Momen Hangat Liburan Ria Ricis dan Moana di Dubai

Di tengah hiruk-pikuk Bandara Internasional Dubai, sorot mata seorang bocah perempuan berbinar memandangi hamparan gedung pencakar langit dari balik jendela. Tangannya yang mungil menggenggam erat jem...

Jul 12, 2026 - 15:03
0 0
Momen Hangat Liburan Ria Ricis dan Moana di Dubai

Di tengah hiruk-pikuk Bandara Internasional Dubai, sorot mata seorang bocah perempuan berbinar memandangi hamparan gedung pencakar langit dari balik jendela. Tangannya yang mungil menggenggam erat jemari sang ibu, seolah tak ingin melepas walau sedetik. Dialah Moana, putri semata wayang Ria Ricis, yang untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di kota impian itu. Perjalanan ini bukan sekadar liburan biasa; ia adalah sebuah kanvas baru dalam lembaran kisah ibu dan anak yang kian mempererat benang-benang kasih.

Bagi Ricis, langkah ini terasa begitu monumental. Di sela-sela kesibukannya sebagai figur publik, ia menyadari bahwa waktu tak bisa diputar kembali. Setiap tawa, setiap tatapan penasaran Moana terhadap dunia, adalah harta yang tak ternilai harganya. Maka Dubai dipilih bukan karena kemegahannya, melainkan karena ia adalah ruang di mana keduanya bisa menjadi sepasang penjelajah tanpa beban.

Petualangan di Negeri Seribu Satu Malam

Langkah kecil Moana menyusuri pelataran Burj Khalifa yang menjulang angkuh. Di bawah naungan langit senja, Ricis berlutut menyamakan tinggi dengan putrinya, menunjuk ke arah puncak menara sambil berbisik, "Lihat, Nak, kita bisa mencapai apa pun setinggi itu." Kalimat sederhana itu bukanlah sekadar canda, melainkan benih impian yang ditanamkan seorang ibu dengan hati yang penuh harap. Moana mungkin belum sepenuhnya mengerti, namun sorot matanya merekam setiap kata seolah menyimpannya dalam kotak kenangan masa kecilnya.

Tak hanya menara tertinggi di dunia, mereka juga menyambangi akuarium raksasa yang memantulkan kerlap-kerlip air. Moana menempelkan telapak tangannya ke dinding kaca, terpukau oleh gerakan ikan pari yang melenggang anggun. Ricis berdiri di sampingnya, bukan sebagai artis dengan jutaan pengikut, tapi sebagai seorang ibu yang terpesona oleh rasa ingin tahu anaknya. Momen itu diabadikan bukan demi konten, melainkan demi mengingat bahwa kebahagiaan sejati seringkali bersembunyi di balik hal-hal yang paling jujur.

Ikatan Batin di Tengah Mewahnya Gurun

Di padang pasir yang membentang di pinggiran kota, perjalanan ini menemukan arsitektur emosinya yang paling dalam. Angin sore menyapu wajah mereka saat menaiki bukit pasir. Moana tertawa renyah setiap kali gundukan pasir membuat langkahnya goyah. Ricis, dengan tangan yang selalu siaga, menangkap tubuh mungil itu setiap kali hampir terjatuh. Dekapan itu adalah metafora paling nyata dari peran ibu: menjadi tempat kembali, menjadi rumah yang tak pernah berpindah.

Malamnya, di bawah bentangan bintang-bintang gurun, Ricis memangku Moana di depan api unggun kecil. Suara gemericik bara menjadi latar percakapan yang lebih banyak diisi bahasa hati ketimbang kata-kata. "Moana, suatu hari nanti kamu akan pergi lebih jauh dari sini, tapi ingat, ibu selalu di sini." Moana membalas dengan anggukan kecil, lalu tertidur di pelukan hangat yang tak tergantikan.

Lebih dari Sekadar Bingkai Foto

Liburan ini memang diwarnai hamparan kemewahan khas Dubai, namun sesungguhnya, inti dari setiap bingkai yang diabadikan adalah tentang dua jiwa yang saling belajar untuk saling memahami. Ricis, yang kerap menjalani hidup di bawah sorot lensa publik, memilih untuk membiarkan momen-momen ini hadir tanpa skenario. Tidak ada tuntutan untuk tampil paripurna. Yang ada hanyalah tawa spontan, keringat setelah berlarian, dan tatapan penuh arti yang tak perlu diterjemahkan.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa liburan tak melulu soal destinasi, melainkan tentang siapa yang menemani kita menikmati ketidaksempurnaan. Setiap foto yang diunggah di Instagram pribadi Ricis bukanlah pamer gaya hidup, melainkan surat terbuka bagi masa depan Moana, agar kelak ia tahu bahwa ibunya pernah begitu bersemangat memperlihatkan indahnya dunia kepadanya.

Kini, ketika kembali ke Jakarta, apa yang tertinggal bukan hanya suvenir atau foto-foto penuh warna. Ada benang kenangan yang dirajut dengan kasih sayang tulus, yang kelak akan menjadi bekal Moana menghadapi kehidupan. Bagi Ricis, Dubai adalah ruang untuk merayakan cinta dalam wujudnya yang paling sederhana: hadir, mendengar, dan memeluk. Dan itu semua, tak akan lekang oleh waktu.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User