Setiabudi — Mural Betawi Semarakkan Gang Rayakan Lima Abad Jakarta
Pagi itu, sinar mentari Jakarta menyelinap di antara gedung-gedung tinggi, tetapi di sebuah gang kecil di Setiabudi Barat, Jakarta Selatan, cahaya itu seol
Pagi itu, sinar mentari Jakarta menyelinap di antara gedung-gedung tinggi, tetapi di sebuah gang kecil di Setiabudi Barat, Jakarta Selatan, cahaya itu seolah berhenti dan memilih untuk menari di atas warna-warni. Dinding-dinding yang selama ini hanya berbicara tentang waktu dan lumut, kini bertutur tentang ondel-ondel, tanjidor, dan perempuan berkebaya yang menawarkan senyum. Bukan di galeri, bukan di ruang pamer, melainkan di gang selebar dua rentangan tangan inilah sebuah perayaan lima abad Jakarta dimulai, lewat goresan kuas yang basah oleh rasa.
Mural bertemakan budaya Betawi itu menghiasi sepanjang dinding gang, menjadikannya kanvas terbuka yang menyedot perhatian siapa pun yang melintas. Total panjang mural mencapai hampir 50 meter, membentang dari mulut gang hingga tikungan terakhir tempat ibu-ibu biasa menjemur kerupuk. Ini adalah hadiah warga untuk kota yang mereka cintai, yang Juni ini genap berusia 500 tahun.
Goresan yang Menghidupkan Kenangan
Di sudut paling teduh, seorang lelaki paruh baya dengan tangan penuh cat menatap karyanya dengan mata berbinar. Ia adalah Bahrudin, seniman jalanan yang tumbuh besar di gang itu sendiri. Bersama tiga pemuda lainnya, ia menghabiskan dua pekan untuk mengubah dinding kusam menjadi potongan museum hidup.
“Saya tidak ingin sekadar menggambar cantik. Saya ingin orang yang lewat merasa disapa oleh sejarahnya sendiri. Setiap kali saya menggambar ondel-ondel, saya ingat almarhum ayah yang dulu selalu menggendong saya di pawai,”
ujar Bahrudin, suaranya sedikit bergetar menahan emosi. Ia menambahkan bahwa memilih motif tanjidor dan lenong bukanlah kebetulan, melainkan cara untuk menagih janji pada masa kecilnya sendiri.
Gang Kecil, Memori yang Panjang
Di seberang mural tanjidor, seorang nenek bernama Mak Ipah duduk di kursi kayu reyot sambil sesekali menunjuk ke arah dinding. “Itu dulu hidup, bukan cuma gambar,” katanya lirih. Mak Ipah, yang telah menetap di gang itu sejak 1972, masih ingat betul bagaimana suara gambang kromong mengalun dari rumah ke rumah setiap malam pernikahan. Baginya, mural ini adalah mesin waktu yang membawanya kembali pada Jakarta yang ramah pada cerita dan teduh oleh pohon.
“Cucu saya yang lahir 2018, dia tidak kenal tanjidor. Sekarang, tiap pulang sekolah, dia tanya, ‘Nek, itu alat musik apa?’ Alhamdulillah, gang ini jadi guru yang sabar,”
kata Mak Ipah, matanya berkaca-kaca. Ia bahkan kini rajin menyapu area depan mural agar anak-anak betah bermain sambil belajar.
Lebih dari Sekadar Hiasan Dinding
Proyek mural ini tidak muncul dari program pemerintah atau sponsor besar, melainkan dari hasil gotong royong warga. Sekitar 20 kepala keluarga di gang tersebut mengumpulkan dana sukarela, mulai dari Rp50.000 hingga ratusan ribu rupiah, untuk membeli cat, kuas, dan menyediakan konsumsi bagi para pelukis. Ketua RT setempat, Junaedi, tak menyangka antusiasme warganya akan meledak seperti ini.
“Saya kira cuma Bapak-bapak yang peduli, ternyata emak-emak yang paling semangat. Ada yang bawa es teh tiap sore, ada yang masak nasi uduk untuk para pelukis. Mural ini jadi alasan kami berkumpul lagi setelah lama sibuk sendiri-sendiri,”
ujar Junaedi di sela aktivitasnya memasang lampu sorot kecil agar mural tetap bisa dinikmati di malam hari.
Kini, gang itu bukan lagi sekadar jalan pintas. Ia menjadi ruang bercerita, tempat anak-anak mengenal akar mereka, sekaligus latar swafoto yang ramah. Senja di gang itu seperti bergerak lebih lambat, seolah memberi waktu bagi setiap orang untuk berhenti sejenak dan mengingat: Jakarta pernah dimulai dari gang-gang semacam ini, penuh warna, penuh cerita, penuh cinta.
Saat malam jatuh, lampu sorot menyala, bayang-bayang ondel-ondel bergoyang pelan dimainkan angin. Di salah satu sudut, Bahrudin masih berdiri, memandangi karyanya. “Lima ratus tahun kota ini berdiri. Mudah-mudahan seribu tahun lagi, Jakarta masih ingat bahwa ia lahir dari gang-gang kecil yang warganya tidak pernah lupa mencintai.” Ia tersenyum, lalu berjalan pulang, membawa kaleng cat yang telah kosong tetapi hati yang penuh.
Comments (0)