Konflik di Yaman memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya setelah pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan besar-besaran terhadap kelompok Houthi. Pertempuran sengit kini berkobar di kawasan strategis Selat Bab el-Mandeb, jalur perairan yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia dan menjadi salah satu titik sempit pelayaran paling penting di dunia.
Kedua belah pihak sama-sama mengklaim meraih kemajuan di lapangan. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan pasukannya berhasil mendorong maju di sepanjang pesisir Laut Merah ke arah kota Mocha, sekaligum mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai "operasi ofensif strategis menuju Sanaa", kota yang selama ini menjadi ibu kota de facto gerakan Houthi.
Perebutan Selat Bab el-Mandeb Semakin Sengit
Selat Bab el-Mandeb menjadi rebutan utama dalam eskalasi terbaru ini. Pada September lalu, Houthi berhasil menguasai wilayah kunci di sekitar selat tersebut, langkah yang langsung mengguncang jalur pelayaran internasional. Nilai strategis selat itu kian melonjak akibat gangguan yang terjadi di Selat Hormuz akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga dunia kehilangan dua jalur perairan vital sekaligus.
"Kedua belah pihak menyadari bahwa siapa yang menguasai Bab el-Mandeb, dialah yang memegang kendali atas lalu lintas minyak dan barang dari Asia ke Eropa. Pertarungan di sini bukan sekadar soal wilayah, melainkan soal pengaruh regional,"
- Offensif utama: pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi menyerbu posisi Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
- Klaim wilayah: kedua pihak mengaku meraih kemajuan, termasuk dorongan ke arah Mocha dan Sanaa.
- ANCaman regional: intervensi militer dari Turki dan Pakistan mulai disiapkan di bawah kerangka yang dijuluki "NATO Muslim".
- Dampak pelayaran: selat strategis mengancam gangguan perdagangan global seperti yang terjadi di Selat Hormuz.
Turki dan Pakistan Siap Intervensi di Bawah "NATO Muslim"
Yang membuat situasi semakin rumit adalah munculnya rencana intervensi dari dua kekuatan regional lainnya. Turki dan Pakistan dilaporkan tengah mempersiapkan keterlibatan militer di Yaman dalam kerangka kerja sama pertahanan yang dijuluki media sebagai "NATO Muslim". Jika rencana itu terwujud, konflik Yaman berpotensi berubah dari perang saudara menjadi bentrokan kekuatan yang melibatkan sejumlah negara mayoritas Muslim di kawasan.
Arab Saudi, selama ini pendukung utama pemerintah Yaman, diprediksi akan memperkuat perannya dalam ofensif ini. Sementara dukungan Iran kepada Houthi membuat konflik ini semakin terbaca sebagai panggung persaingan kekuasaan Timur Tengah yang lebih besar, lengkap dengan kompetisi kepentingan antara Riyadh, Tehran, Ankara, dan Islamabad.
Dunia Mengkhawatirkan Krisis Pelayaran Global
Bagi dunia usaha dan pasar energi global, eskalasi di Bab el-Mandeb adalah kabar buruk. Selat ini dilalui sekitar sepuluh persen perdagangan dunia, termasuk jalur utama pengiriman minyak dari Teluk Persia menuju Eropa dan Amerika Utara. Gangguan serius di sana berpotensi menaikkan harga sewa kapal tanker, menghambat rantai pasok, bahkan memicu lonjakan harga energi.
Banyak analis memperingatkan bahwa perang di Yaman yang kini berkembang menjadi konflik regional sulit dihentikan dengan diplomasi biasa. Kehadiran aktor-aktor baru seperti Turki dan Pakistan justru menambah lapisan kompleksitas yang membuat gencatan senjata semakin sulit dicapai.
"Ini bukan lagi konflik domestik Yaman. Ini adalah pertarungan pengaruh yang melibatkan hampir seluruh kekuatan besar di Timur Tengah, dan dunia akan menanggung akibatnya lewat harga dan perdagangan,"
Apa Langkah Berikutnya?
Pertanyaan besar saat ini adalah apakah ofensif pasukan yang didukung Arab Saudi mampu merebut kembali Sanaa, atau justru memicu balasan keras dari Houthi beserta sekutunya. Sementara itu, persiapan intervensi "NATO Muslim" bisa menjadi penentu arah perang dalam beberapa pekan ke depan.
Yang pasti, dunia kembali menghadapi ancaman gangguan di jalur perairan strategis, tepat ketika ketegangan global sedang berada di titik panas. Negosiasi damai yang selama ini mandeg kini mendapat tekanan baru, sementara pertempuran di Bab el-Mandeb terus menentukan masa depan kawasan.
Comments (0)