementara nikel sulfat yang juga menjadi komponen penting katoda baterai naik 14%. Penyebabnya multifaktor: pemangkasan produksi di tambang-tambang Sichuan akibat kebijakan lingkungan yang lebih ketat, ditambah dengan efek domino dari restrukturisasi rantai pasok pasca-konflik geopolitik. Namun bagi Bambang dan ribuan bengkel konversi serupa di Indonesia, angka-angka itu tak ubahnya lonceng kematian bagi margin keuntungan yang sudah setipis kulit bawang.

Efek Domino di Lini Bawah: Antara Harga, Kepercayaan, dan Target Emisi

Di balik pusaran harga komoditas global, dampak paling getir justru dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, terdapat lebih dari 1.200 bengkel konversi yang terdaftar di Indonesia, dengan serapan tenaga kerja langsung mencapai hampir 8.000 orang. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan lindung nilai (hedging) atas fluktuasi bahan baku seperti perusahaan besar. “Krisis ini sebenarnya peluang untuk menata ulang kemandirian bahan baku baterai nasional,” ujar Dr. Ratna Dewi, peneliti independen rantai pasok kendaraan listrik dari Institut Teknologi Bandung. “Jika Indonesia hanya mengandalkan impor sel dan prekursor dari Tiongkok, kita akan terus rentan terhadap guncangan harga global. Hilirisasi nikel dan litium domestik harus dipercepat, bukan hanya di atas kertas.”

Pernyataan Ratna merujuk pada pabrik pemurnian nikel di Morowali dan proyek baterai di Karawang yang dikembangkan oleh konsorsium BUMN. Namun, menurutnya, waktu adalah musuh utama: “Kapasitas hilir kita baru akan optimal pada 2027. Sementara lonjakan harga ini terjadi sekarang.” Di sisi lain, target pemerintah untuk memiliki 2 juta kendaraan listrik roda dua di jalan pada 2025 dan pengurangan emisi sebesar 29% pada 2030 kini terganjal oleh kenyataan pahit: kendaraan listrik menjadi semakin mahal untuk diproduksi dan dibeli.

Salah satu pelanggan Bambang, Dandi (29), seorang pengemudi ojol di Bandung, adalah saksi hidup perubahan tersebut. Ia membeli motor listrik konversi tahun lalu dengan mencicil selama 12 bulan. “Motor saya sekarang jarak tempuhnya mulai berkurang. Baterainya sudah dua tahun, Pak. Tadinya saya mau ganti tahun ini, tapi kalau harga baru bisa Rp6 juta ke atas, saya mundur dulu. Mending isi bensin lagi saja,” tuturnya saat ditemui di pangkalan ojek di daerah Kiaracondong. Keputusan Dandi—yang terpaksa kembali ke bahan bakar fosil—adalah cerminan paradoks besar: mahalnya komponen baterai berpotensi mengikis adopsi kendaraan listrik di level akar rumput.

Komponen BateraiHarga Rata-rata Des 2024 (USD/ton)Harga Rata-rata Mar 2025 (USD/ton)Kenaikan (%)
Litium Karbonat (baterai LFP)14.50017.400+20%
Litium Hidroksida (NMC)19.20023.040+20%
Nikel Sulfat16.80019.150+14%
Kobalt Sulfat32.00034.880+9%

Tabel di atas menunjukkan skala kenaikan harga pada material inti yang dipasok dari Tiongkok ke pasar global. Meskipun kobalt hanya naik 9%, kenaikan dua digit pada litium dan nikel sudah cukup untuk menekan profitabilitas perakit baterai skala menengah. Bagi konsumen akhir, ini berarti harga paket baterai motor listrik bisa naik antara Rp800.000 hingga Rp1,5 juta per unit.

Kembali ke bengkel Bambang, ia kini mulai menerapkan strategi kreatif: menawarkan program tukar tambah baterai bekas, serta mengedukasi pelanggan tentang perawatan baterai agar masa pakai lebih panjang. “Saya harus jujur, ini saat yang sulit. Tapi daripada tutup, lebih baik saya ajak pelanggan berbagi beban,” ujarnya. Di balik senyum lelahnya, ada optimisme kecil: bahwa gelombang kenaikan ini justru bisa mendorong inovasi lokal, seperti pengolahan ulang baterai bekas (second life) yang mulai dirintis oleh komunitas teknik di kampus-kampus negeri. Sebab di tengah badai harga, seringkali muncul pelaut-pelaut tangguh yang mampu membaca arah angin perubahan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User