Semangat Marissa Haque Hidup di Suara Lantang Bella dan Chiki

Di sudut ruang keluarga yang hangat, foto seorang perempuan berambut panjang dengan senyum teduh masih terpajang rapi. Di hadapannya, Ikang Fawzi terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca, bukan semata ka...

Jul 12, 2026 - 14:17
0 0
Semangat Marissa Haque Hidup di Suara Lantang Bella dan Chiki

Di sudut ruang keluarga yang hangat, foto seorang perempuan berambut panjang dengan senyum teduh masih terpajang rapi. Di hadapannya, Ikang Fawzi terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca, bukan semata karena duka yang belum sepenuhnya pergi, melainkan karena rasa bangga yang tiba-tiba memenuhi dada. Marissa Haque, istri tercintanya, telah tiada, namun nyala api yang ia bawa selama hidup—semangat membela yang lemah dan tertindas—kini berkobar dalam jiwa kedua putri mereka. Bella dan Chiki, dengan caranya masing-masing, menjelma menjadi cerminan sang ibu yang tak kenal lelah menyuarakan kebenaran.

Bukan perkara mudah bagi seorang ayah menyaksikan anak-anaknya tumbuh tanpa dekapan seorang ibu. Namun, Ikang kerap mengisahkan bahwa kepergian Marissa justru menanamkan benih keteguhan yang lebih dalam pada diri Bella dan Chiki. “Mereka enggak cuma mewarisi darahnya, tapi juga semangat juangnya,” ujar Ikang lirih, seolah sedang bercakap dengan angin. Momen mengharukan itu menjadi saksi bagaimana cinta seorang ibu tetap hidup meski raga tak lagi bersua.

Warisan Hati yang Tak Pernah Padam

Bella dan Chiki Fawzi bukanlah nama yang asing di telinga publik. Sejak kecil, mereka terbiasa melihat kedua orang tuanya turun ke jalan, berbicara di forum-forum kemanusiaan, dan mengulurkan tangan bagi mereka yang terpinggirkan. Marissa, yang semasa hidup dikenal sebagai aktivis tangguh, selalu berpesan bahwa keberanian untuk bersuara adalah bentuk kasih sayang tertinggi kepada sesama manusia. Pesan itu kini terpatri kuat dalam diri kedua putrinya.

Di balik layar, ada kisah sederhana yang jarang terungkap. Setiap kali selesai melakukan aksi solidaritas atau menyampaikan orasi, Bella kerap pulang dengan suara serak dan mata yang masih berbinar. Ia mengisahkan bagaimana ibunya dulu selalu berkata, “Kalau kamu melihat ketidakadilan, jangan diam. Diam itu membunuh hati nurani.” Kata-kata itu menjadi mantra yang mendorongnya terus melangkah.

“Saya melihat Marissa di mereka. Ketika Bella mulai berbicara, nada suaranya, sorot matanya, semua mengingatkan saya pada almarhumah,”
kata Ikang dengan suara bergetar.

Gema Suara dari Tanah Air untuk Gaza

Beberapa waktu terakhir, nama Bella dan Chiki kian mencuat seiring dengan kiprah mereka menyuarakan pembelaan terhadap Palestina. Di tengah eskalasi konflik yang merenggut ribuan nyawa tak berdosa, dua perempuan muda ini memilih untuk tidak tinggal diam. Melalui berbagai kanal media sosial, forum diskusi, hingga aksi damai, mereka melontarkan kecaman terhadap kekerasan yang terjadi di Gaza. Bagi mereka, ini bukan sekadar isu politik; ini adalah panggilan kemanusiaan yang diwariskan sang ibu.

Ikang tak bisa menyembunyikan rasa bangga yang membuncah. “Saya sempat terkejut dengan keberanian mereka. Tapi kemudian saya sadar, ini memang jalan yang sudah digariskan. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang berani dan vokal, persis seperti yang saya dan ibunya harapkan,” ungkapnya. Ia menceritakan bagaimana Chiki, si bungsu yang biasanya pendiam, tiba-tiba tampil di depan ratusan peserta aksi dan menyampaikan pidato menggetarkan tentang pentingnya solidaritas global. Perjalanan mereka menemukan suara itu tidaklah instan. Ada proses panjang di mana duka karena kehilangan ibu justru menjadi bahan bakar bagi keberanian yang tak terduga.

Panggung Kehidupan dan Panggilan Nurani

Di luar sorotan media, Bella dan Chiki menjalani hidup sebagai perempuan muda yang penuh mimpi. Mereka juga berkarya di dunia seni, mengikuti jejak ayahnya. Namun, ada satu benang merah yang tak pernah putus: panggilan nurani untuk terus membela yang tertindas. Setiap kali ada kesempatan, kedua bersaudara ini selalu menyisipkan pesan perdamaian dalam setiap penampilan mereka. Panggung musik menjadi mimbar kedua untuk menyebarkan pesan kasih dan keadilan.

Ikang berulang kali menekankan bahwa ia hanya berperan sebagai pengingat. “Mereka yang bergerak sendiri. Saya cuma bilang, ‘jaga kesehatan, jangan lupa makan’. Selebihnya, biarkan hati mereka yang berbicara,” ujarnya sambil tersenyum. Dalam setiap langkah yang diambil Bella dan Chiki, ada doa dan restu dari sang ayah yang percaya bahwa menjadi berani adalah bentuk ibadah yang paling sederhana namun paling sulit dilakukan. Inspirasi yang mereka tebarkan tak ubahnya seperti air yang mengalir tenang namun mampu menghancurkan batu karang kebisuan dunia.

Kini, di tengah ingar bingar dunia yang kerap melupakan penderitaan, dua suara perempuan muda itu terus menyala. Mereka bukan sekadar anak seorang selebritas. Mereka adalah obor kecil yang membawa cahaya dari seorang ibu hebat bernama Marissa Haque. Dan bagi Ikang, melihat putrinya bangkit dan bersuara adalah bukti bahwa cinta sejati tak pernah benar-benar pergi. Ia menjelma menjadi aksi, menjadi air mata haru, menjadi suara lantang yang menggema jauh melampaui batas negeri.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User