Nama Wicknell Chivayo kembali mencuat ke permukaan, bukan karena kekayaannya yang gempar atau gaya hidup flamboyannya, melainkan karena kematian tragisnya dalam sebuah kecelakaan helikopter. Kepergian pria yang dikenal sebagai konglomerat kontroversial Zimbabwe ini seakan membuka kembali luka lama yang belum sepenuhnya sembuh di kawasan Afrika bagian selatan. Bukan hanya soal bisnis tambang dan utang piutang dengan pemerintah, tetapi juga soal jaringan gelap yang menghubungkan dirinya dengan masa lalu kelam Afrika Selatan.
Publik mungkin masih ingat bagaimana foto-foto Chivayo bersama Presiden Cyril Ramaphosa sempat membuat heboh awal tahun ini. Momen tersebut memicu gelombang kritik keras karena Chivayo disebut-sebut menjadi target penyelidikan pencucian uang di Afrika Selatan. Namun, ada lapisan cerita yang lebih dalam dan jarang dibahas: kaitan bisnis Chivayo dengan sosok yang pernah menjadi pusat kecurigaan peredaran Mandrax—obat terlarang yang menghancurkan generasi muda di kota-kota pelabuhan Afrika Selatan pada era 1990-an hingga 2000-an.
Jejak Bisnis yang Tak Pernah Usai
Dalam dunia bisnis yang penuh transaksi tanpa nama, hubungan antara Zimbabwe dan Afrika Selatan sering kali berjalan di jalur yang tidak terang. Chivayo, melalui sejumlah perusahaan cangkang dan investasi di sektor energi serta konstruksi, diduga memiliki kedekatan dengan figur-figur yang namanya pernah tercatat dalam arsip kepolisian sebagai pemasok bahan kimia prekursor Mandrax.
“Pola hubungan antara tokoh bisnis flamboyan dan jaringan peredaran narkoba di kawasan ini bukan hal baru. Yang baru adalah bagaimana mereka bisa duduk sejajar dengan kepala negara tanpa ada pertanyaan serius,” ujar seorang analis keamanan regional yang enggan disebut namanya.
Kematian Chivayo memang menghentikan segala proses hukum yang mungkin tengah berjalan. Tapi sejarah tidak bisa dikubur bersama jasadnya. Justru, peristiwa ini membuka ruang bagi publik untuk menuntut transparansi lebih besar dari pemerintah Afrika Selatan dan Zimbabwe mengenai siapa saja yang selama ini dilindungi oleh kekuasaan.
Mandrax, Ramaphosa, dan Simbol Perlawanan
Mandrax, atau methaqualone, adalah simbol kehancuran sosial yang tak bisa dilupakan. Pada puncaknya, obat ini merajalela di komunitas miskin di Cape Flats dan Durban. Peredarannya melibatkan jaringan lintas negara yang melibatkan pengusaha, pejabat bea cukai, hingga aparat keamanan. Ketika Chivayo muncul sebagai figur yang dekat dengan lingkaran kekuasaan, banyak pihak mulai bertanya: seberapa dalam sebenarnya keterlibatan jaringan lama itu dalam politik modern Afrika Selatan?
Foto bersama Ramaphosa bukan sekadar foto biasa. Itu adalah pengakuan simbolik bahwa batas antara pengusaha kontroversial dan kepala negara bisa begitu tipis. Dalam konteks ini, kematian Chivayo tidak menyelesaikan apa pun. Ia hanya memindahkan pertanyaan dari ruang sidang ke ruang publik, dari meja penyidik ke meja redaksi media.
Warisan yang Enggan Dihadapi
Zimbabwe dan Afrika Selatan sama-sama bergulat dengan masa lalu yang penuh bayang-bayang. Chivayo hanyalah salah satu wajah dari sistem yang membiarkan kekayaan dan kekuasaan berjalan tanpa akuntabilitas. Selama pola ini tidak berubah, akan selalu ada figur baru yang menggantikan peran lamanya.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi tentang siapa Wicknell Chivayo, melainkan tentang mengapa negara-negara di kawasan ini terus membiarkan hubungan gelap antara bisnis, narkoba, dan politik berjalan tanpa hukuman. Kematiannya adalah akhir dari satu bab, tetapi bukan akhir dari cerita.
Comments (0)